Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 31: Orang-orang Suci


__ADS_3

"A-aku tidak bisa menemuinya," ucap PeAce pelan. Ia tak sanggup untuk menemui Rey, terlebih lagi apa yang ia lakukan di masa lalu masih berbekas di ingatannya.


"Kau bisa. Kau ingin Tapi, kau hanya takut." PeAce bergidik pelan mendengar hal tersebut. Memang benar. Ia takut. Takut Rey tidak akan mau menemui dirinya lagi.


"Aku akan menemanimu," ucap Scream pelan.


PeAce terdiam. Ia berpikir keras menimbang-nimbang apa yang seharusnya ia lakukan.


"Ayo kita pergi menemuinya," kata Scream pelan berusaha meyakinkan PeAce. Suaranya terdengar penuh tekad dan keyakinan.


Namun, PeAce masih saja diam seribu bahasa. Ia bahkan menundukkan wajahnya. Ia bingung. Ia tak yakin akan dirinya sendiri. Ia tak yakin bisa memilih pilihan yang tepat.


"Kau tahu bahwa ia masih menyukaimu."


"Aku tahu. Aku hanya tidak sanggup," gumam PeAce dalam hati. Ia tertunduk sedih. Semakin ia mengingat masa lalu, semakin rasa penyesalan di dalam dirinya bertambah.


"Aku juga akan menemani kalian," ucap seseorang mengejutkan Scream dan PeAce. Dia adalah Cold. Pria dengan rambut berwarna putih itu berjalan pelan mendekati PeAce serta Scream. "Aku akan membantumu lepas dari belenggu masa lalumu," ucap Cold kembali sambil menyarungkan pedang miliknya.


"Bukankah kau mendengarnya sendiri, bahwa Rey lebih memilih ke Midgard Tengah daripada bertemu kita?"


"Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Dan aku juga sangat memahami dirinya." Cold menghela nafasnya sambil mengingat wajah seseorang. Setiap ingatannya tentang orang itu segera teringat kembali di dalam pikirannya seperti kilas balik. "Sama seperti dirimu, ia juga takut akan masa lalu."


PeAce kembali terdiam seribu bahasa mendengar hal tersebut. Ia terlihat berpikir keras memutuskan apa pilihan terbaik.


"Aku akan menemanimu," kata Scream pelan sambil menggengam bahu kanan temannya itu pelan untuk mengusir segala keraguan di dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku akan menjaga kalian," ucap Cold ikut meyakinkan.


PeAce menghela nafasnya pelan. Kedua temannya itu begitu memaksanya. Namun, PeAce tahu bahwa mereka melakukan itu untuk membantunya. Mereka melakukan itu untuk kebaikan dirinya agar ia bisa lepas dari rasa bersalahnya.


"Baiklah. Terima kasih karena sudah mau membantuku," ucap PeAce tersenyum.


Hari itu juga, tiga dari tujuh Seven Hero berangkat ke Midgard Tengah mencari sang legenda. Legenda yang dulu sempat menggemparkan God Reason. Legenda yang kini mulai membangun namanya kembali.


Black Kenshi Rey.


...***...


Rey bersin. Ia lalu mengusap hidungnya pelan.


"Di MMO bisa terkena flu?" Rey tertawa pelan ke arah tiga temannya itu.


Lluminos memberitahukan bahwa beberapa hari yang lalu Psycho-B telah menaikkan Job miliknya. Pria itu mengambil Job Sharpshooter, Job Second-tier setelah ADC. Sharpshooter adalah Job yang menggunakan senapan sebagai senjata. Biasanya Job Sharpshooter hanya menggunakan sebuah senapan laras ganda. Walaupun tidak sekuat Archer serta Bomber, tetapi Sharpshooter memiliki kelebihan berupa jarak serang yang begitu jauh.


Saat ini Psycho-B menjadi orang nomor satu dalam Job-nya dan menyandang nama Ranker Dead Target. Sesuai julukannya, ia memang selalu membunuh targetnya. Seperti pada kata-kata khasnya,"You're the Target, You'll Dead". Psycho-B memiliki Skill yang membuatnya bisa melihat target dengan jelas sejauh kurang lebih satu kilometer. Ia juga memiliki jangkauan tembak yang jauh. Mungkin saat ini, hanya segelintir orang yang bisa menyamai kekuatan punggawa Antariksa Aksara itu.


