
Rey memberikan catatan Rhodes pada Ivan. Ivan pun meneliti catatan itu dan mengatakan ada satu pusaka yang tersimpan di Midgard Barat. Akhirnya Rey melakukan petualangan menuju Midgard Barat kembali.
Tempat yang ia tuju bernama Death Realm. Death Realm adalah sebuah kawasan di mana tak ada satu pun tumbuhan yang hidup di sana. Menurut para warga, kondisi itu sudah terjadi selama beberapa tahun. Banyak monster kuat yang mendiami wilayah itu.
Rey mendengar dari Psycho-B bahwa Death Realm termasuk dalam 10 tempat yang belum dimasuki banyak pemain. Banyak pemain yang berpendapat tempat itu tak menyimpan apapun. Pernah ada satu kelompok pemain yang menjelajah ke kawasan itu. Namun, mereka tak menemukan apapun selain tengkorak hewan serta padang yang tandus.
Rey awalnya tak berniat pergi ke tempat itu, tetapi mengingat tempat itu ada dalam catatan Rhodes, pastilah tempat itu memang memiliki harta yang tersembunyi. Tepat saat Ivan memberikan misi ini, maka hari itu pula Rey berangkat karena perjalanan yang ia tempuh cukup jauh.
Rey memikirkan petualangan menyenangkan dan penuh bahaya yang akan menantinya nanti. Ia berpikir dirinya masuk dalam bahaya hidup mati dan menyelesaikan masalah itu sendiri nantinya. Setiap memikirkan itu, hormon adrenalin yang dihasilkan dari kelenjar suprarenalnya mengalir cepat ke seluruh tubuh, membuat jiwa petualangnya berkoar-koar menunggu petualangan yang menegangkan.
Namun, kenyataan tak selalu sesuai dengan ekspektasi. Pandangan Rey jatuh ke arah wanita yang berlari pelan di sampingnya itu. Wanita itu bernama Selena. Ia adalah NPC wanita yang biasanya selalu mengawali Ivan. Rey yakin dan percaya wanita ini adalah tangan kanan orang itu.
"Ada sesuatu yang aneh padaku?" Selena menyadari Rey yang sedari tadi menatapnya. Rey menghela nafas berat, lalu menggeleng pelan. Rey lalu kembali menatap ke depan. Mereka sudah melakukan perjalanan selama 2 hari. Mereka hampir sampai di kota terdekat yang berada di Midgard Barat. Rey berniat untuk singgah terlebih dahulu untuk beristirahat beberapa saat.
"Apa kita sebentar lagi akan sampai?" tanya Selena untuk yang kesekian kalinya hari ini. Dan untuk kesekian kalinya, Rey menjawab "Sebentar lagi."
Selena adalah wanita yang sopan dan tak banyak bicara. Ia juga selalu terlihat anggun walaupun ia selalu membawa sebilah pedang di pinggangnya. Rey menebak kepribadian Selena saat pertama kali saat ia masuk ke dalam tempat persembunyian Saint. Namun, ternyata Rey salah. Wanita itu hanya diam dan tak banyak bicara hanya di depan Ivan. Saat Ivan tak ada di sisinya, ia berubah menjadi orang yang berbeda. Ia menjadi lebih cerewet dan aura feminimnya hilang. Ia layaknya seorang perempuan anggun yang penuh tipu daya.
Untuk kesekian kalinya lagi, Rey menghela nafas berat. Andaikan saja bukan Ivan yang menyuruhnya untuk mengajak Selena, pasti ia tidak akan mau menerima wanita di sampingnya ini.
Rey memperlambat gerakannya, begitu pun dengan Selena.
__ADS_1
"Kau atau aku yang menyelesaikan monster itu?" tanya Selena sambil menatap seekor rubah dengan 2 ekor yang sedikit panjang. Rey tak memberikan jawaban dan segera menarik pedangnya.
"Chaos Heart! Slash!" ucap Rey menyebutkan dua Skill miliknya itu. Rey memberikan tebasan menyilang saat berada di dekat rubah itu. Darah mengucur deras keluar dari kaki depan rubah itu hingga membuatnya ambruk.
