
"Aku akan membantumu," teriak PeAce. Rey segera berbalik dan menatap perempuan itu tajam.
"Jangan!"
"Kau bukanlah siapa-siapaku. Kau tidak berhak mengaturku!" teriak PeAce kesal. Rey terdiam mendengar hal tersebut. Ia berbalik lagi dan membisu. PeAce menyesali ucapannya. Ia telah salah bicara.
"Deon, Minggir!" ucap PeAce pelan sambil melangkah maju.
"Ta-tapi ...."
"Minggir!" PeAce tak berniat mendengarkan penjelasan Deon. Deon segera minggir setelah mendapatkan tatapan tajam dari PeAce.
PeAce segera melesat. Kurang dari sepuluh detik, ia telah tiba di sebelah Rey sambil menggenggam pedangnya. Ia menatap Rey yang memasang wajah datar itu.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya PeAce pelan. Ia yakin dan percaya Rey mempunyai sebuah rencana. Namun, PeAce tak mendapatkan jawaban apa pun. Bahkan Rey melirik pun tidak.
"Lihat! Laki-laki itu dingin kepadamu." Orion tertawa lantang. Rey segera maju dan mengayunkan kedua pedangnya. Lagi-lagi Orion tak menghindar sedikit pun dan membiarkan tubuhnya ditebas oleh Rey.
Sebenarnya Orion sadar bahwa Rey bukanlah pria biasa, selain ia adalah Black Kenshi Rey, ia juga orang yang licik. Orion bahkan mendengar desas desus dibalik pertempuran antara Guild Aozora dan Azure Rose melawan Guild Light Crusader. Setiap serangannya juga lincah dan tajam, tapi Orion tetap tak berniat menghindari serangan yang diberikan Rey karena ia kebal dengan serangan fisik. Ia tertawa lantang saat melihat ekspresi Rey.
Rey berdecak kesal. Ia menyadari serangan yang ia lancarkan tak berarti. PeAce melesat dengan cepat. Sebuah bola air keluar dari tangan kirinya dan melesat mengenai Orion. Orion termundur beberapa meter. Ia menatap PeAce tajam.
"Kau juga pengguna Archaic Sagacity? Dan serangan tadi, Blood of Horus?" Orion tersenyum lebar. Bukannya waspada ataupun berhati-hati, ia malah bahagia. Walaupun ia tahu PeAce adalah pengguna Blood of Horus, tetapi elemen yang ia miliki adalah elemen air. Sedangkan air adalah konduktor dari listrik.
Rey menyadari tatapan Orion yang kini menjilat bibirnya pelan. Ia tahu apa yang dipikirkan lelaki di hadapannya itu. Ia memang menyesali sedikit keputusan PeAce yang menyerangnya secara terburu-buru.
Orion mengangkat sebelah tangannya. Rey segera melompat saat menyadari sebuah kilatan petir yang menuju ke arahnya. PeAce di sisi lain kembali menyerang Orion dengan kekuatan yang ia miliki.
Di saat Orion disibukkan oleh PeAce, Rey meminum beberapa ramuan. Ia berniat memulihkan mana yang ia miliki. Jika ingin membunuh Orion, ia harus dalam kondisi prima.
Mata Rey membesar. Ia menatap pergelangan tangan PeAce yang telah di tangkap Orion. Orion tersenyum lebar sebelum menangkap satu tangan yang lain. Rey segera maju dan mengangkat kedua pedangnya.
"Lepaskan dia!" ucap Rey dingin.
__ADS_1
"Bermimpilah."
"Lepaskan dia sebelum aku memaksa," kata Rey lagi sambil melihat bar mana yang ia miliki telah penuh.
"Memaksaku? Bahkan seranganmu tak dapat melukaiku." Orion kembali tertawa lantang sembari menguatkan pegangannya karena sedari tadi PeAce selalu memberontak.
