
Sedari kecil, Raihan selalu berdiam diri di balkon setiap kali rasa gelisah datang. Berdiri dengan bersandar di pagar balkon sambil menatap birunya langit. Sesekali pria itu bersiul untuk memecah kesunyian. Merasakan hembusan angin menerpa wajah. Tak ada siapa pun, hanya dia dan langit yang sedang ia tatap.
"Kau terlihat banyak pikiran," ucap seseorang secara tiba-tiba yang membuatnya sedikit terkejut. Raihan menoleh dan menemukan pria paruh baya berjalan pelan ke arahnya yang sedang berada di balkon. Ya, ayahnya.
"Aku baik-baik saja," ucap Raihan sambil tersenyum tipis.
Ayah Raihan tertawa pelan sambil ikut bersandar di balkon. Ia lalu menatap ke arah langit. "Kau mirip seperti ibumu. Mengatakan baik-baik saja walau sedang memikirkan masalah."
Raihan terdiam. Seharusnya dia tahu tidak ada yang bisa ia sembunyikan dari pria berumur empat puluhan tahun di sampingnya itu.
"Ibu seperti itu?"
"Ya," jawabnya sambil menutup mata sesaat, seolah berusaha mengingat sesuatu. Beberapa saat berselang, ia kembali membuka matanya. "Dia orang yang tidak suka menceritakan masalahnya pada siapa pun. Dia terlihat kuat, tapi ayah tahu dia tidak sekuat itu. Ayah tahu hanya dengan melihat matanya."
"Mata? Jadi, mataku juga terlihat sama seperti ibu?"
Ayah Raihan mengangguk pelan. "Ayah tahu kau berbohong. Pupil matamu membesar. Dan juga saat kau berbohong, maka kau tidak berani menatap mata lawan bicaramu."
"Ayah memang hebat." Raihan tertawa garing. Ia sedikit malu karena dirinya dapat ditebak dengan cukup mudah.
"Jadi ... tentang perempuan?" tanya pria paruh baya itu lagi. Raihan menganggukkan kepalanya pelan. Saat itulah ayahnya tersenyum penuh makna.
"Perempuan yang mana? Kenalkan ke ayah dong!" ucapnya sambil menyikut Raihan.
"Bukan seperti itu," jawab Rey cepat-cepat. "Ini masalah yang berbeda, Yah."
"Ceritakanlah! Ayah akan mendengarkan."
Raihan menganggukkan kepalanya pelan dan menatap pekarangan rumah. Perlahan angin berhembus menerpa wajahnya. Ia lalu menghirup nafas dalam sebelum menceritakan apa yang terjadi dengan Mira dan Vynn. Selama ia menjelaskan, ayahnya hanya diam dan menyimak.
"Jadi, itu yang kau pikirkan? Kau berpikir ini salahmu?" tanya ayahnya setelah Raihan selesai bercerita. Ia mengangguk.
"Sekarang, biarkan ayah yang bercerita," ucapnya.
"Dulu saat ayah masih SMA, ada seseorang yang ayah sukai, ibumu. Namun, ia hanya menganggap ayah teman masa kecilnya. Saat itu ayah masih tergolong labil, jadi ayah menceritakan hal ini pada salah satu teman. Fira namanya. Awalnya yah ayah cuma sering cerita. Lalu, ayah juga jadi sering bermain bersama Fira ini, ngisengin dia, serta membantu dia. Lalu apa yang terjadi?"
"Si Fira ini suka sama ayah?" tebakku.
"Tepat. Dia jadi menyukai ayah dan mengutarakan perasaannya. Seperti yang ayah bilang, ayah saat itu masih labil dan belum mengetahui apa arti dari cinta itu sebenarnya. Jadi ayah sempat menjalin hubungan dengannya. Namun, di saat itulah ayah merasa tidak tenang. Ayah merasa kosong. Saat itu ayah sadar, ayah telah membohongi hati sendiri. Jadi ayah mengakhiri hubungan kami walau baru beberapa hari. Saat itu ayah menyadari belum bisa melupakan perasaan ayah pada ibumu."
Raihan terdiam. Sekilas cerita ayahnya mirip dengan kejadian antara dirinya dan Mira. Namun, ia masih belum tahu apa yang ingin disampaikan pria paruh baya di sebelahnya itu.
__ADS_1
"Jadi, biar ayah katakan," ucap ayahnya, "saat seseorang sedih, hal wajar baginya untuk menceritakan masalahnya pada orang lain. Seperti ayah dan dirimu. Hal itulah yang bisa membuat kita lebih lega. Saat seseorang sudah merasa nyaman, hal wajar baginya untuk mencintai orang itu. Seperti Fira dan Mira. Kau tidak salah, dan Mira juga tidak keliru," ujar ayahnya.
Raihan tertegun mendengarkan penjelasannya. Namun, masih ada yang aneh. Seolah ia masih belum menemukan benang merahnya.
"Keputusanmu juga tepat untuk menolak wanita bernama Mira ini. Karena bagaimana pun juga, jangan pernah membohongi hatimu sendiri. Tidak ada yang salah saat kau jujur dengan hatimu."
