
Mentari perlahan menghilang bersama dengan mulai datangnya malam. Lampu jalan mulai menyala, memecah kegelapan pekat yang akan tercipta ketika malam tiba. Di beberapa tempat, nyala lampu kerlap-kerlip juga terlihat menghias kota kecil di daerah pulau bagian barat Indonesia tersebut.
Raihan dengan tenang menatap layar monitor di hadapannya. Sesekali, ia menyeruput coklat hangat di atas meja karena cuaca yang mulai berubah. Perlahan, tetes demi tetes air turun dari langit hingga membuat suara bising yang cukup untuk mengganggu pendengaran. Saat itulah orang-orang yang ia tunggu telah tersambung. Sekarang, wajah Sasya, Rian, dan juga Nabila telah muncul di layar.
"Di sana hujan?" tanya Nabila.
"Ya, baru saja mulai," sahut Raihan sambil menoleh ke belakang, tepatnya ke arah jendela. "Dan mungkin masih lama baru reda." Raihan kembali mengalihkan pandangannya.
"Sebenarnya aku hari ini ingin menaikkan level," ucap Rian malas. "Tapi, karena kau ingin mengadakan rapat, makanya kubatalkan. Sebenarnya kau ingin membahas apa?"
Raihan kembali menyeruput minumannya. Ia sedikit kedinginan sekarang.
"Aku ingin memberitahukan kepada kalian 3 masalah yang kutemukan," ucap Raihan. "Tentu saja masalah ini menyangkut Starlight Empire dan Antariksa Aksara," tambahnya cepat-cepat.
"Lanjutkan! Kami akan mendengarkan." Rian terlihat mengubah posisi duduknya sebelum menatap Raihan serius.
"Sebenarnya ketiga masalah ini memiliki inti yang sama, tapi lebih mudah jika kupisah. Pertama, aku menemukan gua yang dihuni Dwarf. Mereka dipaksa bekerja oleh Starlight Empire." Rey memulai cerita saat ia tanpa sengaja masuk ke dalam gua. Ia juga menjelaskan situasi dan kondisi yang dialami para Dwarf serta Dwarf lain yang ditawan.
"Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan pada kalian yang berasal dari Starlight Empire, walaupun kalian tidak tahu apa-apa. Hanya saja ini menyangkut keselamatan orang lain juga," ujar Raihan menambahkan.
"Bukannya aku tidak percaya padamu, hanya saja apakah perkataan para Dwarf itu bisa dipercaya?" tanya Rian. Ia memang tidak terlalu menyukai raja dari Starlight Empire, tapi ia juga tidak bisa langsung mempercayai Dwarf yang belum pernah ia temui. Dan sepertinya Sasya dan Nabila berpikiran hal yang sama.
"Ya. Aku juga menyarankan untuk tidak percaya dengan para Dwarf. Namun, kau juga harus tidak percaya dengan Starlight Empire agar melihat kebenaran dari masalah ini," ucap Raihan.
Rian terdiam sesaat sebelum mengangguk. Yang dikatakan Raihan memang benar.
"Kedua, tentang yang aku temukan di desa Dark Elf tadi. Aku mengambil sesuatu di desa itu," ucap Raihan. Ia sengaja diam untuk beberapa saat, membiarkan teman-temannya membuat dugaan terlebih dahulu.
"Kau menemukan item berharga?" tanya Rian karena Raihan terus diam.
"Tidak," jawab Raihan cepat. "Malah tidak berguna. Tadi aku hanya mengambil tanah."
"Apa-apaan?" Rian terlihat kesal. Ia sangat penasaran tentang sesuatu yang diambil Raihan siang tadi.
"Tunggu!" Sasya berucap pelan. Ia terlihat sedikit lebih tenang daripada Rian. "Aku tahu kau melakukan itu pasti ada alasannya."
"Tepat!" Raihan tersenyum lebar. "Aku menyadari Vale berperilaku cukup aneh. Vale menceritakan bahwa saat desa mereka di serang, ada sekelompok Ogre yang mendatangi rumah itu. Mungkin kalau yang ia ceritakan hanyalah 1 Ogre, aku masih percaya. Namun, ia mengatakan sekelompok."
"A-aku kurang paham," ucap Nabila.
"Aku juga."
Raihan menghela nafas berat. Tampaknya ia harus menjelaskan semua ini dari awal.
"Ingat saat kita bertarung melawan para Dark Elf di desa itu? Bukankah Vale telah menjelaskan bahwa mereka dikendalikan?" tanya Raihan pada Rian dan Nabila.
Rian dan Nabila segera mengangguk pelan, sedangkan Sasya terlihat untuk mencoba memahami.
"Nah, Dark Elf itu dikendalikan oleh Khell. Namun, hanya Vale yang sempat terlepas dari pengaruh Khell walau hanya sesaat. Aku dapat menyimpulkan hanya NPC yang memiliki hati kuat yang bisa terlepas dari sihir Khell. Vale adalah kepala desa, dia pasti memiliki hati yang cukup kuat," ujar Raihan.
