Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 90: Masalah Rien Enemous


__ADS_3

Hari itu juga, Raihan terbang dari ibukota ke bagian barat Indonesia. Tepatnya ke sebuah provinsi di pulau Sumatra bernama Riau. Sesampainya di sana, Raihan kembali lagi harus melakukan perjalanan menggunakan bus karena tempat di mana rumahnya berada jauh dari ibukota provinsi Riau.


Akhirnya, Raihan benar-benar sampai ketika hari sudah menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat. Tempat yang pertama kali ia tuju merupakan rumah sakit tempat di mana ayahnya dirawat. Tanpa mempedulikan orang-orang, ia segera berlari cepat melewati lorong-lorong.


Pikirannya begitu kacau. Ia sungguh tidak tenang kali ini. Rasa gelisah bercampur khawatir tak bisa hilang di hatinya. Sudah ratusan kali ia berdoa sejak dari perjalanan agar ayahnya segera sadar.


"Ruangan ini ...." Raihan telah tiba di ruangan yang dimaksud perawat. Rasa khawatir di benaknya semakin bertambah. Ia segera menggapai gagang pintu di hadapannya dengan hati-hati.


Perlahan, Raihan membuka pintu di hadapannya. Saat itulah matanya membulat lebar. Ia segera terjatuh lemas menatap lantai porselen rumah sakit. Perasaannya campur aduk sekarang.


"Ooh, kau sudah datang Rai?" Seorang pria tua di atas tempat tidur berucap pelan.


Raihan terdiam sesaat melihat kondisi ayahnya baik-baik saja. Tidak ada luka fisik yang parah terlihat di manapun. Apalagi kini ayahnya sedang duduk bersila sambil memakan bubur.


"Tapi, kata abang ayah kecelakaan, terus tidak sadarkan diri. Jangan-jangan ...."


"Ayah memang kecelakaan, tapi tidak parah." Seseorang masuk ke ruangan itu sambil memotong perkataan Raihan. Ia segera meletakkan keranjang buah di atas meja. Dia adalah kakak laki-laki Raihan yang kedua. Namanya adalah Renaldi.


"Jadi kami merencanakan ini bersama ayah. Saat ayah tidur, kami langsung memberitahumu jika ayah tidak sadarkan diri. Kami tidak berbohong." Seseorang kembali masuk sambil mengenakan jaket berwarna cyan. Namanya Rifki, kakak laki-laki tertua Raihan.


Raihan merasa dunia sedang terbalik sekarang. Ia secepat mungkin kembali ke desa hanya untuk melihat dirinya dikerjai kedua kakak laki-laki serta ayahnya sendiri. Raihan mengutuk dirinya sendiri karena lupa bahwa ia mendapatkan bakat dan trik licik dari mereka.


"Seharusnya aku datang lebih lama." Raihan menghela nafas berat sambil berusaha bangkit.


"Aku aja bingung." Rifki berucap pelan. "Kok kau bisa datang secepat ini? Sebenarnya kami ingin membawa ayah ke ruang mayat dulu."


Sontak Renaldi tertawa mendengar ucapan saudaranya, sedangkan ayahnya hanya terbatuk pelan. Ayahnya memang sengaja ingin menjebak Raihan karena jarang pulang, tapi ia rasa tidak perlu sampai masuk ruangan mayat.


Raihan tersenyum pahit. Keluarganya memang ingin membuat dirinya jantungan.


"Sialan!" Raihan tertawa pelan sambil berjalan ke arah ayahnya. "Jadi bagaimana kondisi ayah?" tanyanya.

__ADS_1


"Sekarang ayah sudah lumayan enakan. Cuma, ada beberapa bagian di kaki yang masih terasa sakit," jawab ayah Raihan. Walaupun mereka mengerjai Raihan, tetapi kecelakaan itu memanglah terjadi. Raihan mengangguk mendengar jawaban ayahnya.


"Kami sengaja melakukan ini karena kau jarang pulang. Lagi pula dalam waktu dekat ada sesuatu yang akan terjadi," ucap Rifki. "Coba tebak!"


"Bang Aldi mau nikah?" tebak Raihan. Mereka semua kembali tergelak mendengar tebakan Raihan.


"Bukan!" sergah Renaldi. "Kami ada bisnis besar, tapi ada beberapa masalah yang terjadi. Jadi kami sedang mencari seorang yang bisa ...."


"Bilang aja mau minta tolong!" potong Raihan cepat-cepat. Renaldi dan Rifki kembali tergelak.


"Nah, itu kau tau. Ayo ikut!"


Renaldi segera keluar dari ruangan itu setelah menyunggingkan senyumnya pada sang ayah. Raihan mengangguk sebelum menaruh tas yang sedari tadi ia sandang ke dekat dinding.


"Lebih baik kami bicara di luar bang supaya ayah bisa istirahat," kata Raihan. "Kami keluar dulu, Yah."


Raihan segera melangkah menuju pintu untuk menemui abangnya. Saat itulah ia melihat Renaldi sedang duduk di sebuah kursi panjang sambil menggeser-geser layar ponselnya. Raihan kembali berjalan lalu bersandar di dinding tepat di sebelah kursi itu.


