Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 91: Pemanah Terhebat di Masa Lalu


__ADS_3

Rey melompat ke belakang cepat untuk menghindari serangan monster di hadapannya. Monster berbentuk macan dengan ekor berbentuk kepala ular itu kembali bergerak cepat menuju Rey dan temannya. Rey segera mendorong temannya itu ke kiri, lalu ia melompat cepat ke kanan.


"Hati-hati. Dia memiliki kecepatan yang tidak biasa," ucap Rey pada temannya itu.


"Iya, Kak." Perempuan itu mengangguk pelan. "Kudengar monster seperti ini juga memiliki mode Rage."


Rey memang sudah mendengar banyak pemain yang mencoba mengalahkan monster di hadapan mereka, tetapi tidak ada yang bisa menang. Rey sendiri sebenarnya tidak sengaja bertemu monster itu saat ia sedang menjelajah sebuah gua. Jika saja di luar tidak sedang hujan, ia pasti tidak akan bertemu monster itu.


"Lakukan seperti biasa. Aku akan memancingnya, lalu kau buat tipuan lain. Saat itu aku akan mencoba menjatuhkannya. Usahakan kau segera menghabisinya setelah itu. Ayo!" Rey segera berlari ke depan diikuti temannya itu.


Monster berbentuk macan itu meraung keras sebelum berlari cepat ke arah mereka berdua. Macan itu lalu meloncat untuk menerkam Rey. Rey menunduk hingga macan itu tepat melintas di atasnya. Saat itulah ia melayangkan pukulan keras.


"Sekarang!" seru Rey cepat.


Perempuan itu bergerak cepat dengan dua pisau di tangannya. Ia lalu melemparkan dua pisaunya pada macan yang sedang mencoba bangkit itu. Namun bukannya mengenai sang macan, pisau itu hanya lewat di kedua sisinya. Rey tersenyum sambil bergerak cepat dari samping. Ia lalu melompat dan menendang secara berputar tepat di keempat kaki berbulu monster itu.


Moneter itu jatuh ke tanah. Rey dengan cepat naik ke atas monster itu. Ia segera menarik ekor berbentuk kepala ular itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menarik kepala macan itu ke atas.


"Akhiri!" teriak Rey keras.


Perempuan itu segera menarik pisau lain di pinggangnya. Dengan cepat, ia mengayunkan pedangnya ke arah leher macan itu. Darah segar keluar dari sana yang segera membasahi pakaiannya. Monster itu pun mati di tangan mereka berdua.


"Kurasa ini bukan monster yang dimaksud orang-orang. Dia terlalu lemah," ucap Rey sambil turun dari mayat monster itu.


"Benar, kak!" sahut perempuan itu.


Rey segera menyarungkan kembali pedangnya. Ia berniat mencari drop item yang dikeluarkan monster itu. Namun, tiba-tiba sebuah panah melesat cepat ke arahnya. Untung saja Rey memiliki reflek yang sangat bagus hingga bisa menghindari serangan tiba-tiba itu.


Mereka berdua segera memandang ke mulut gua. Seseorang dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya berdiri di sana. Ia menggenggam sebuah busur dan begitu banyak anak panah di punggungnya.


"Siapa?" tanya Rey dingin sambil menarik pedangnya sekali lagi.


"Eh? Suara ini ...." Orang itu berucap pelan. "Kau?"


Orang misterius itu menurunkan busurnya. Ia segera berlari ke arah Rey.

__ADS_1


"Rey!"


"Rey"


***


"Rai!"


Raihan terperanjat kaget dari tidurnya karena sebuah tepukan keras di bahunya. Ia segera menoleh dan menemukan abangnya yang membangunkan dirinya.


"Kenapa? Aku masih ngantuk," ucap Raihan malas. Ia sebenarnya paling tidak suka dibangungkan secara paksa saat sedang tidur.


"Sadar gak?" Renaldi berucap pelan sambil mengangkat kepala adiknya, "ayah udah dibolehin pulang. Baru aja yang lain pulang."


Raihan terkejut saat melihat ruangan rawat ayahnya telah kosong. Ia buru-buru melihat jam di tangannya yang telah menunjukkan jam 9 pagi. Ia sungguh tidak sadar bahwa ia bangun kesiangan.


"Barang-barangmu udah dibawa Bang Rifki. Ayo pulang!"


Raihan menguap sekali lagi sebelum bangkit dari kursi itu. Ia tidak sadar bahwa ia tertidur dalam posisi duduk semalaman. Dengan enggan, ia lalu melangkah mengikuti abangnya keluar dari ruangan itu. Mereka segera menuju tempat parkir.


Raihan mengusap matanya sejenak sebelum berjalan menuju sebuah motor sport biru dengan abangnya. Mereka segera menaiki motor itu. Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Raihan segera mengemudikan motor itu cepat dan keluar dari area rumah sakit.