Rian terdiam. Ia terlihat melihat ke langit, mencoba mengingat kembali kejadian itu. Jika ia pikir lagi, perkataan sahabatnya itu memang benar.
"Tunggu!" Rian tersadar. "Ia berbohong saat mengatakan ada sekelompok Ogre yang mendatangi rumah itu?"
Kali ini Raihan yang mengangguk pelan. Rian segera terkejut, begitu pula dua orang lagi.
"Dia pasti punya alasan," ucap Sasya.
"Benar. Aku tahu Vale bukanlah NPC yang jahat," sahut Rian menyetujui perkataan Sasya sebelumnya.
__ADS_1
"Ya, memang. Dia punya alasan. Alasan ini menyangkut masalah pertama."
Rian tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya mendengar pernyataan Raihan. Ia ingin berucap, tetapi dirinya kalah cepat.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Sasya. "Aku tidak melihat Vale pernah menjelaskan sesuatu padamu tadi."
"Memang dia tidak pernah menjelaskannya. Namun, aku tahu tanpa ia beri tahu," jawab Raihan.
"Bagaimana ...."
"Kebohongan Vale," potong Rian cepat-cepat. "Vale sengaja berbohong. Ia sebenarnya ingin memberikan kode pada kita. Namun, kita tidak terlalu mengerti dengan kode yang ia berikan."
"Benar," ucap Raihan sambil menjentikkan jarinya. "Ia ingin memberitahukan pada kalian bahwa ada masalah yang ia hadapi. Namun, kenapa ia tidak menjelaskan secara langsung?" tanya Raihan.
"Karena ada seseorang yang memata-matai dirinya," jawab Nabila.
"Atau mungkin ada Dark Elf yang ditawan," sahut Sasya.
"Keduanya benar," ucap Raihan, "Vale memang ingin menyampaikan hal tersebut. Petunjuknya adalah pekarangan rumah. Jika kalian lebih teliti dan melihat ke bawah, kalian seharusnya bisa menyadari ada yang aneh pada bayangan Vale. Ia ingin memberi tahu itu pada kita," ujar Raihan.
Rian terdiam sesaat mendengarkan penjelasan Raihan. Ia sungguh tidak terpikir sampai ke sana. Jika Vale dan Dark Elf lain dipaksa bekerja sama layaknya Dwarf yang diceritakan Raihan, Rian sungguh tidak akan memaafkan dirinya hingga masalah ini tuntas. Karena dirinyalah yang membawa Vale dan Dark Elf lain ke Starlight Empire.
"Kenapa kalian diam?" tanya Raihan memecahkan lamunan ketiganya. "Apakah kalian sudah bisa untuk tidak mempercayai raja Starlight Empire?"
Raihan tersenyum simpul melihat teman-temannya yang dilanda kebingungan.
"Mataku terbuka. Kau sungguh hebat bisa melihat kebenaran ini. Mari kita dengarkan masalah yang ketiga!" ucap Rian. Nabila dan Sasya terlihat mengangguk pelan. Raihan kembali menyeruput minumannya sebelum mulai melanjutkan.
"Masalah ketiga." Raihan menatap ke dalam gelasnya. Ia bisa melihat coklat hangatnya mulai habis. "Masalah ini sebenarnya hanya berdasarkan pada instingku dan pengalaman," ucap Raihan sambil meminum habis coklat hangat di tangannya.
"Sudah kukatakan ada yang berbeda pada bayangan Vale. Aku menduga itu adalah Assasin yang disewa atau dimiliki Starlight Empire. Kita semua sama-sama pemain veteran. Apa kalian tahu maksudnya apa itu?" tanya Raihan.
"Benar. Vale adalah Dark Elf, ia juga bisa bersembunyi dalam bayangan walau tidak lama. Sedangkan Assasin itu menempel dengan bayangan Vale dengan durasi yang ...." Raihan tak ingin melanjutkan perkataannya.
"Artinya Assasin itu memiliki level yang cukup tinggi," sahut Sasya.
Raihan mengangguk pelan sekali. Rian terdiam, begitu pula dengan Nabila. Sasya sendiri lebih memilih menatap Raihan, mencoba menebak-nebak apa yang ada di pikiran pria itu.
"Kalian terlalu khawatir," ucap Sasya, "jangan lupakan ada orang yang sudah menyiapkan solusinya di sini."
Rian tersadar. Jika Raihan sudah bisa menebak sampai sejauh itu, maka tak mungkin ia tidak memiliki solusi. Ia ingat sahabatnya itu tidak akan melakukan sesuatu pekerjaan dengan setengah-setengah.
"Seharusnya kau biarkan mereka merenung dulu. Ekspresi mereka lucu," ucap Raihan sambil tertawa pelan.
"Memang aku punya solusi," lanjut Raihan. "Tapi, resikonya terlalu tinggi dan sangat berbahaya. Aku sebelumnya ingin mengajak kalian. Namun, setelah kupikir lagi, lebih baik tidak."
"Kau tidak percaya pada kemampuan kami?" tanya Rian.