Rey mengetahui dengan jelas bahwa Psycho-B ingin mengambil Job Gunslinger yang dulu pernah membawanya menjadi pemain profesional. Rey yakin bahwa setelah ini, Psycho-B akan mengambil Job Sniper, barulah Job Grand-tier Gunslinger.


Di tengah perbincangan, Deon melirik ke arah Heilige sejenak sambil mengangguk pelan.


"Rey," kata Heilige pelan. "Terimakasih karena telah membantuku." Ia sedikit menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Rey mengerutkan dahinya. Ia tidak ingat pernah membantu perempuan di hadapannya itu. "Kapan aku membantumu?" tanya Rey. "Aku tak merasa pernah membantumu baru-baru ini."


"Jika kau tidak memanggil Deon dan Lluminos, pasti aku sudah ditangkap."


"Ah, saat itu." Rey teringat. Memang dialah yang memanggil Deon dan Lluminos, tapi yang membantu Heilige keluar dari situasi itu adalah dua temannya itu. Jadi sebenarnya ia tak terlalu banyak membantu. Rey sebenarnya ingin mengeluarkan pendapatnya, hanya saja ia terlalu malas untuk berdebat dengan wanita itu, jadi ia hanya mengangguk pelan.


"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di Midgard Tengah?" tanya Lluminos sambil menepuk bahu temannya itu. Lluminos sangat mengenali Rey yang sudah ia kenal cukup lama. Rey adalah orang yang suka berpetualang dan menghindari keramaian seperti Midgard Tengah. Rey pasti lebih memilih berpetualang ke dalam hutan belantara Midgard Barat atau Midgard Selatan.


"Oh, iya. Ada yang mau kukatakan ...." Rey sejujurnya belum tahu bagaimana cara masuk ke istana. Ia juga tak mungkin langsung menerobos masuk. Rey pun menjelaskan garis besar misinya pada tiga temannya itu serta apa yang ia temukan di dinding tadi. Ketiga temannya itu terlihat berpikir keras berusaha memberikan solusi yang tepat. Namun, tak ada satu pun yang memberikan jawaban. Mereka hanya menggeleng pelan. Rey menghela nafasnya saat melihat tanggapan tiga orang tersebut.


Tak lama, pesanan keempat orang itu segera tiba. Rey memesan sebuah daging panggang yang ditaburi saos. Ia tersenyum lebar saat mencicipi makanan itu rasanya sungguh seperti asli. Itu adalah makanan paling enak yang selama ini ia makan di Midgard.


Di saat Rey dan lainnya tengah asik menyantap hidangan masing-masing, terdengar sebuah keributan yang berada tak jauh dari mereka. Keributan itu melibatkan seorang pelayan serta seorang pelanggan. Rey tidak begitu mengerti permasalahan kedua orang itu, jadi ia berniat mendengarkan lebih jauh.


"Jika kau tidak bisa bayar, kenapa kau makan di sini?" bentak pelayan itu kesal. Ia memukul meja pelanggan di hadapannya dengan keras. Sedangkan pelanggan yang menggunakan pakaian putih kusam itu hanya tersenyum. Senyum yang sedikit membingungkan, seperti senyum penuh syukur.


"Para orang suci akan segera membalas kebaikan yang kalian berikan," jawab orang itu sambil tersenyum lebar. Rey tersentak kaget. Ia segera bangkit dan melangkah ke arah meja pelanggan itu. Rey memberikan satu koin emas ke arah pelayan tadi. Ia pun berterima kasih lalu menjauh pelan. Rey kembali menatap pelanggan di hadapannya.


"Apa yang kau maksud dengan orang-orang suci?" tanya Rey penasaran. Pelanggan di hadapannya tertawa pelan mendengarkan pertanyaan tersebut. Ia memutar bola matanya sejenak sebelum memandang ke arab Rey.


"Orang-orang suci. Para Saint"


"Kau tau para Saint?" Rey menjadi antusias.


"Aku salah satu anggota mereka."

__ADS_1


Rey terdiam sejenak sebelum melebarkan senyumannya. Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi kesenangannya.


__ADS_2