Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 92: Master Plan


__ADS_3

Raihan, Rifki, Renaldi, dan juga Jay telah berkumpul di kamar Raihan. Jay merupakan ketua dari Guild Rien Enemous, karena itu dia diikutkan dalam rapat ini. Namun, walaupun ia adalah ketua Guild Rien Enemous, sebenarnya yang menjadi otak terbesarnya adalah Rifki. Dia adalah ketua yang bermain di balik layar.


"Baiklah, mari kita mulai dari pokok permasalahan. Bagaimana cara kita memancing orang asing itu keluar?" tanya Rifki. Ia mengambil posisi bersandar di pintu.


"Sebenarnya Raihan sudah memberin ide, tapi kami rasa harus menunggu persetujuan kalian dulu," sahut Renaldi yang duduk di kursi dekat meja belajar.


"Kalau begitu, coba kalian ceritakan rencana itu!"


Raihan mengangguk mendengarkan perkataan Rifki. Sambil memperbaiki duduknya di atas kasur, ia menghela nafas sebentar sebelum menjelaskan rencana miliknya.


"Thea adalah orang yang hati-hati," ucap Raihan sambil menaruh sebuah papan catur di hadapannya. Ia lalu menaruh raja hitam di bagian paling belakang dan pion putih di depannya.


"Untuk menangkap orang ini, kalian harus membuatnya keluar sendiri. Dengan kata lain kalian harus pandai-pandai memancingnya. Aku sarankan untuk mengeliminasi orang-orang yang masuk Guild sebelum kalian menemukan Ancient Ruin."


"Sudah," jawab Jay sambil mengangkat sebuah kertas. "Hanya ada 23 pemain yang masuk dalam rentang waktu itu, sisanya hanya NPC."


"Baiklah, 23 pemain ini adalah tersangkanya. Namun, bagaimana cara menemukan pelakunya?" tanya Raihan sambil menaruh sebuah raja berwarna hitam lagi di atas papan catur itu.


"Hoi, jangan bilang kau ingin ...." Rifki sudah mulai menebak rencana Raihan.


"Bukan!" Raihan tahu apa yang ditebak abangnya, hanya saja rencana Raihan sangat jauh berbeda. "Aku memang menyuruh kalian untuk mencari orang yang memiliki skill peniru untuk meniru Thea, tapi itu akan segera ketahuan."


"Jangan lupakan bahwa mencari orang yang memiliki skill peniru itu sangat sulit," kata Renaldi.


"Tidak, di Guild ada satu. Si Rhopr-G," ucap Jay.


"Nah, kalian dapat melakukan ini secepat mungkin." Raihan kembali mengambil pion putih lain dan menaruhnya di sebelah pion putih itu. "Perintahkan Rhopr-G memunculkan dirinya dalam bentuk Thea di depan 23 orang itu. Lalu, bagian inilah yang paling penting untuk mencapai kesuksesan dalam rencananya."


Raihan terdiam sesaat sambil menatap tiga orang yang berada di dalam ruangan itu. Dengan tenang, Raihan menjelaskan rencana liciknya secara perlahan. Rifki tersenyum canggung mendengar rencana adiknya, begitu pula Renaldi. Jay tertawa kecil karena Raihan yang ia kenal tidak berubah. Orang yang paling cerdik sebagai teman, dan yang paling licik sebagai lawan.


"Mantap, Han!" Jay mengacungkan kedua jempol tangannya pada Raihan sambil tertawa.


"Master plan. Untung saja kau adikku. Jika kau adalah adik Thea, mungkin Rien Enemous bisa kacau balau kau buat," ucap Renaldi sambil tertawa pelan. Rencana adiknya sungguh membuatnya ketakutan.


"Baiklah, rencana ini begitu sempurna. Bagaimana kalau kau masuk Guild Rien Enemous dan menjadi salah satu punggawa kami?" tanya Rifki. Sebenarnya ini sudah yang ketiga kalinya ia mengajak Raihan dalam kurun waktu 24 jam.

__ADS_1


"Seperti yang kubilang sebelumnya, aku belum bisa memasuki Guild mana pun. Ada yang harus kulakukan," jawab Raihan.


"Baiklah kalau begitu," balas Rifki.


"Lalu, untuk permintaanmu itu, kau ingin kami mencari siapa?" tanya Jay.


"Pemanah terbaik di masa lalu. Kalian mengenalnya sebagai Hawk Eye," sahut Raihan.


"DarkLuzrov? Bukannya dia sudah brrhenti bermain?" tanya Renaldi pada yang lain.


"Benarkah? Tapi beberapa waktu ysng lalu ia pernah mengirimiku surel untuk menyelamatkan PeAce karena ia dikejar Orion," ungkap Raihan.


"Serius? Kudengar dia hanya bermain MMO sekitar dua bulan, lalu berhenti. Atau ...."


"Kurasa juga begitu Jay," kata Rifki, "mungkin ia hanya berpura-pura tidak bermain. Kurasa kita harus membentuk tim khusus untuk mencari Seven Hero dan memperhatikan gerak-gerik mereka."


"Kita sudah menemukan satu, Bang," ucap Jay.