"Bukan. Aku tidak percaya pada diriku sendiri yang akan membuat pencapaian kalian di Starlight Empire hancur dalam sekejap." Raihan terdiam sesaat. "Kuharap kalian mengerti, masalah ini tidak sama seperti sebelumnya."
"Dan kau ingin menyelesaikan dengan cara yang berbeda, dengan kekuatanmu sendiri. Begitu?" tanya Rian dengan sedikit bernada tinggi. Ia tidak setuju dengan pilihan Raihan.
"Tidak. Percayalah, aku tidak sendiri," jawab Raihan.
Rian terdiam. Ia tahu dirinya sudah tak bisa merubah pilihan sahabatnya itu.
"Aku akan tetap ikut membantumu," ucap Sasya pelan.
"Sudah kubilang. Pencapaian yang kalian dapatkan ...."
__ADS_1
"Aku tidak peduli," potong Sasya. "Dark Elf juga tanggung jawabku. Aku akan tetap membantumu. Atau aku akan datang ke tempatmu di Riau dan memaksamu secara langsung."
Raihan terkejut dengan perkataan Sasya. Rian dan Nabila juga demikian. Rian buru-buru tersenyum saat melihat ada keraguan terlihat di wajah Raihan.
"Aku juga," ucap Rian cepat-cepat.
Raihan menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku yakin kalian tidak serius. Kalian tidak akan berani."
Rian tersenyum sebelum menunjukkan gawai miliknya. Ia segera mencari situs penerbangan di gawainya. Setelah ketemu, ia segera menunjukkan layar ponselnya ke Raihan. Sasya juga terlihat melakukan hal yang sama.
"Jangan lakukan!" ucap Raihan setengah berteriak. Datang jauh-jauh ke tempatnya hanya untuk memaksa dirinya, sungguh perbuatan yang tidak masuk akal.
"Kami serius," ucap Rian sambil tersenyum penuh kemenangan.
Raihan memutar otaknya cepat, berusaha mencari cara terbaik. Saat itulah ia terpikir trik kecil.
"Kalian cocok yah, ide kalian sama. Lihat, situs yang kalian tunjukkan juga sama." Raihan tersenyum lebar.
Rian terbatuk pelan, terganggu dengan ucapan Raihan. Walau ia tahu Raihan sengaja memancingnya, tapi ia tetap merasa tidak enak.
"Ya, untuk memaksamu kami memang ahlinya."
Senyum Raihan segera luntur mendengar perkataan Sasya. Wanita itu sudah menetapkan hatinya ingin membantu Raihan. Rian terbatuk sekali lagi. Ia tidak menyangka Sasya akan berbuat sejauh itu.
"Katakan satu alasan yang membuat kalian berdua bersikeras ingin membantuku!" Raihan tidak punya pilihan lain. Namun, ia rasa setidaknya ia harus tahu kenapa dua orang sahabatnya itu sungguh keras kepala.
"Aku ingin merasakan petualangan yang menegangkan lagi," jawab Rian.
"Aku ...." Sasya terdiam. Tampak ia sedang memikirkan sesuatu.
"Kau?"
"A-aku ingin kembali mengukir sejarah kita berdua lagi bersama!"
"Ha-hah?"
Raihan tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Rian tersenyum pahit, sedangkan Nabila lebih memilih terbatuk pelan sebelum mengalihkan pandangannya.
Raihan merasa waktu berjalan lambat karena perkataan Sasya. Ia sungguh tidak mengerti. Raihan hendak bertanya, tetapi wajah Sasya telah menghilang dari layar monitor. Ia telah tidak tersambung.
Raihan terdiam. Ia sungguh tidak mengerti.
"Apa aku melakukan kesalahan lagi?" tanya Raihan pada Rian.
"Tidak. Dia tadi malu, dasar bodoh!" ucap Rian sengaja menekankan kata bodoh. "Kau seharusnya tidak menanyakan alasan dari seorang perempuan."
Raihan terdiam. Ia berpikir, tampaknya dirinya tidak akan pernah bisa mengerti jalan pikir perempuan.
"Sudahlah. Kalian jelaskan rencana ini pada Sasya nanti," ucap Raihan malas pada dua orang temannya yang masih tersambung itu. Dengan pelan, ia lalu menjelaskan rencana yang ia miliki, walaupun ada beberapa bagian yang masih tidak ia ceritakan.
***
Di sisi lain, seorang wanita baru saja menutup laptop miliknya. Ia segera menuju sudut kasur. Cepat-cepat ia memeluk sebuah boneka beruang besar berwarna coklat.
Wajahnya merah padam. Ia merasa baru saja mengatakan sesuatu yang tak seharusnya ia katakan. Ia sungguh merasa sangat malu sekarang.
Namun, itulah yang diinginkan hatinya. Pandangannya lalu terarah ke sebuah foto berbingkai di atas meja. Sebuah foto yang menampakkan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mengenakan konstum. Sang laki-laki mengenakan kostum pangeran, sedangkan sang perempuan mengenakan kostum seorang putri.
"Aku tak ingin cerita ini berakhir layaknya Romeo dan Juliet," ucap wanita itu pelan.
__ADS_1