
"Kau lebih kuat daripada yang terlihat," ucap wanita itu.
"Aku anggap itu sebagai pujian."
Rey mengangguk. Memang jika hanya melihat peralatan yang ia pakai, kualitasnya sedikit lebih buruk. Rey beberapa hari terakhir cukup sibuk sampai-sampai peralatannya cukup jauh di bawah levelnya. Namun walaupun begitu, Rey tetap bisa mengeluarkan kekuatannya. Ia saat ini sedang sendiri hingga ia mendapatkan bonus Job miliknya.
Rey mengedarkan pandangannya. Ia tahu Randi yang mengirim wanita bertopeng ini padanya. Namun jika hanya wanita ini, Rey tidak akan terlalu sulit mengalahkannya. Rey bisa merasakan kekuatannya jauh di atas wanita ini dari pertukaran serangan beberapa saat yang lalu.
"Randi pasti tidak hanya mengirim dirimu. Benar 'kan?" Rey menebak dengan tersenyum khas dirinya dari balik topeng.
"Untuk seorang pria, kau cukup pintar. Terlebih bisa membuat kota ini kacau. Kau yang menghasut warga di kota ini 'kan?" Kinj giliran wanita itu yang menebak. Rey lebih memilih mengangkat pedangnya daripada menjawab.
"Kau tahu sesuatu? Kami selalu melakukan misi sepenuh hati walaupun tahu misi kami sangat berbahaya," katanya sambil ikut mengangkat pedang, "itu juga berarti kami tidak takut akan kematian."
Wanita itu berlari ke arah Rey cukup cepat, bahkan lebih cepat daripada sebelumnya. Rey sedikit terkejut hingga tidak bisa menyambut serangan itu cukup baik. Rey termundur ke belakang dan hampir jatuh. Untuk saja di saat-saat terakhir Rey berhasil mengembalikan keseimbanganya.
"Slash!" Sebuah tebasan menghantam pedang wanita itu. Rey memang tidak ingin bermain-main, ia tidak punya waktu untuk itu. Ada hal lain yang harus Rey lakukan.
Rey mempercepat gerakannya saat melihat tebasannya berhasil melukai pergelangan tangan wanita itu. Rey bahkan mengaktifkan skill chaos heart sehingga pedangnya menjadi lebih tajam.
Jika tebakan Rey benar, pasti teman-temannya juga sedang bertarung melawan Assasin seperti ini. Rey tidak mengkhawatirkan Psycho-B dan Yun, hanya saja Celine pasti kesulitan jika melawan seorang Assasin tanpa ada yang menjaganya.
"Chaos Wave!" Sebuah gelombang pedang menghantam pedang wanita itu. Ia meringis kesakitan. Tangannya segera berdarah. Rey sangat terkejut melihat hal itu.
"Darah? Dia NPC?" gumam Rey.
__ADS_1
Rey tersenyum pahit sebelum bersiap untuk melakukan tebasan lain. Ia sebenarnya tidak ingin membunuh NPC, tapi hal ini harus dilakukan. Jika tidak, ia dan teman-temannya akan menderita di MMO.
Rey mengayunkan pedangnya. Skill Chaos Wave kembali mengarah ke wanitu. Rey segera membalikkan badan, ia tidak ingin melihat darah tumpah dari tubuh wanita itu. Bukan karena takut, tetapi setelah bertualang dengan Selena ia begitu menyadari nyawa NPC begitu berharga. Karena itu Rey sedikit menyesal telah membunuh wanita itu.
Rey melompat ke jalanan yang cukup sepi. Ia bisa mendengar teriakan warga yang berada di sisi lain kota. Rey bersyukur rencananya masih berjalan mulus. Pria itu semakin mempercepat langkahnya. Ia harus segera menuju titik pertemuan. Jika Celine tidak ada di sana, Rey harus menjemputnya.
Tak butuh waktu lama, Rey segera tiba di sebuah air mancur. Rey bisa melihat Celine dan Psycho-B menunggunya dengan kewaspadaan penuh. Mereka segera melambai senang saat melihat Rey datang ke arah mereka.
"Kalian menemukan masalah saat menyebarkan berita tadi?" tanya Rey sambil berusaha mengatur pernafasannya. Ia mengedarkan pandangannya. Tak terlihat Yun di mana pun.
"Yun mana?" Belum sempat Psycho-B menjawab, Rey sudah bertanya lagi. Psycho-B menggeleng pelan sambil tersenyum kecut.
"Memangnya kenapa? Mungkin dia hanya terlambat. Atau ...."
"Atau ada yang membuatnya sengaja terlambat," ucap Psycho-B melanjutkan perkataan Celine.