Rey meloncat dan menggorok lehernya cepat. Darah segar segera muncrat dari sana.
"Kau terlalu kejam Tuan Kecil," ucap Selena sambil tertawa pelan. Saat itu pula pedang Rey telah berpindah cepat dan mengarah ke arah wanita itu.
"Aku sudah bilang, aku benci panggilan itu. Lagi pula dari mana sebutan itu berasal? Tubuhku bahkan lebih besar daripada dirimu," ucap Rey kesal akan panggilan yang diberikan Selena itu.
"Kau seperti tuan Rhodes. Hanya saja dirimu itu penerusnya yang berarti kau satu tingkat di bawahnya, sama sepertiku. Namun, tuan Ivan menyuruhku untuk menghormatimu. Karena itulah kau kupanggil Tuan Kecil." Selena kembali tertawa karena berhasil membuat Rey kesal.
Rey menepuk jidatnya menggunakan tangan kiri. Ia lalu mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Rey sebelumnya selalu tenang dalam setiap kondisi, tapi masalahnya, Selena adalah tipe wanita yang sedikit merepotkan dan selalu membuatnya kesal. Selena mirip seperti perempuan di dalam ingatannya.
"Baiklah, aku tidak akan memanggil Tuan Kecil dengan sebuah Tuan kecil lagi. Benar begitu Tuan kecil?"
"Akhhh!" Rey berteriak kesal sambil menarik seluruh rambutnya.
...***...
"Ini kotanya?"
__ADS_1
"Ya. Mungkin." Rey mengangguk pelan sambil menatap kota di hadapan mereka. Kini mereka sedang mengantri untuk masuk ke dalam kota. Rey terkejut saat gilirannya tiba.
"Biaya masuk 2 perak untuk 2 orang," ucap penjaga gerbang itu sambil menoleh ke arah wanita di samping Rey. Rey memberikan 2 keping koin perak dan menarik tangan Selena memasuki kota.
"Aku tahu diriku begitu menggoda, tapi setidaknya kau harus izin dulu jika ingin menggenggam tanganku," celetuk Selena sambil menahan tawa. Rey segera melepaskan genggamannya dengan kesal.
"Jangan lakukan hal yang menarik perhatian. Tempat ini sedikit aneh." Rey tak menyebutkan alasan sebenarnya ia meminta Selena untuk tetap tenang. Karena jika ia memberikan alasan asli, maka Selena justru akan mencari keributan mengingat sifat wanita itu sedikit aneh daripada wanita lain.
Selena mengangguk pelan dan mengikuti Rey melenggang pergi. Rey menatap setiap pemain yang melewatinya. Ia selalu melihat logo Guild yang sama di pakaian orang itu. Nafas Rey menjadi sedikit memburu saat melihat dua orang di ujung jalan yang mengarah ke arah keduanya. Dengan cepat Rey menarik tangan Selena lagi dan pergi dari posisi itu.
...***...
"Aku rasa pasukan yang diberikan Bos Besar sudah tiba di perbatasan," ucap orang yang tak lain tak bukan adalah Randi itu. Ia memang menggunakan nama asli di MMO.
"Aku juga berpikir begitu," sahut seorang wanita di sebelahnya dengan manis. Wanita itu menangkap suatu wajah yang tak asing di ingatannya. "Kau lihat orang itu?" Wanita itu menunjuk ke satu arah. "Dia sedikit mencurigakan. Ia terlihat seperti orang jahat."
"Siapa yang tidak jahat di sini?" Randi tertawa pelan. "Kau jahat, aku jahat, bahkan warga kota itu," balas Randi sambil tertawa pelan.
"Kau tahu maksudku. Dia agak ...." Wanita itu kembali mengingat-ingat wajah orang tadi. "Dia agak familiar. Ia terlihat aneh. Mungkin unik adalah kata yang tepat. Tapi itu hanya firasatku sih."
Langkah Randi terhenti. Ia lalu menatap wanita yang berada di sebelahnya itu dengan wajah serius.
__ADS_1
"Alma. Selama ini aku tak pernah meragukan firasatmu. Jika kau memang merasa seperti itu, lebih baik kita cari tahu orang yang kau lihat tadi."