
Pintu kamar dibuka, Devan yang baru kembali dari kantor tersenyum, dia berjalan mendekati Mutiara yang dia yakini hanya berpura-pura tidur saja.
Devan ikut berbaring disebelah Mutiara, sebelah tangannya merengkuh pinggang ramping. dan tangan satu lagi mulai mengelus belahan dagu gadis tersebut.
"Tuan Dev, kamu sudah kembali."
"Bagaimana dengan kondisi mu?"
"Aku baik-baik saja." jawab Mutiara, seraya menyembunyikan ponsel dibalik selimut.
"Pelayan mengatakan, jika kamu melewati jam makan siang. kenapa?" tanya Dev.
"Aku tidak lapar, aku hanya ingin pulang." ucap Mutiara dibalik selimut.
"Bangun lah, kamu harus makan.
"Aku masih ngantuk, please jangan ganggu aku!" balas Mutiara memperbaiki posisi tidur nya.
"Dasar keras kepala!"
__ADS_1
Devan menarik selimut yang masih menutupi tubuh Mutiara, menggendong gadis itu menuju ruangan yang sudah tersedia beraneka macam makanan enak, yang kesemuanya makanan kesukaan Mutiara. Devan mendudukkan Mutiara dengan perlahan.
"Jika kamu tidak mau makan, maka aku yang akan memakanmu diruangan ini." ancam Devan.
Mutiara tergagap, seraya mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan. dimana masih banyak pelayan serta pengawal yang berjaga di luar ruangan. dia merasa malu dengan perkataan Devan yang fulgar.
"Aku tidak peduli dengan mereka, jika kamu menginginkan hal itu terjadi sekarang." bisik Devan lalu mencium bibir Mutiara.
"Stopp, aku nyerah. puas kamu!"
Mutiara mendorong tubuh Devan agar duduk di mejanya sendiri, lalu mulai menyuap steak yang empuk sudah disediakan oleh koki khusus untuk memanjakan selera nya.
Mutiara menyelesaikan makan dengan cepat, meletakan sendok dan garpu secara bersamaan. lalu segera menuju kamarnya, saat hendak menutup rapat pintu. tangan besar dan kekar Devan tiba-tiba menahan pintu.
"Tuan Devano, kenapa anda masih mengikuti ku. biarkan aku untuk istrahat dengan tenang. aku ingin sendiri dikamar ini." tolak Mutiara.
"Aku selalu memikirkan mu, kita akan menghabiskan waktu berdua." ucap Dev dengan pandangan berkabut penuh gairah.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Mutiara mulai gelagapan saat Dev masuk lalu mengunci pintu kamar.
__ADS_1
"Kamu milikku, tentu kita harus bersenang-senang." bisik Devano.
"Maaf aku tidak bisa." Mutiara menjauh.
"Kenapa, apakah kamu tidak takut resikonya. jika sudah menolak ku?" ucap Dev dengan pandangan mengintimidasi.
"Aku sedang datang bulan, jadi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melakukannya kembali." Mutiara mulai melunak, jika ingin menjinakkan singa buas seperti Devano.
"Baiklah, aku hanya ingin bercumbu dengan mu saja." bisik Dev, namun suara ketukan pintu dari luar kamar menghentikan aksi Devano.
"Ada apa?"
"Tuan, nona Natali calon istri anda ada dibawah. dia bersikeras untuk bertemu denganmu." ucap Jims.
"Sial.., aku tidak pernah mengizinkan perempuan lain datang kedalam mention ku. gadis itu benar-benar nekat." balas Dev kesal.
"Dia bersikeras untuk tetap bertemu dengan mu, tuan. bahkan nona Natali tetap bersikeras untuk masuk kedalam kamar utama ini." ucap Jims.
"Halangi dia, aku akan segera turun." ucap Dev bangkit seraya merapikan kembali pakaiannya nya, dimana beberapa kancing kemeja sudah sempat dilepas.
__ADS_1
Natali langsung tersenyum, begitu melihat Devan berjalan mendekati nya. dia terlihat yakin dan sangat percaya diri.