Raihan terdiam. Inilah yang ingin ia dengar. Inilah yang menjadi masalahnya. Ia menemukan titik terang dari semua pikirannya.
"Terima kasih. Aku merasa lebih baik sekarang," ucapnya.
"Tidak masalah. Lain kali, langsung saja datangi ayah saat ada masalah," sahutnya. Raihan segera mengangguk. Dalam hati, ia berterima kasih sekali lagi.
"Oh, iya. Beberapa hari ini ada yang mencarimu," ucap ayahnya.
Raihan segera membuat ekspresi bingung. Ia tidak pernah tahu tentang hal ini.
"Siapa? Aku selalu di rumah, kenapa tidak langsung memanggilku saja?"
"Kau memang di rumah, tapi kamarmu selalu sunyi. Kau pasti bermain permainan aneh seperti yang dimainkan kedua abangmu itu," ucapnya sambil tertawa pelan. Raihan tertunduk malu. Memang benar ia memainkan MMO hampir setiap saat dengan kamar selalu dikunci. Dengan kata lain siapa pun tidak bisa menganggunya.
"Memangnya siapa?" tanya Raihan lagi. Ia tidak ingat punya banyak kenalan di kota ini.
***
"Jadi, untuk apa keributan tadi siang itu?" tanya Rian. Walau yang terdengar hanyalah suaranya, Raihan tahu ia terdengar kesal.
"Hei, aku membantu kalian. Salah satu orang yang kulawan adalah Mira."
"Apa?" Rian terkejut. "Bagaimana dia bisa menyusup?"
"Kau terlalu memandang rendah dirinya. Bukankah Lluminos sudah memperingatkanmu?"
"Ah, wanita bernama Mira ini sungguh merepotkan," ucap Rian di telepon. Terdengar ia menghela nafas berat. Raihan tertawa pelan sebelum duduk di kursi. Ia segera mendekatkan kursi itu ke dekat meja dan menyalakan komputer.
"Bagaimana penyelidikan Sasya dan Nabila?" tanya Raihan memulai diskusi.
"Mereka dikutuk," sahut Rian diiringi tawa pelan.
Raihan terdiam. Ia tidak paham apa yang dimaksud Rian.
"A-aku tidak mengerti."
__ADS_1
Rian tergelak mendengar balasan Raihan. "Mereka menanyai latar belakang raja pada NPC, yaitu warga Starlight Empire. Bukannya mendapat informasi, mereka malah dikutuk supaya cepat mati. Ada juga yang ketakutan," ujar Rian.
Raihan bingung. Ia terpikir sesuatu. Kenapa para warga takut untuk menjelaskan latar belakang raja? Atau mungkin pesan di liontin itu memang benar?
Raihan tersenyum tipis. Ia sedikit banyaknya sudah bisa menebak.
"Lalu, apa saja yang kau temukan?" tanya Rian mengejutkan Raihan.
"Tunggu!" ucap Raihan pelan. Jari-jemarinya bergerak cepat menekan tombol keyboard. Ia mengirim foto liontin serta pesan yang dia temukan tadi.
"Ini?"
Walau hanya terdengar suara, tapi Raihan tahu Rian saat ini sedang melihat foto yang ia kirim melalui pesan elektronik. Bisa didengar ia juga terkejut saat membaca pesan itu.
"Apa kita memikirkan hal yang sama?" tanya Rian pelan.
Raihan tertawa pelan beberapa saat. Rian, pikirannya mudah ditebak.
"Tidak. Kurasa kita memikirkan sesuatu yang berbeda," jawab Raihan. "Mungkin yang kau pikirkan benar, hanya saja menurutku itu kurang tepat."
"Apa maksudmu?"
"Saat ini aku tidak bisa menjelaskannya. Aku tidak punya bukti," ucapku, "terlalu berisiko melompat langsung kepada sebuah konklusi tanpa bukti yang jelas."
Rian tergelak. Raihan tahu apa yang ia tertawakan.
"Kata-kata Sherlock Holmes ya?" tanya Rian. Raihan tertawa pelan. Pria itu memang mengutip kata-kata sebelumnya dari sebuah tokoh fiksi.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu untuk menjelaskannya. Lalu apa ada yang ingin kau selidiki lagi?
Raihan terdiam. Ia memang butuh bukti untuk menguatkan dugaannya, tetapi ia tidak tahu harus kemana untuk mencarinya. Mungkin saja Rian tahu.
"Satu hal," ucapnya, "siapa nama asli dari raja Starlight Empire saat ini?"
"Namanya ... akhh, aku melupakannya." Rian terdengar sedikit kesal. "Aku akan mencaritahunya. Di istana ada sebuah papan yang menunjukkan namanya," ucap Rian lagi.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggu. Selama itu, ada urusan yang harus kulakukan."
"Apa itu?"
"Aku ingin bertemu seseorang. Dan instingku mengatakan orang itu akan menemuiku esok."
__ADS_1