Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 23: Rage


__ADS_3

Rey kembali terhubung MMO pada pagi harinya. Ia segera keluar dari penginapan itu. Rey menoleh ke kanan dan kiri. Ia sedikit bingung karena penginapan ini begitu sepi, padahal saat ia datang semalam ada setidaknya 3 kereta kuda di depan penginapan itu. Rey menghela nafasnya. Ia segera melangkah pelan menuju gerbang desa. Ia harus ke Midgard Tengah dengan cepat.


Rey menoleh ke kanan dan kiri. Walaupun tempat yang ia kunjungi ini adalah sebuah desa, namun ukurannya sedikit lebih besar daripada desa biasa. Rumah-rumah di desa ini kebanyakan adalah bangunan dengan dua tingkat. Lalu terlihat juga banyak toko-toko yang menyediakan peralatan untuk berpetualang. Namun sedari tadi pikiran Rey sedikit terganggu. Walaupun desa ini lebih besar daripada kebanyakan desa lainnya, tapi kondisi ekonomi di desa ini sedikit lebih buruk. Bisa dilihat bahwa banyak orang-orang miskin disini. Tak sedikit juga Rey melihat  pengemis di pinggiran jalan. Bahkan anak-anak di desa ini lebih kurus dari anak-anak seusianya.


Walaupun sebenarnya Rey ingin pura-pura tidak peduli, namun ia segera teringat masa lalunya. Terlebih ekspresi yang ditunjukkan oleh NPC ini begitu nyata hingga sulit untuk Rey mengabaikan kondisi desa ini. Setelah memperkuat tekadnya, ia segera menyapa seorang anak kecil yang baru saja melintasinya.


"Halo adik kecil," sapa Rey sambil tersenyum hangat. Orang yang dipanggil Rey pun segera menoleh dan memasang ekpresi bingung.


"Kakak ingin bertanya. Rumah kepala desa dimana yah?" tanya Rey sambil berlutut agar  posisinya setara dengan anak kecil itu.


"Itu kak. Nanti.." Anak kecil yang terlihat kurus itupun menjelaskan dengan singkat, namun akurat. Rey sendiri bisa memahami dengan cepat akan penjelasan anak kecil itu. Setelah selesai, Rey memberikan beberapa keping perak pada anak kecil itu. Anak kecil itu tersenyum senang dan berterima kasih pada Rey.

__ADS_1


Rey pun bergegas melangkah menuju rumah kepala desa sesuai yang ditunjukkan oleh anak kecil tadi. Tak butuh waktu lama untuk Rey menemukan rumah yang ia cari karena bangunan di hadapannya itu terlihat berbeda daripada bangunan lain di desa ini. Rey segera masuk ke pekarangan rumah itu dan mengetok pintunya.


"Sebentar." Terdengar suara seseorang dari dalam. Walaupun Rey tak begitu mendengarnya dengan jelas, namun kedengarannya seperti seorang perempuan. Pintu pun terbuka dan terlihatlah seorang wanita berumuran 20 tahun. Kulitnya putih bersih dan wajahnya cantik jelita.


"Apakah kepala desa ada?" tanya Rey sambil tersenyum hangat.


Wanita itu pun mengangguk pelan. Ia lalu membuka pintu sedikit lebar. "Silahkan masuk," ucapnya pelan. Rey pun berjalan masuk mengikuti wanita itu. Ia lalu segera diarahkan ke sebuah ruangan. Dan di dalam ruangan itu ada seorang lelaki dewasa yang tengah menulis sesuatu. Ia menoleh sejenak dan mempersilahkan Rey duduk di kursi yang berada tepat di hadapannya. Rey pun menurut dan duduk di kursi itu.


"Jikalau boleh tahu, ada apa saudara datang menemui saya?" tanya pria itu sopan.


"Nama saya adalah Simon. Seperti yang saudara bilang, desa kami memang memiliki masalah dalam ekonomi. Alasannya adalah...." Simon pun mulai menjelaskan alasan kenapa kemiskinan bisa menimpa desa mereka. Awalnya desa mereka memang sedikit maju dari desa yang lain. Karena itulah ukuran desa ini sedikit lebih besar daripada desa kebanyakan. Namun beberapa minggu yang lalu, beberapa kelompok orang menemukan sebuah gua yang tak jauh dari desa mereka. Kelompok petualang itu tak tahu apa yang menunggu mereka di dalam sana. Mereka pun nekat memasuki tempat itu. Walaupun tak ada yang tahu pasti apa yang tersembunyi di dalam gua itu, namun diyakini tempat itu dihuni oleh seekor monster. Setelah beberapa hari, kelompok petualang itu tak kunjung keluar. Malah monster-monster di desa ini sedikit lebih banyak dan bertambah kuat. Para pemuda yang berusaha menghalau monster itu mengalami luka-luka, bahkan ada uang meninggal. Sejak saat itu pula para pedagang sudah sangat jarang singgah di desa ini. Biasanya tempat ini selalu ramai karena menjadi persinggahan para pedagang.