Rey berjalan pelan. Ia tersenyum lebar. Orion menatap pria itu tajam. Ia sudah berkali-kali melawan Rey, dan yang selalu membuatnya waspada adalah senyuman membunuh pria itu, selalu ada hal yang berbahaya saat Rey tersenyum. Orion segera melepaskan PeAce saat Rey telah berada di dekatnya. Rey mengayunkan pedang di tangan kirinya cepat. Orion secara reflek menghindar, tapi serangan itu masih mengenainya. Orion bingung saat pedang itu kembali menembus tangannya. Orion tertawa lantang. Saat itulah Rey kembali mengayunkan pedangnya cepat.
"Chaos Heart! Slash!" Rey menebas secara menyilang. Orion terpental jauh karena serangan itu. Orion mengumpat keras saat menyadari ia telah ditipu. Rey sedari tadi belum mengeluarkan kemampuan penuhnya.
[Anda terkena serangan elemen Chaos
Setiap serangan yang memiliki elemen Chaos akan dilipatgandakan sebanyak 300%]
"Kau? Bagaimana bisa kau memiliki elemen Chaos?" Orion berteriak kesal. Ia mengumpat beberapa kali karena tak menyangka Rey memiliki elemen khusus itu. Ia tak mungkin menang jika ia dalam situasi seperti ini.
Rey tersenyum lebar menatap Orion yang mulai kebingungan. Rey lalu berjalan pelan ke arah PeAce dan membantunya berdiri tanpa berbicara sepatah kata pun, Rey kembali menatap Orion dengan senyuman membunuh.
"Jangan berpikir kau bisa kembali dengan tenang," ucap Rey menyadari tindakan Orion untuk kabur. Rey segera menutup jarak di antara mereka. Ia kembali mengayunkan pedang di tangan kanannya dengan cepat. Orion tak dapat menghindar dan menggunakan pedangnya untuk menahan serangan tersebut, tapi ternyata serangan Rey tak berhenti di sana. Ia mengayunkan pedang di tangan kirinya cepat. Orion melompat kebelakang saat menyadari serangan tersebut.
Sebuah goresan, tercipta di pipi kanannya. Ia kembali mengumpat kesal sambil menatap Rey penuh kebencian.
Rey kembali melesat cepat dan melancarkan serangannya. Setiap tebasan yang ia lakukan memiliki pola-pola yang tak dapat ditebak oleh Orion hingga memaksanya untuk menyambut serangan tersebut. Sedangkan jika ia menghadang serangan itu dengan pedangnya, Rey akan melakukan tebasan lain menggunakan pedang keduanya.
"Pola serangannya begitu beragam dan kreatif. Dia melakukan serangan ke arah bagian yang sulit dilindungi dan tak membiarkan lawan menyerang balik. Aku bodoh jika tadi sempat mendoakannya untuk baik-baik saja," gumam Cold sambil memperhatikan dari jauh. Ia tertawa pelan sebelum kembali menyerang lawannya.
Orion biasanya selalu tenang saat menghadapi masalah apa pun. Bahkan jika Nirvana Garden diserang sekalipun, ia tetap bisa memikirkan solusinya dengan kepala dingin. Namun, entah karena apa, setiap ia bertemu dengan Rey ia selalu menjadi naif dan terburu-buru, emosinya dengan mudah terpancing. Karena itulah ia paling menghindari pertarungan melawan Rey.
Sejak dulu pada masa God Reason, Orion dan Rey memang selalu bertarung saat bertemu. Mereka adalah musuh bebuyutan. Dan setiap pertarungan mereka selalu dimenangkan oleh Rey hingga membuat kebencian yang tertanam dalam diri Orion menjadi besar. Alasan terbesar mereka selalu bermusuhan adalah karena wanita yang berada di dekatnya itu. PeAce, sang Sage terbaik yang dijuluki Holy Goddess pada masanya.