Karena jalanan terbilang cukup sepi, Raihan segera mengakselerasi motornya. Ia sungguh ngantuk untuk saat ini dan ingin cepat-cepat tidur.


"Aku baru sadar," celetuk Raihan. "Yang bawa motor aku, kenapa abang yang pake helm?" Raihan melirik ke belakang tanpa sedikit pun menurunkan kecepatan.


"Aku tahu kau akan bawa motor cepat. Jadi kalo tiba-tiba kita jatuh dari motor, kepalaku akan aman," sahutnya sambil tertawa keras.


"Sialan!" umpat Raihan pelan sambil menambah kecepatan motornya.


Tak butuh waktu lama, mereka segera tiba di kompleks Perumahan Permata yang merupakan tempat tinggal mereka saat ini. Sebuah rumah besar dengan dua tingkat. Dindingnya dicat warna biru dengan beberapa campuran hijau. Taman bunga di pekarangan rumah itu begitu indah hingga membuat rumah itu tampak sangat asri dan nyaman untuk ditinggali.


Raihan segera memasuki area rumah itu dan memarkirkan motor di depan rumah. Ia lalu turun dan menatap rumah di hadapannya dengan perasaan sedih. Ada rasa nostalgia di hatinya saat melihat rumah di hadapannya itu.


"Terakhir kali kau ke rumah ini, mungkin saat kecil, 'kan?" tanya Renaldi yang telah turun dari motor.

__ADS_1


"Ya," sahut Raihan, "saat umur 7 tahun, kita pindah ke kota. Lalu saat kejadian itu, kalian kembali ke rumah ini dan aku di rumah paman untuk melanjutkan sekolahku. Jadi udah lebih satu dekade aku tidak ke rumah ini."


"Kau tahu gak? Ini dulu rumahnya ibu loh," ujar Renaldi memberi tahu.


"Serius? Aku baru tahu. Jadi rumah ayah sebelumnya di mana?"


"Kalo itu aku tidak tahu. Tapi ...." Renaldi diam sejenak sebelum berjalan ke arah adiknya. "Tapi sepertinya ayah dan ibu seperti menyembunyikan sesuatu dari kita."


"Apa?"


"Entahlah. Bang Rifki dan aku sedang mencari tahunya saat ini. Karena kau sudah lumayan besar dan bisa diandalkan, aku bisa berbagi apa saja yang telah kami temukan di rumah ini," ucap Renaldi sambil kembali duduk di atas motor.


"Di lantai 2 rumah ini, ada ruangan yang selalu dikunci. Jadi aku pergi ke balkon dan memanjat ke ruangan itu saat malam-malam. Aku mencoba membuka paksa jendela ruangan itu. Untung saja ruangan itu terbuka. Di sana banyak sekali kotak-kotak. Namun, ada sesuatu di salah satu kotak. Foto ayah sedang mengangkat sebuah piala."


Raihan terdiam. Ia baru tahu hal itu. Jika ia ingat-ingat lagi, dirinya tidak pernah tahu kehidupan ayahnya di masa lalu. Dirinya juga tidak pernah bertanya.


"Lalu?" tanya Raihan. Ia sangat penasaran sekarang.


"Di balik foto itu ada sebuah kode. Aku dan Bang Rifki tidak mengerti kode itu. Jadi ...."


"Dasar," ucap Raihan pelan. "Kalian sengaja memberitahukan hal ini karena kalian tidak mengerti kode itu. Jika kalian tahu, pasti kalian tidak ingin memberitahukannya padaku. Jadi, perkataan abang bahwa aku sudah besar dan bisa diandalkan hanya pemanis. Sialan emang" Raihan menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan. Dia sungguh diperalat oleh kedua abangnya.


"Hehe, kau 'kan memang bisa diandalkan. Jadi kami butuh bantuanmu." Renaldi ikut tertawa pelan karena adiknya bisa menebak jalan pikirnya.


"Sudahlah, nanti kita bahas lagi. Mari masuk! Pasti ibu sudah menunggu." Renaldi segera melangkah masuk diikuti Raihan.


"Ngomong-ngomong, kalian ada VR Gear lebih gak? Mungkin aku akan tinggal di sini selama beberapa pekan."


"Kebetulan. Aku baru beli yang baru dua hari yang lalu. Setelah masuk, kau berbincang-bincang aja dulu dengan ibu dan ayah. Nanti siang aku, kau, Bang Rifki, dan Jay akan rapat masalah semalam. Bagaimana?" tanya Renaldi.


"Boleh. Sekalian aku ingin minta tolong ke kalian," sahut Raihan. "Aku ingin kalian menyelidiki keberadaan seseorang di MMO."


"Siapa?"


"Pemanah terhebat di masa lalu."

__ADS_1


__ADS_2