
Tok...tok... Mutiara berdiri didepan pintu masuk, seraya menunggu jawaban dari dalam ruangan. sesekali dia menarik nafas berat, mudah-mudahan apa yang di cemaskan tidak terjadi dan semua akan berjalan baik-baik saja.
"Masuk."
Mutiara membuka pintu perlahan setelah terdengar suara Devan yang mempersilakan dirinya masuk, nampak pria tampan itu tengah berdiri tegak dengan posisi menghadap jendela kaca dihadapan nya, membelakangi Mutiara.
"Tuan, ada apa anda memanggil ku, apa ada tugas yang harus saya kerjakan?" tanya Mutiara hati-hati.
"Ya, mendekatlah. aku akan memberikanmu tugas baru." ucap Devan dengan tatapan dalam.
Mutiara merasa lututnya semakin lemah saat Devan melangkah mendekati nya.
"Aku harus segera kabur dari ruangan ini." gumam Mutiara ketika melihat gelagat aneh yang ditunjukkan Devan.
"Maaf tuan, saya masih banyak pekerjaan lain." Mutiara segera menunju pintu keluar, namun saat berusaha untuk membuka pintu tersebut tidak bergeming.
__ADS_1
"Itu pintu otomatis, dan akan terbuka dengan sendirinya atas perintah ku." Jawab Devano tanpa ekspresi, seakan ingin memakannya hidup-hidup. langkah kakinya semakin maju mendekati Mutiara.
"Ayo berfikir cerdas Mutiara, buat tuan Devan membenci mu. sehingga dia tidak akan penasaran dan mendekati mu lagi." bathin Mutiara mengumpulkan ide agar terbebas dari Devan.
"Tuan anda benar, sebenarnya aku mempunyai tujuan terselubung. dengan kembali muncul dihadapan anda." ucap Mutiara dengan tatapan menggoda, bahkan kali ini dia semakin berani dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Devan.
"Apa maksudmu?"
"Perusahaan ayahku bangkrut, sehingga aku berfikir dengan mendekati mu. kehidupan ku dan keluarga akan berubah, tuan Devan yang terhormat maukah anda menikah dengan ku, sehingga perusahaan ayahku kembali bangkit dan berkembang setelah kita menikah." goda Mutiara.
"Ya, sebagai seorang wanita yang mengagumi mu. aku tidak boleh munafik." Mutiara tersenyum genit karena merasa berhasil membuat Devan marah, jika perlu dia akan dipecat saat itu juga.
"Pergilah dari hadapan ku, aku muak melihat perempuan yang memiliki pikiran materialistis seperti mu."
"Baik tuan, saya permisi."
__ADS_1
Mutiara melangkah meninggalkan ruangan Devan, tersenyum lega.
"Kali ini aku bisa lolos, tapi aku masih ragu dengan tuan Devan. apakah nantinya dia masih mencari kebenaran?" gumam Mutiara.
Diruanganya Devan meremas rambut nya frustasi, terlihat raut Kemarahan dan kesedihan. tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, yang ada hanya keheningan. bahkan Jims tidak berani sekedar untuk mengingatkan jika sebentar lagi mereka akan mengadakan perempuan dengan klien dari perusahaan Jepang.
"Sungguh aku tidak menyangka, jika kamu muncul dan mendekatiku hanya demi uang." gumam Devan seakan tidak percaya jika sebenarnya Mutiara perempuan matre yang rela merendahkan kehormatan demi uang dan status sebagai nyonya Devano.
Tidak lama, Jims berjalan mendekati meja kerja Mutiara, seperti ada yang sangat penting.
"Aku akan dipecat, tapi tidak masalah. aku akan bekerja apapun demi kedua anak-anakku. yang jelas aku bisa bebas dari ayahnya, yang tentunya akan merebut anak-anakku seandainya mengetahui keberadaan mereka berdua, yah aku tidak boleh mengambil resiko yang lebih besar. nantinya akan merugikan diriku sendiri." gumam Mutiara.
"Mutiara, mulai hari sekarang kamu diberhentikan bekerja diperusahaan ini. semua atas perintah Presdir." ucap Jims.
"Saya sudah tahu, terimakasih sudah memberikan saya kesempatan untuk bergabung diperusahaan ini."
__ADS_1
"Ya." balas Jims singkat.