Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Tidak boleh ada yang lain


__ADS_3

Mutiara tidak ingin menghabiskan hari-harinya dengan tetap dirumah besar ini, meskipun semua nya sudah tersedia namun dia merasa bukanlah seekor burung yang dikurung di sangkar emas, Mutiara ingin menjadi dirinya sendiri yang bebas menikmati kehidupan nya. meskipun status nya sudah diikat oleh kaki-kaki yang bernama Devano.


"Makanya kamu harus menurut, dan tidak membuat aku marah sehingga akan mempersulit kan dirimu sendiri." ucap Devan, dia melihat tidak ada kebohongan dari pancaran mata Mutiara yang teduh.


"Devan, buang rasa cemburu di hatimu, belajar lah untuk mempercayai ku."


"Cemburu, kamu jangan terlalu percaya diri. aku hanya tidak ingin wanita yang telah dan akan melahirkan seorang penerus untuk ku berhubungan dengan laki-laki lain, apapun alasannya, aku tidak suka." ucap Devan dingin.


"Tuan, jika kamu menunjukkan sikap seperti ini. bagaimana aku bisa tenang dan fokus untuk hamil anakmu kembali, karena seorang wanita itu butuh kenyamanan dan mood yang baik, sehingga akan mempercepat terjadinya kehamilan seperti yang anda inginkan, percayalah, aku bukan wanita murahan yang dengan mudah nya berhubungan dengan laki-laki lain diluaran sana." ucap Mutiara mulai berani melawan, dia merasa tersinggung dengan kata-kata yang dilontarkan Devan barusan. sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan cairan bening disudut matanya agar tidak tumpah.


Mutiara bangkit, dia ingin menyendiri lalu menangis dikamar, agar tidak terlihat sebagai wanita yang lemah dihadapan Devan.


"Mutiara tunggu, aku belum selesai berbicara." teriak Devan, namun gadis itu tetap berlari mengabaikan teriakan Devan yang tengah mengepalkan tangannya emosi, semua peralatan dan kertas-kertas yang ada di meja kerja Devan berserakan dilantai, sebagai pelampiasan kemarahannya.


Beberapa orang pelayan yang mendengar keributan mundur ketakutan, melihat pertengkaran sepasang suami-istri di pagi hari, dimana mereka biasa tenang dan damai.

__ADS_1


Langkah kaki Mutiara terhenti, namun dia masih tidak berani untuk membalas tatapan Devan.


"Aku harap kamu sadar akan posisi mu dirumah ini." bentak Devan.


"Ya tuan, aku sangat sadar. bahkan aku adalah wanita yang tidak mempunyai harga diri lagi setelah papaku menjual diriku kepada anda, dan aku sangat berterimakasih sekali atas semua ini." jawab Mutiara memberanikan dirinya.


Devan terlihat sangat marah, lalu pergi meninggalkan rumah. tanpa menoleh lagi kebelakang dimana Mutiara menagis tersedu-sedu.


"Sudahlah nona muda, tenangkan dirimu. aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja." bujuk Gracia membantu Mutiara untuk berdiri dan memapahnya memasuki kamar.


Sampai di dalam kamar, Mutiara kembali melanjutkan menagis. hingga membuat matanya sembab. bahkan gadis itu langsung tertidur. meskipun sesekali masih terdengar isakan tangis nya dan sisa-sisa air mata disudut matanya.


“Wanita tidak tahu diri.”


Devan memukul stir mobil, dia masih sangat marah dan kesal, terus melajukan kencang tanpa arah. meluapkan kemarahan dan kekesalannya. dia mulai marah dengan perasaan nya sendiri yang malah membuat nya tersiksa, Devan membelokan mobilnya memasuki Club termahal yang tidak sembaragan orang yang mampu memasukinya, terutama ruangan kelas VVIP ini. dengan minum-minum kegundahan Devan sedikit terobati.

__ADS_1


Devano pewais tunggal Perusahaan dibawah naungan perusahaan The Devan's King. seorang CEO muda tampan dan energik, dengan pesona yang begitu memikat para wanita. Namun pria yang akrab disapa Dev itu, kini seakan tidak memiliki wibawanya lagi, meskipun ditengah-tengah kegundahan hatinya tidak pernah mau disentuh oleh sembarang wanita, sehingga dia langsung membentak setiap ada wanita penghibur yang berusaha untuk mendekati nya.


Setiap mengingat Mutiara didekati laki-laki lain, emosi Devan kembali memuncak, dan meneguk minuman keras yang sudah gelas kesekian kalinya. Dev menghabiskan beberapa gelas minuman mencoba menenangkan pikirannya yang tengah berkecamuk. dia benar-benar marah begitu mendengar Mutiara bertemu kembali dengan Gavin, yang jelas-jelas juga sangat mencintai dan mengharapkan Mutiara, meskipun Devan sangat yakin jika dia tidak cemburu, dan masih bersikukuh untuk memungkiri perasaan nya jika dia sebenarnya sangat takut kehilangan Mutiara dari sisinya, karena dia tidak bisa menerima kehadiran wanita lain, selain Mutiara.


"Prraakknngk...."


Devano membanting kasar botol minuman itu ke lantai, sehingga tidak ada wanita penghibur kelas atas yang berani menggoda dan mendekati dirinya saat ini. Mereka lebih memilih mundur perlahan saat melihat kemarahan pria tampan itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bahkan pemilik klub ini pun melarang OB, yang ingin masuk untuk membersihkan ruangan dari pecahan kaca botol-botol minuman tersebut.


Pihak klub langsung menghubungi asisten setia nya Jims. Mau tidak mau Jims harus siap menjemput sang bos besar menuju klub. lalu mengantarkan sang bigbos kembali pulang menuju rumahnya.


Mutiara yang mendapati suaminya yang pulang dalam kondisi mabuk berat, membantu memapah tubuh Devan dan menidurkan nya secara perlahan dikamar mereka, meskipun dia masih kesal dengan sikap yang ditujukan Dev sebelumnya.


“Asisten Jims, terimakasih ya.”

__ADS_1


“Ya, nona muda. kalau begitu saya permisi untuk kembali.”


Setelah kepergian Jims, Mutiara membantu melepas pakaian Devano yang sudah kotor dan menggantinya dengan piyama tidur. dia juga meminta para pelayan untuk mengawasi anak-anak agar tidak masuk kedalam kamar lalu melihat kondisi ayah mereka yang tidak dalam keadaan baik-baik.


__ADS_2