"Tentang MMO?" tebak Raihan.


"Ini ...." Raihan tidak bisa berkata-kata sambil melihat sebuah artikel di ponsel milik abangnya.


"Di sana juga ada disertakan video. Seperti yang kau lihat, seseorang sedang merekam bagian dalam Ancient Ruin dan menemukan tempat aneh. Namun, ia bukanlah dari anggota Rien Enemous. Bang Rifki dan Jay juga sudah mengusir orang-orang yang bukan berasal dari Rien Enemous. Mereka kini menjadikan Ancient Ruin kawasan mereka. Dan kini, Rien Enemous sedang menelusuri Ancient Ruin untuk mencari ruangan tersembunyi itu serta sang penyusup," ujar Renaldi menjelaskan. Ia sengaja membiarkan adiknya untuk memahami situasi yang tengah dialami Rien Enemous terlebih dahulu.


"Pertama," ucap Raihan pelan. "Bang Aldi sudah jadi anggota RE?"


Renaldi mengangguk dua kali tanda mengiyakan pertanyaan adiknya.


"Lalu, apakah kalian sudah benar-benar mendapatkan bukti bahwa rekaman itu bukan berasal dari anggota RE?" tanya Raihan lagi.


"Kami sudah menanyai semua anggota Rien Enemous. Tidak ada yang mengaku bahwa rekaman itu milik anggota kami," jawab Renaldi.

__ADS_1


"Abang bilang tadi itu adalah ruangan rahasia yang tidak bisa kalian temukan, jadi bagaimana kalian membuktikan video itu direkam di Ancient Ruin?"


"Ancient Ruin terkenal karena dungeon yang memiliki penerangan unik, yaitu Shining Bat. Di video itu kau bisa melihat pada bagian langit-langit gua tampak cahaya yang bergerak-gerak serta suaranya yang khas."


Raihan menghela nafasnya. Ia sudah memiliki beberapa dugaan. Sekali lagi, ia memutar video rekaman itu. Video dimulai dengan pertarungan seseorang melawan sekelompok Cave Goblin. Walaupun rekaman itu merupakan dari sudut pandang orang pertama, tapi Raihan bisa memastikan orang itu cukup ahli dalam memainkan pedangnya. Selain itu, ia juga tahu dasar-dasar dalam menjelajahi gua, seperti menandai lorong dan bersiaga saat datang angin dari depan.


"Eh? Tunggu sebentar!" celetuk Raihan. Ia kembali memutar adegan sebelumnya. Pada bagian itu, terlihat rekaman itu memperlihatkan pundak sang pemain sekilas. Saat itulah Raihan menyadari sesuatu.


"Kalian memancing bahaya dalam Guild." Raihan menggelengkan kepalanya pelan. Firasatnya menjadi buruk.


"Lanjutkan!" ucap Renaldi sambil mengeluarkan sebuah alat perekam suara.


"Pertama, di punggung pemain ini aku melihat logo Rien Enemous," ucap Raihan sambil memperlihatkan bagian itu. "Itu artinya dia merupakan anggota kalian."


"Bagaimana bisa ...."


"Jangan diinterupsi, biarkan aku mengeluarkan apa saja yang kudapatkan dari video itu," potong Raihan cepat-cepat. Abangnya segera mengangguk.


"Walau hanya sekilas, tapi aku tahu logo itu milik Rien Enemous. Kedua, aku memperhatikan gerakan bertarungnya serta caranya menjelajah. Dari situ aku bisa memprediksi dia orang yang cukup handal."


Raihan kembali memutar suatu bagian. Di bagian itu, terlihat orang itu mengukir huruf b dan d di dinding batu.


"Mungkin dia adalah temanku. Aku punya kelompok bernama Corps 7 di God Reason. Mungkin dia adalah salah satu anggota kelompok itu."


Raihan teringat kode b dan d pada dinding yang pernah ia sepakati dengan teman-temannya. 'b' yang merupakan singkatan back yang berarti jalan kembali, sedangkan 'd' singkatan dari dead end yang berarti jalan buntu.


"Terakhir, aku yakin kalian akan marah. Namun, kuharap kalian bisa memikirkan solusi ini dengan kepala dingin untuk menangkap orang itu," kata Raihan. "Ada logo kristal merah kecil di pangkal pedangnya. Abang tahu logo apa itu?"


"Entah. Abang tidak ingat pernah liat logo ...."Renaldi terdiam. Ia ingat sesuatu. Sebuah Guild yang pernah menawarkan aliansi pada Guild Rien Enemous di God Reason. "Aku ingat. Thea, ini pasti rencananya untuk menyusup dalam Guild."


Renaldi segera bangkit dan meninju dinding cukup keras. Ia tidak percaya orang yang pernah menjadi rekan kini berubah menjadi lawan.

__ADS_1


"Kau punya saran cara menangkap orang itu?" tanya Renaldi pada adiknya.


Raihan tersenyum lebar. Jika Renaldi ingin mencari orang yang sangat licik, maka Raihan adalah orang yang tepat. Dengan penuh rasa senang, Raihan segera membisikkan sesuatu ke abangnya.


__ADS_2