Orion termundur kembali karena serangan Rey. Hp yang ia miliki kini tak lebih dari 20%. Serangan yang dikeluarkan oleh Rey begitu besar, terlebih ia berada dalam kondisi yang tak menguntungkan. Ia lalu memandang Cold yang baru saja menghabisi dua rekannya, menyisakan seorang lagi. Ia tak akan bisa kabur, melawan pun juga percuma.
"Aku akan membunuhmu suatu saat nanti," ucapnya sambil menatap Rey kesal.
__ADS_1
"Katakan itu saat kau memiliki kekuatan untuk melakukannya," balas Rey. Ia mengumpulkan semua tenaga yang tersisa untuk melancarkan serangan terakhirnya.
"Chaos Wave!" Dua gelombang energi pedang berwarna hitam melesat cepat menghantam tubuh Orion. Sebagai pengguna Archaic Logos, elemen Chaos adalah kelemahan terbesarnya. Serangan tersebut cukup untuk membunuh dirinya, walaupun levelnya jauh dari Rey sekalipun.
Deon dan Lluminos bersorak menang diikuti Scream serta Heilige. Cold tersenyum senang sebelum menghabisi lawan terakhirnya. PeAce sendiri terdiam, begitu pula dengan Rey. Ia menghela nafas dan memantapkan pilihannya. Ia lalu berjalan pelan ke arah Rey.
"Rey," panggilnya saat berada di belakang Rey. Orang yang dipanggil pun berbalik. Ia menatap PeAce datar sebelum tatapannya beralih ke arah Deon. Deon menyadari tatapan itu lalu menepuk bahu Lluminos. Saat itulah Lluminos tersadar dan bergerak cepat hingga ia tiba di samping PeAce.
"Maafkan aku," ucap Lluminos pelan. Ia segera memegang tangan PeAce erat. Cold serta Scream yang melihat kejadian itu menjadi bingung. Heilige sendiri hendak maju, namun ia ditahan oleh Deon.
"Biarkan," ucap Deon ke arah Scream yang terlihat hendak bergerak. Mendengar itu, Scream batal melangkah.
"Lepaskan!" PeAce memberontak. Ia berusaha melepaskan pegangan tangan Lluminos, namun sayangnya kekuatan lelaki itu lebih besar daripada dirinya.
"Sampai jumpa. Dan ... maaf." Rey berbalik.
"Berhenti! Jangan pergi!" teriak PeAce sambil terus berusaha melepaskan dirinya dari Lluminos. Rey tak menghiraukannya. Ia masih saja berjalan menjauh.
"Aku bilang berhenti!"
Rey menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. Tatapan yang ia berikan masih saja datar. "Kau bukan siapa-siapa diriku. Kau tidak pantas memerintahku," ucap Rey sambil melanjutkan langkahnya.
Hati PeAce seakan dicabik-cabik mendengarkan perkataan Rey tersebut. Air matanya segera keluar deras. Ia berhenti memberontak dan menatap Rey diam tanpa bersuara. Ia sadar bagaimana perasaan Rey saat dirinya mengatakan hal tersebut padanya, dan kini Rey membalas hal tersebut.
Heilige bergerak cepat tanpa memperdulikan Deon, begitu pun dengan Scream. Kedua orang itu segera memeluk temannya memberikan kehangatan seorang teman. Lluminos melepaskan tangannya dan bergabung dengan Cold serta Deon.
"Mereka sebenarnya ada masalah apa?" tanya Deon pada Cold yang baru saja tiba di sampingnya.
"Aku tidak pantas menceritakannya. Yang jelas, ego seorang lelaki terutama Rey begitu besar," jawab Cold.
"Ya, kalo itu aku juga tahu," balas Deon lalu kembali menatap PeAce.
Hari itu, dua legenda yang sama-sama mencapai puncak pada masanya, kembali harus dipisahkan oleh ego salah satunya.
__ADS_1