Raihan tersenyum pahit mendengarkan hal tersebut. Ia tahu yang dimaksud Jay adalah dirinya.


"Mungkin foto ini sekitar 20 tahun yang lalu. Mungkin saja saat ayah masih SMA," ucap Raihan sambil memperhatikan foto itu lagi.


Foto ayahnya sedang mengangkat trofi berwarna emas. Pakaian ayahnya seperti sebuah seragam sepak bola berwarna biru dengan lengan kuning. Ada nomor 10 tertulis di baju bagian dada kiri ayahnya.


"Aku bisa menyimpulkan foto ini diambil saat malam hari. Dan juga ayah terlihat sangat bahagia. Mungkin ia memenangkan sebuah kejuaraan sepak bola," ucap Raihan lagi.


"Coba kau lihat lagi," kata Renaldi pada adiknya. "Di kerumunan orang tepat di belakang ayah ada seseorang yang mirip presiden 20 tahun yang lalu."


"Mungkin hanya mirip," jawab Raihan sambil membalik-balik foto itu. "Sudahlah bang. Foto ini tidak memiliki maksud apa-apa. Kode yang abang bilang dibelakangnya juga cuma titik-titik tidak jelas." Raihan lalu mengembalikan foto itu ke abangnya.


"Tidak ada yang mau dibahas lagi, 'kan" tanya Raihan.


Rifki mengangguk pelan. Ia lalu segera bangkit dan menyingkir dari pintu.


"Kalau begitu, aku ingin jalan-jalan terlebih dahulu." Raihan segera melangkah keluar dari pintu.

__ADS_1


Ia bergegas berlari menuju keluar rumah. Tanpa pikir panjang, ia berlari sekuat tenaga di jalanan kompleks. Ia tahu prilakunya begitu mencurigakan dan bisa saja kedua abangnya mengikutinya, karena itu Raihan segera berlari sekuat tenaga.


"Nomor 15, seingatku di sini." Raihan berlari sambil memperhatikan sekelilingnya. Sebenarnya kode di bagian belakang foto itu adalah kode morse. Raihan tahu hanys dengan sekali lihat.


Saat itulah ia melihat sebuah rumah kosong. Di pagar, terlihat papan nomor 15. Raihan segera berlari ke arah rumah itu dan melompati pagarnya. Tanpa pikir panjang, ia segera memasuki rumah tua itu.


"Rumah ini aneh. Pintunya tidak macet, berarti ada yang sering ke sini," gumam Raihan. Ia lalu mengeluarkan sebuah pena dan menekan salah satu ujungnya. Saat itulah ujung yang ditekan Raihan menjadi bercahaya. Itu adalah sebuah pena dengan senter di ujung lainnya.


"Semoga aku tidak menemukan arwah penasaran di rumah ini," ucap Raihan sambil tertawa pelan. Ia lalu melangkah pelan ke lantai dua untuk menyusuri setiap kamar.


"Rumah ini hanys memiliki 4 kamar di lantai 2. Waktu yang kumiliki sempit. Jika si pembuat kode itu adalah ayahku, maka kamar yang paling mencurigakan adalah yang paling ujung," gumam Raihan sambil melangkah.


Rumah itu sungguh gelap dan berdebu. Cahaya tidak dapat masuk karena jendela dipasangi tripleks kayu. Selain itu, banyak sarang laba-laba di mana-mana.


Raihan bergegas menuju kamar paling ujung. Ia lalu menarik kenop pintu dan membukanya. Pintu itu sedikit macet, jadi Raihan membutuhkan kekuatan lebih untuk membukanya.


Ternyata di dalam ruangan itu berisi beberapa rak-rak yang berisi tumpukan buku-buku tua. Raihan melangkah pelan dan mengambil salah satu buku.


"Panduan pramuka? Ini semua buku-buku pelajaran. Tidak ...."


Raihan terdiam. Ia teringat sesuatu. Ayahnya pernah bercerita bahws ia paling tidak suka pramuka dan tidak pernah masuk dalam ekstrakurikuler itu.


"Jika yang dikatakan ayah adalah sebuah kebenaran, bagaimana ia bisa tahu kode morse?"


Raihan terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Ia sekarang merasa suhu di ruangan itu cukup rendah. Ia bisa merasakan tubuhnya merinding.


Saat ia ingin keluar, saat itulah matanya menangkap sebuah mata mengintip dari balik lubang pintu. Raihan bisa tahu karena cahaya senternya membuat mata itu juga bercahaya.


"Siapa di ... sana?"


Raihan terdiam saat melihat mata itu telah hilang. Namun, sekilas ia bisa melihat pakaian putih dari makhluk itu. Tanpa pikir panjang, Raihan segera berlari dan membuka pintu. Sosok misterius itu telah hilang. Raihan terbatuk pelan dan memeluk tubuhnya sendiri. Ia lalu bergegas keluar dari rumah itu.


Tanpa ia sadari, kamar di sebelah ruangan tadi terbuka sedikit. Sosok misterius itu mengintip Raihan yang menjauh.


*******

__ADS_1


__ADS_2