__ADS_1


Rey manggut-manggut mendengar cerita tersebut. Walaupun ia tak begitu mengerti alasan para monster itu menjadi lebih kuat, namun pasti hal itu berhubungan dengan gua yang tak jauh dari desa ini. Rey sendiri memang pernah mendengar monster yang bisa menguatkan monster lainnya. Namun hal itu bisa dilakukan karena monster yang menguatkan rekannya itu adalah pemimpinnya. Dengan kata lain jika monster yang berada di dalam gua itu bisa dimusnahkan, maka kondisi desa ini akan menjadi seperti semula.


Rey pun mengangguk sejenak sebelum mengutarakan rencananya pada Simon. Simon sendiri sudah menduga hal tersebut dan berniat memeriksa gua tersebut. Sayangnya ia tak cukup kuat untuk melindungi dirinya. Walaupun Rey adalah orang asing, namun Simon bisa melihat keinginan Rey yang tulus.


"Baiklah. Aku akan mengantarmu kesana. Semoga kau bisa menumpas monster yang berada di dalam gua itu," ucap Simon sambil beranjak. Ia lalu berjalan pelan menuju suatu lemari. Ia membuka lemari itu dan mengambil pelindung jari. Ia juga mengambil sebuah busur dan beberapa puluh anak panah yang berada di dalam sebuah tabung tanpa tutup yang kemudian ia sandang di punggung. Ia lalu mengajak Rey segera berangkat.


Mereka berdua segera keluar dari rumah itu dan bergegas keluar dari desa. Tak lama, mereka keluar dari desa dan mulai masuk ke dalam hutan. Simon segera mengambil anak panahnya dan meletakkan benda itu di busurnya. Rey sendiri sedikit lebih santai karena sejauh ini belum ditemukan hal-hal aneh.


Namun ternyata hal itu hanya berlangsung sejenak. Rey segera menarik pedangnya dan maju ke depan Simon. Simon menjadi lebih bersiaga karena hal itu. Tak lama, seekor beruang dengan tinggi hampir 5 meter keluar dari  balik pepohonan dan menatap Rey serta Simon marah.


"Bidik dadanya," ucap Rey pelan pada Simon. Sejujurnya Rey sedikit terkejut dengan monster di hadapannya itu. Sekilas beruang ini seperti Red-eyed Bear. Namun warna dari mata beruang itu sedikit lebih gelap. Rey menduga beruang ini terkena status Rage.  Rage sendiri adalah kondisi dimana para monster menjadi lebih ganas daripada biasanya. Kekuatan mereka akan naik beberapa puluh persen. Walaupun Rey biasanya cukup mudah untuk membunuh Red-eyed Bear, namun ukuran monster di hadapannya ini lebih besar daripada biasanya.

__ADS_1


"Chaos Wave." Sebuah gelombang tenaga keluar dari ayunan pedang Rey yang segera mengenai monster itu. Simon juga tak ingin kalah, ia segera melepaskan beberapa anak panah. Setelah melepaskan salah satu Skill miliknya, Rey bergerak cepat sambil bersiap melakukan tebasan lagi. Monster itu segera menyerang Rey saat ia berada di jangkauan serangannya. Dengan lincah, Rey meliuk bagaikan angin. Rey melakukan beberapa tebasan yang segera mengenai monster itu.


Sebenarnya monster beruang ini cukuplah kuat, bahkan hampir menjadi Mini-Boss. Namun di hadapan Rey, kekuatannya tak begitu seberapa. Ditambah dengan kecepatan milik Rey, serangannya selalu bisa dihindari dengan mudah. Di sisi lain serangan Simon selalu tepat sasaran hingga poin nyawa monster ini turun dengan cepat. Monster itu pun meregang nyawanya setelah terkena Skill Chaos Wave milik Rey sekali lagi.


__ADS_2