
Raihan baru saja keluar dari sebuah tempat pangkas rambut biasa. Ia melupakan sebuah janji yang dulu ia ucapkan. Kini rambutnya telah pendek dan nyaris tak bersisa. Jika orang lain tidak melihat lekat-lekat, pasti mereka mengira Rey telah botak.
Raihan bercermin di sebuah etalase toko. Tak lama, ia menggeleng pelan. Ia segera mengenakan sebuah topi abu-abu yang sedari tadi dipegangnya. Jika tampilannya sedikit lebih baik, maka ia tidak akan memakai topi itu. Namun Rey merasa seperti orang lain dengan rambut tipis itu. Karena itulah Raihan memutuskan untuk memakai sebuah topi.
Raihan memutuskan untuk kembali, karena ia keluar memang hanya untuk menuntaskan kewajibannya. Ia segera melangkah pelan melewati bangungan-bangunan besar pencakar langit. Tak beberapa lama, matanya menangkap suatu hal. Sebuah sekolah tempat dimana ia menuntut ilmu. Di depan gerbang sekolah itu ada sebuah pengumuman yang ditempel di mading. Raihan segera menyeberangi jalan dan berjalan ke arah pengumuman itu. Jelas disana tertulis untuk alumni angkatan dirinya dan 1 tahun sebelum Raihan. Raihan pun mulai membaca pengumuman itu lebih lanjut dan mengamati setiap kata-kata di sana agar ia tidak salah informasi.
Dari yang ia baca, 3 hari lagi akan diadakan acara reuni yang digelar di sekolah, tepatnya pada ruangan aula. Selain itu para undangan diperbolehkan membawa istri atau suami mereka bagi yang telah menikah. Dan pada bagian bawah pengumuman itu, terdapat nama lengkap dari Deon, yaitu Dion Mahendra.
Raihan mengangguk sejenak. Penyelenggara acara ini adalah Dion. Raihan memanglah sudah tidak asing karena melihat nama itu, karena ia dulu ikut kegiatan osis dan menjadi wakil ketua. Karena itu dia memang sering menyelengarakan acara-acara dan dirinyalah yang menjadi ketua panitia.
Raihan segera melangkah pergi. Ia membatalkan niatnya untuk kembali ke rumah. Tak butuh waktu lama, ia segera tiba di tempat tujuannya, yaitu taman kota. Raihan mengedarkan pandangannya untuk menemukan bangku kosong yang cukup teduh, dan ia menemukannya tak jauh dari tempatnya berada. Raihan segera melangkah kesana dan duduk di kursi taman itu.
Raihan segera meraba kantong celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar. Ia sebenarnya hendak menanyakan tentang informasi lanjutan tentang acara reuni pada Dion. Tak butuh waktu lama, Raihan segera menemukan nama kontak pria itu dan segera meneleponnya. Beberapa detik kemudian, terdengar suara telepon terhubung.
"Halo. Dion 'kan?"
"Halo. Iya, ini aku. Ada apa Rai?" tanya Dion di telepon.
"Aku ingin menanyakan tentang informasi lanjutan dari acara reuni yang kau selenggarakan," sahut Rey. Ia sedikit berpindah karena beberapa cahaya matahari menembus melewati celah pohon hingga membuatnya sedikit panas.
"Sebenarnya sih acara itu bukan aku yang menyelenggarakannya. Mereka hanya meminjam namaku saja."
__ADS_1
Raihan sedikit terkejut mengetahui informasi tersebut. Dion menjelaskan bahwa jika menggunakan nama dirinya, akan lebih banyak yang akan hadir di acara reuni itu. Walau sebenarnya Dion enggan, tapi ia tidak bisa menolak.
"Siapa yang meminjam namamu itu?" tanya Raihan segera.
"Angkatan sebelum kita. Namun ada juga kulihat beberapa orang di angkatan kita yang termasuk di kelompok itu," ujar Dion menjelaskan.
"Baiklah. Terima kasih," Raihan segera menutup teleponnya sepihak tanpa menunggu jawaban Dion. Raihan hendak melangkah pergi untuk kembali karena merasa matahari semakin naik. Namun, sebuah suara mengejutkan dirinya.
"Kau di sini?"