Psycho-B tersenyum pahit sebelum menatap wanita di sampingnya. Psycho-B menghela nafas sebelum mengangkat senapannya.
"Kita tidak memiliki seseorang yang bisa menjadi tanker. Jadi bagaimana cara kita menyusup?" tanya Celine.
"Mudah. Ikuti aku," ucap Psycho-B dan segera berlari diikuti oleh Celine. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan dari balik sebuah bangunan.
***
Yun kembali membuat sebuah pedang es lainnya. Tiga pedang es miliknya patah hanya dengan beberapa kali berbenturan dengan lawannya. Ia sudah berhasil menghabisi satu lawannya, tetapi saat ia hendak pergi muncul dua orang rekan lainnya.
__ADS_1
Ia sungguh saat ini ingin menggunakan skill ice soul, tapi skill itu sedikit berbahaya jika ia gunakan di wilayah kota.
"Menyerah saja. Kau bukanlah lawan kami." Salah satu dari assasin itu berkata dengan angkuh. Yun menggertakkan giginya saat dua orang assasin itu maju bersamaan. Yun bersiap untuk menyambut serangan mereka berdua, tetapi sebuah pisau melesat cepat dan menancap di tanah. Saat itulah Rey seolah jatuh dari langit dan mengayunkan pedangnya. Sebuah gelombang pedang berwarna gelap mengarah ke arah dua assasin itu. Namun, di detik-detik terakhir mereka bisa menghindarinya.
"Maaf aku terlambat." Rey mendarat sempurna dan segera mengangkat pedangnya.
"Tidak. Kau tepat waktu. Nampaknya aku diselamatkan oleh dirimu lagi." Yun tersenyum senang karena keberadaan Rey. Ia juga segera mengangkat pedang es miliknya.
"Kau pasti belajar dari pengalamanmu. Mari kita lihat sejauh mana dirimu berkembang," sahut Rey sambil maju ke depan terlebih dahulu. Yun segera mengikuti dari belakang dengan menodongkan pedangnya.
Rey berlari ke arah seorang assasin. Dengan sigap, Rey menangkis serangan orang itu dengan membelokkan serangannya ke samping. Saat itulah Rey merendahkan tubuhnya. Pedang Yun telah bersiap menusuk dada lawannya.
Namun, serangan mereka gagal karena rekannya datang menghalau serangan Yun. Rey kembali bergerak cepat ke depan saat melihat lawannya hendak mengambil langkah mundur. Pria itu mengeluarkan beberapa pisau kecil dan melemparkannya ke depan dengan tangan kiri. Rey lalu mengerahkan skill chaos wave. Pisau itu pun bertambah kecepatannya. Namun kedua assasin itu bisa menghindarinya dengan mudah.
"Yun!"
Yun segera mengerti dengan kode yang Rey berikan. Ia lalu menendang tanah, seketika tanah menjadi di lapisi es membuat lawan sulit bergerak bebas. Rey melompat ke depan.
"Aku selalu ingin mencoba hal ini." Rey tersenyum. Ia berputar sambil mengayunkan pedangnya. Kekuatan serangan Rey bertambah hingga membuat kedua assasin itu tidak sanggup menahannya. Mereka segera jatuh tergelincir, begitu pula dengan Rey karena tanahnya begitu licin. Ia mendarat dengan tidak sempurna.
Namun, Yun begitu gesit. Ia seolah berjalan di tanah biasa. Dengan cepat, Yun menusuk dada assasin itu. Saat Yun berniat menghabisi rekannya, Rey segera berteriak menghentikannya. Rey menghela nafas sebelum mencoba bangkit dengan bantuan pedangnya.
Rey mengaktifkan skill chaos heart miliknya dan melelehkan es yang melapisi tanah. Rey berjalan pelan ke arah assasin yang sudah tidak berdaya itu. Mungkin pertarungan bisa saja menjadi lebih lama jika Rey tidak bersama Yun. Namun kombinasi antara Rey dan Yun begitu mematikan. Tidak ada yang bisa lolos jika mereka berdua telah bekerja sama.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Rey. Assasin itu diam dan tak hendak menjawab. Rey mengajukan pertanyaan yang sama sekali lagi. Namun, wanita itu menoleh pun tidak membuat Rey menjadi sedikit lancang.
__ADS_1
"Maaf jika aku lancang," ucap Rey. Saat itulah ia menarik lepas jubah assasin itu.
Ia memakai pakaian berwarna putih sepenuhnya. Lalu ada sebuah gelamg hitam di pergelangan tangan kanannya. Rey terkejut saat menyadari ada dua lambang yang cukup aneh. Sebuah awan hitam dan logo tengkorak bermata merah. Lambang yang selalu membawa malapetaka.