
"Berapa lama lagi kita harus menunggu," ucap Raihan kesal.
Tidak banyak orang yang bisa membuat Raihan kesal. Jika ada pun, mungkin bisa dihitung dengan jari kedua tangan. Dan Rama telah masuk ke dalam orang-orang yang berhasil membuatnya kesal.
Rama berkata pada Rian bahwa ia ingin menceritakan sesuatu hal yang penting. Mereka pun membuat janjian dan bertemu di salah satu kafe pukul 8 pagi. Namun, Rama sudah terlambat 1 jam penuh dari waktu yang dijanjikan. Sungguh, Raihan sangat ingin memukul orang itu sekarang.
"Katanya, dia sedang dalam perjalanan. 3 menit lagi sampai." Rian menghela nafas berat. Ia sebetulnya sama kesalnya dengan Raihan. Hanya saja ia tidak ingin terlalu menunjukkannya.
"Mari bahas yang lain dulu. Bagaimana hubunganmu dengan PeAce?" tanya Rian. Ia lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sasya. Kami berteman sekarang," sahut Raihan.
"Aku sudah menduganya. Pantas saja wajah Sasya tampak tak asing. Wait a minute. Kau bilang apa tadi? Berteman?" Rian bertanya sekali lagi memastikan pendengarannya baik-baik saja.
"Ya. Kami berteman," jawab Raihan lagi.
"Lelucon apa ini!? Kau ... dia ...," Rian merasa ada yang salah. Namun ia tidak menemukan kata yang cocok. "Bukankah kalian saling menyukai?" tanya Rian. Ia sekarang merasa kurang yakin dengan dugaannya.
"Mungkin dulu iya. Tapi sekarang, kurasa tidak. Lagi pula, aku sudah kapok dengan hal yang berbau cinta. Kau ingat 'kan aku terakhir kali menjalin hubungan asmara berakhir bagaimana? Apalagi aku sibuk mengerjakan misi, jadi kurasa tidak untuk saat ini," ujar Raihan memberikan jawaban.
Ia sudah yakin dengan keputusannya. Walaupun masih ada hal yang janggal dengan hatinya, tapi ia tahu hal itu bukan perasaan suka pada Sasya. Raihan yakin perasaannya pada Sasya saat ini hanyalah rasa bersalah dan penyesalan.
Rian menghela nafas berat. Tampak ia kurang puas dengan jawaban Raihan. Biarpun begitu, ia juga tak bisa menolak keputusan sahabatnya itu.
"Daripada membahas tentangku, lebih baik membahas tentangmu." Raihan melebarkan senyumnya. "Aku tidak mendengar kau pernah membahas Lucy lagi. Biar kutebak, dia hanya menganggapmu sebagai teman masa kecil yang tak bisa tergantikan dan terlupakan." Raihan menebak penuh semangat. Ia selalu menunggu saat-saat ini. Bukannya ia mendoakan hal buruk pada sahabatnya itu, tapi Raihan sudah menduga apa yang akan terjadi sebelumnya.
Rian tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar tebakan Raihan. Rian merasa de javu. Ia memang mendengar hal itu dari Lidya.
__ADS_1
"Persis seperti yang dikatakan Lidya. Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Rian penasaran. Raihan tertawa terbahak-bahak. Ia tahu tebakannya tidak akan meleset.
"Aku tahu," katanya sambil mengusap bulir air di pelupuk matanya, "aku pernah mendengar cerita cinta seperti ini sebelumnya. Karena itu aku bisa menebaknya." Raihan kembali tertawa. Cerita cinta Rian sungguh membuatnya tidak bisa berhenti tertawa.
"Siapa yang mengalami kejadian sama seperti diriku?" tanya Rian penasaran.
"Kedua orang tuaku. Awalnya ibuku menolak karena hanya menganggap ayahku teman masa kecil. Tapi karena ayahku berkorban dan hampir membahayakan hidupnya, hati ibuku tergerak. Makanya ceritanya jadi beda," ucap Raihan menjelaskan. Ia menjadi sedikit rindu dengan kedua orang tuanya sekarang.
"Tapi, aku melihat ada hal berbeda dari dirimu sekarang," ucap Raihan lagi sambil tersenyum penuh makna. Rian menghela nafas berat. Kali ini ia sudah kalah telak si hadapan Raihan.
"Aku sungguh tidak bisa menyembunyikan hal ini dari dirimu," kata Rian.
"Hehe. Seperti itulah. Aku sebenarnya ingin membahas ini sampai tuntas, tetapi orang yang kita tunggu telah sampai, " ucap Raihan sambil melirik ke arah pintu kafe.