Raihan segera menoleh. Ia menemukan seorang perempuan yang cukup ia kenal. Perempuan itu adalah Yuni. Raihan tersenyum hangat sebelum menyapanya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Raihan.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," sahut Raihan. Ia menggaruk kepalanya sejenak sebelum mengajak Yuni untuk makan di sebuah tempat yang tidak jauh dari sana. Raihan yakin Yuni ingin menanyakan tentang kejadian yang mereka alami satu hari lalu. Yuni mengangguk pelan tanda bahwa ia setuju. Mereka berdua pun segera melangkah menjauh dari tempat itu. Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang tanpa sadar bertemu mereka dan memerhatikan dari jauh.
***
Tiga hari berlalu, Raihan segera keluar dari rumahnya. Di sana, sudah ada Rian yang menunggunya dengan sebuah sepeda motor berwarna merah yang terparkir rapi si depan rumah. Rian memang sengaja mengajak Raihan untuk pergi bersama. Raihan merapikan jam tangan miliknya sebelum duduk di bagian belakang motor Rian.
"Lah? Kau yang menyetir," ucap Rian sambil turun dari sepeda motor itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak kau saja, sih?" Raihan segera maju dan menghidupkan motor itu. Rian segera duduk di bagian belakang. Raihan pun mulai mengendarai motor itu melewati gang kecil sebelum tiba di jalan yang lebih besar. Banyak mobil-mobil yang disalip oleh Raihan. Ia memang tidak terlalu suka berlama-lama di jalan pada malam hari. Pandangannya sedikit buruk jika kurangnya cahaya. Karena itu Raihan memacu motornya cepat.
Tak butuh waktu lama, mereka segera tiba. Mereka segera menuju parkir. Rian segera turun setelah motor itu berhenti, sedangkan Raihan memarkirkan motornya rapi sebelum berjalan ke arah Rian.
"Ayo!"
Mereka berdua pun segera melangkah memasuki sekolah. Ada dua orang yang bertugas menyambut tamu di depan gedung sekolah itu. Raihan tidak mengenali keduanya, terlebih lagi dua orang wanita itu terlihat lebih muda. Raihan menebak dua orang itu adalah adik kelasnya.
Mereka berjalan melewati kedua orang itu. Dua wanita itu menunduk sejenak saat mereka melewatinya. Lalu pandangan Raihan beralih ke arah Rian yang tengah memainkan ponselnya.
"Item yang dijual di tokomu cukup jarang ditemukan, ya?" celetuk Rian. Raihan sedikit terkejut karena temannya itu melihat tokonya.
"Aku ingin beli beberapa untuk anggota baru yang berlevel rendah. Juga, bisa kau siapkan 200 Small Potion?" pinta Rian.
Raihan mengangguk pelan. Rian lalu membuka ponselnya lagi dan melakukan kalkulasi. Setelah itu, Raihan segera menerima notifikasi di ponselnya. Raihan segera melihat ponselnya dan melihat uang masuk ke rekeningnya. Ia tersenyum sebelum membuka dompetnya. Ia mengeluarkan uang sebanyak dua ratus rupiah dan memberikannya pada Rian.
"Apa ini?" tentu saja Rian bertanya. Ia sudah melakukan kalkulasi dan segera mengirim uang dengan harga pas pada Raihan. Namun Raihan malah mengembalikan sebanyak setengahnya.
"Untukmu diskon sebanyak 50%." Raihan tersenyum hangat. Ia memang tidak ingin memberatkan Rian, jadi Raihan memberinya harga teman.
Ria tersenyum senang dan segera menerima uang itu. Tak lupa, ia segera berterima kasih pada Raihan. Dengan uang tersebut, ia bisa memberi item lain untuk anggota Guildnya dan menambah persediaan Potion yang mulai menipis.
__ADS_1
Mereka segera tiba di aula sekolah. Sudah banyak orang di sana. Raihan tidak tahu ingin duduk dimana, jadi ia lebih memilih mengikuti Rian. Rian mengedarkan pandangannya sebelum menyenggol tangan Raihan. Raihan lalu berjalan pelan mengikuti Rian. Saat ia tiba, Raihan menemukan beberapa orang yang cukup dikenalnya. Dion, Rama atau dikenal dengan Lluminos, dan Alia. Namun ada satu wanita lagi yang duduk di sebelah Alia. Raihan memiringkan kepalanya, ia seperti mengenal wanita tersebut.
"Eh?" Wanita itu baru menyadari keberadaan Raihan.