
"Aku tidak menyangka ada semut berkaki dua yang berani menyerang pasukan Ogre."
Dua orang segera keluar dari kerumunan pasukan Ogre. Para Ogre segera berlutut melihat orang itu. Rey mengenali salah satunya adalah Khell. Namun, Rey tidak mengenal seorang lagi. Dia seorang manusia yang memiliki tubuh berwarna putih. Namun, rambutnya berwarna kebiruan. Selain itu pakaiannya terlihat seperti bangsawan. Cahaya matanya terlihat memancarkan kesedihan yang mendalam saat melihat Rey pertama kali.
"Bisa aku tahu dari mana asalmu? Aku tahu kau adalah salah manusia yang menyerang anak buahku," ucapnya sopan.
"Aku hanya petualang bebas yang kebetulan sedang lewat di desa Dark Elf," sahut Rey.
"Siapa namamu?" tanya orang itu lagi.
"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu yang itu. Sebaliknya, aku sudah tahu identitasmu sebenarnya," balas Rey sambil memegang pedangnya erat. Ia tahu pertarungan pasti akan terjadi.
"Hooh? Aku akan memberikan kematian yang cepat jika kau mengetahuinya." Pria itu tersenyum lebar melihat Rey.
"Salah satu dari 12 jenderal ras iblis. Blue August, yang dikatakan menjadi paling kuat," jawab Rey.
Pria itu bertepuk tangan cukup kencang mendengar jawaban Rey. Ia bahkan tertawa beberapa kali seolah pertanyaan Rey merupakan sebuah kebahagiaan baginya. Ia merasa Rey adalah orang yang cukup menarik.
"Aku tidak menyangka masih ada yang mengingat Misery. Karena kau mengetahuinya, aku akan memberikan kematian yang sangat cepat. Bersiaplah," ucapnya pelan.
Ia lalu mengangkat tangannya ke depan. Saat itulah sebuah pedang ungu kehitaman muncul di udara. Ia lalu menggenggam erat pedang itu dan memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang.
"Biarkan aku memberitahukan nama asliku. Raph, ingatlah itu. Aku dijuluki Mad Dog yang terkenal akan kegilaaanku, ingatlah itu!" Ia berteriak keras sebelum maju ke arah Rey.
Walaupun Rey terlihat tenang, tetapi ia mulai cemas. Rey sekarang sekuat tenaga untuk menahan getaran di kakinya. Ia tahu dirinya tidak cukup kuat untuk melawan jenderal ras iblis. Ia akan dikalahkan hanya dalam satu serangan.
Rey segera menghindar dan melompat sejauh mungkin. Ia segera bersembunyi di balik pohon. Rey bergerak cukup cepat dari satu pohon ke pohon lain. Ia sedikit bersyukur bakatnya sebagai Assasin tidak luntur.
"Bersembunyi tidak akan membuat dirimu selamat. Tinggal menunggu waktu sebelum kau mati di tanganku!" teriak Raph keras membuat burung-burung beterbangan.
__ADS_1
Rey terdiam di tempat. Ia masih belum berniat untuk bergerak. Walaupun ia cukup ahli berpindah dari satu pohon ke pohon lain, tetapi hal itu tak akan menjamin kemenangannya.
"3 menit. Jika aku bisa menahan monster itu 3 menit lagi, aku yakin Vale akan bisa menuntaskan tugasnya," gumam Rey pada dirinya sendiri.
Rey menghela nafasnya sebelum mengeluarkan dua lusin pisau lempar dari dalam penyimpanannya. Rey segera menyisipkan pisau-pisau itu di pakaiannya. Ia harus menyerang duluan.
Rey menghirup nafas dalam-dalam sebelum melesat cepat berpindah pohon dan melemparkan pisaunya cepat. Raph menyadari serangan Rey dan menangkisnya cukup mudah. Namun, Rey telah hilang saat ia hendak memberikan balasan.
Rey kembali melesatkan pisaunya. Walaupun ia tahu serangan itu tidak akan mempan, Rey ingin serangan itu cukup untuk memperlambatnya. Namun, kali ini Raph mengayunkan pedangnya ke salah satu pohon. Saat itulah sebuah tenaga pedang keluar dari pedangnya dan menghantam pohon. Pohon itu tumbang dengan segera.
"Keluarlah semut kecil. Atau kau mau aku menghancurkan seluruh hutan ini?" Dia bertanya dengan nada tinggi. Tak ada keraguan dalam perkataannya.
Rey berdecak pelan sebelum keluar dari persembunyiannya. Tak lupa
, Rey segera melemparkan 4 buah belati sekaligus. Sialnya, belati itu cukup mudah ditangkis oleh Raph. Rey menggertakkan giginya dengan kesal melihat hal itu.
"Kulihat kau percaya diri dengan kekuatanmu, seolah-olah kau bisa mengalahkanku hanya dalam beberapa tarikan nafas saja," ucap Rey.