Seseorang masuk dengan terburu-buru. Ia segera melangkah cepat menuju meja Raihan dan Rian lalu duduk di salah satu kursi. Ekspresinya sedikit buruk seolah informasi yang akan ia sampaikan begitu berbahaya.
"Mira dari Corps 7, aku bertemu dirinya," jawab Rama.
Raihan terdiam. Nama itu jelas tak asing di telinganya. Jika sungguh Rama bertemu dengan Mira, maka perempuan itu akan segera mencarinya. Seharusnya ini adalah kabar yang tidak buruk menurut Raihan.
"Dan tebak apa yang membuat kabar ini buruk! Dia mengetahui bahwa Yun adalah pengguna Job Special-Tier, Ice Witch," ujar Rama sambil memasang ekspresi miris.
"Apa? Bagaimana bisa dia tahu?" tanya Raihan dengan nada yang cukup tinggi. Jika Mira sungguh mengetahui Job yang dimiliki Yun, maka Guild Antariksa Aksara pasti akan kedatangan tamu dalam waktu dekat.
"Aku juga tidak tahu. Dia hanya bilang seseorang bernama Ruu atau Fuu yang memberitahunya," sahut Rama sambil meneguk teh milik Rian.
"Fuu? Itu adalah wakil Guild Light Crusader yang melarikan diri waktu itu. Aku tidak percaya ia berteman dengan Mira." Raihan menggigit ujung jempolnya. Ia tidak percaya keputusannya melepaskan Fuu berakibat fatal. Jika persoalan ini tidak diatasi secepatnya, Raihan takut Mira akan membuat beberapa keributan.
__ADS_1
"Sebentar. Aku tidak mengerti situasinya. Siapa Mira ini? Dan apa hubungannya dengan Yun?" tanya Rian kebingungan.
"Mira, adalah seorang perempuan dari Corps 7. Dia juga mantan pengguna Job Special-Tier Ice Witch," kata Raihan, "aku tidak tahu apa tujuannya. Namun jika tebakanku benar, ia akan mencari Yun."
"Buat apa? Dia 'kan tidak bisa mengambil Job itu kembali." Rian masih belum tahu apa yang dicemaskan kedua sahabatnya itu.
"Kau mungkin tidak tahu, tapi Job Ice Witch memiliki rahasia yang tidak diketahui banyak orang. Job ini diberikan sistem kepada pemain perempuan yang belum pernah mengutarakan perasaannya pada siapa pun. Kenapa sistem bisa tahu? VR Gear dapat melalukannya dengan melihat ingatan seseorang," ujar Rama menjelaskan.
"Tidak hanya itu. Aku juga diberi tahu oleh Mira jika Job yang Ice Witch dapat direbut sewaktu-waktu kalau mengetahui triknya. Sayangnya, ia tidak menjelaskan apa triknya kala itu," ucap Raihan.
"Lalu? Apa yang harus kita lakukan? Kami memiliki banyak anggota yang bisa melawan wanita itu," kata Rian enteng. Tak ada sedikit pun kecemasan terlihat di wajahnya.
"Kau tidak tahu. Bayangkan jika kau harus melawan Rey dengan segala trik licik dan kejutan lainnya? Mira bisa melakukan hal tersebut karena ...."
"Karena dia pernah menjadi orang yang kuajari bertarung. Teknik, trik, bahkan pengetahuan lainnya," ucap Raihan menyambung perkataan Rama.
"Itu ...." Rian terdiam. Ia tentu saja tidak akan pernah berharap bertarung melawan Black Kenshi Rey. Sekarang ia tahu apa yang dicemaskan Rama.
"Aku punya ide. Sembunyikan Yun di Midgard Tengah. Kau ingat saat kalian mendatangiku di sebuah gang kecil dan kotor?" tanya Raihan pada Rama. Ia lalu menggangguk pelan.
"Bawa dia ke sana. Kalian akan menemukannya. Tempat yang bisa membuat Yun aman. Kalian sebut saja namaku jika bertemu seseorang dengan nama Selena atau Ivan," ucap Rey mengakhiri penjelasannya.
Rian dan Rama terdiam. Mereka sungguh tidak tahu tempat apa yang dimaksud Raihan. Hanya saja, saat ini mereka terpaksa mengikuti ide Raihan karena tak ada pilihan lain.
Tiba-tiba, ponsel milik Raihan berbunyi. Raihan segera mengeluarkan ponselnya dan melihat notifikasi tersebut. Sebuah pesan baru saja masuk. Saat ia membaca pesan itu, ia begitu terkejut. Kakinya segera melemas. Dadanya terasa sesak. Air matanya segera keluar.
"Ada apa?" tanya Rian cepat melihat perubahan temannya itu.
__ADS_1
"Ayahku ... kecelakaan dan saat ini sedang tidak sadarkan diri."