"Memang. Karena itu aku ingin memberikanmu kematian yang cepat," balas Raph sambil berjalan pelan ke arah Rey.
"Tidak buruk. Kalau begitu, bagaimana jika aku menantangmu." Senyum Rey semakin lebar. Ia lalu menunjukkan tiga jari tangan kanannya pada pria itu. "Aku akan memberikan tiga serangan. Jika kau terluka karena salah satunya, biarkan aku pergi."
"Hooh? Semut kecil sepertimu berani mengajukan tantangan pada singa sepertiku? Baiklah, aku terima." Ia menghentikan langkahnya segera. Dengan senyum liciknya, ia membuat pedang di tangan kirinya menghilang. "Tapi jika kau kalah, kau harus menjadi anak buahku hingga ajalmu."
Rey mengangguk, ia tidak keberatan dengan hal itu. Rey kembali mencabut pedangnya. Dengan kecepatan tinggi, Rey segera melesat ke depan dan memberikan tebasan menyilang pada Raph.
"Slash!"
Rey mundur cukup jauh saat melihat tebasannya tidak berarti apa-apa. Hanya pakaian pria itu yang rusak karena tebasan Rey. Tidak terlihat ada luka mau pun darah.
__ADS_1
"Kau merusak bajuku. Setelah kau menjadi anak buahku, aku akan menghukummu," ucapnya sambil menatap Rey tajam.
Rey melirik ke belakang. Dia tahu Psycho-B sedang dalam perjalanan. Pandangan Rey lalu beralih ke arah Vale yang telah berhasil mengeluarkan semua Dark Elf.
Hanya saja, Vale sengaja tidak mengeluarkan Goblin. Sebenarnya Rey juga setuju dengan tindakannya.
Rey mengangguk sebelum mengedipkan matanya sekali. Vale segera mengerti kode tersebut dan masuk ke dalam hutan. Rey berhasil memancing seluruh perhatian pasukan Ogre hingga tidak ada yang menjaga kurungan. Ia tersenyum lebar karena rencananya berhasil.
"Baiklah, aku yakin serangan ini akan berhasil. Berhasil atau tidak pun, aku juga tidak akan mengikuti kesepakatan," gumam Rey pelan pada dirinya sendiri.
Dengan tenang, Rey menutup matanya dan mengambil kuda-kuda. Rey menggenggam pedangnya erat. Ia mengalirkan begitu banyak Mana ke dalam satu serangan ini.
"Chaos Heart!"
Rey terus mengalirkan Mana ke dalam pedangnya. Bahkan sudah 20% Mana yang ia miliki habisi dalam serangan ini. Rey sungguh berharap serangan ini dapat melukai Raph.
"Bersiaplah!" Rey berteriak kencang. Ia lalu melesat ke depan dengan kecepatan tinggi. Raph segera menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh karena keyakinan yang terpancar di mata Rey.
"Chaos Wave!" Rey mengayunkan pedangnya cepat tepat di depan tubuh Raph. Sebuah gelombang pedang menghantam Raph dan membuat suara. Seolah-olah serangan Rey menghantam sebuah benda keras.
Asap segera mengepul. Tak berselang lama Raph termundur dari kepulan asap itu. Tangannya bersimbah darah yang segera jatuh ke tanah. Ia sungguh tidak percaya Rey dapat melukainya. Walaupun regenerasi yang ia miliki cukup cepat, tetapi itu semua tidak sebanding dengan harga dirinya yang kalah karena manusia lemah.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa menggunakan elemen Chaos?" tanya Raph dengan nada tinggi. Ia sungguh marah kali ini dan tak berniat melepaskan Rey.
Perlahan, debu-debu yang semula beterbangan mulai hilang. Saat itulah terlihat, bukan satu melainkan ada 6 orang sekaligus di dalam kepulan asap. Awalnya samar, tetapi semakin lama semakin jelas. Bantuan Rey telah datang. Rey berdiri paling depan dengan teman-temannya di belakang.
"Tujuan utama kita saat ini melarikan diri. Bagaimana pun kita saat ini, kita tak cukup kuat mengalahkan dia," ucap Rey sambil melirik teman-temannya. "Yun dan aku akan menyibukkan dirinya. Di saat yang tepat, bekukan dia. Heilige bantu jauhkan Ogre yang berusaha mendekat. Celine dan Psycho-B usahakan tutup celah kami berdua. Dan PeAce." Rey mengalihkan pandangannya ke depan. "Gunakan kekuatan tersembunyi yang kau miliki. Aku yakin itu cukup berguna untuk melawannya." Rey menutup penjelasannya.
"Vale, bantu aku!" pekik Rey keras sambil melesat ke depan. Yun segera mengikutinya, begitu juga Heilige dan PeAce. Psycho-B mulai membidik lawan, sedangkan Celine merapal mantra. Vale segera keluar dari salah satu pohon dengan tombak miliknya. Walaupun lawan mereka adalah jenderal ras iblis terkuat, mereka tidak ragu bertarung langsung dengannya.
__ADS_1