Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Kamar yang sama


__ADS_3

Reyhina dan Reyhan terlihat sangat bahagia begitu memasuki pusat permainan, Mutiara tertawa lepas melihat kelucuan mereka berdua, namun senyuman dan dunianya seakan terhenti tiba-tiba, begitu mata nya menangkap sosok tinggi tegap turun dari mobil yang diikuti beberapa orang bodyguard.


"Tidak... tidak mungkin Devan ada disini, aku akan arti salah lihat." Mutiara berusaha meyakinkan penglihatannya, ketika langkah pria itu semakin mendekat nya.


"Bibi, tolong selamatkan anak-anak." ucap Mutiara sangat pelan. bibi Erika yang paham segera membawa anak-anak menjauh.


"Mami!"


"Mami!"


Teriak Reyhan dan Reyhina hampir bersamaan, saat tangan mereka ditarik paksa oleh bibi Erika untuk segera menjauh lalu mencari tempat persembunyian yang lebih aman.


Mutiara berpura-pura tidak mendengar teriakan anak-anak, dia tidak ingin Devan mencurigainya. meskipun Mutiara bingung bagaimana Devan busa menemukan keberadaan nya, termasuk kemanapun dia pergi.


"Aku yakin, ada sesuatu yang tidak beres dengan cincin berlian ini. Devan pasti telah memasang alat pelacak didalamnya dan memintaku untuk tidak pernah melepaskan cincin ini, agar dia bisa leluasa untuk menemukan keberadaan ku. kamu benar-benar licik Devan." Mutiara mengepalkan tangannya geram namun dia harus saya apa? hidupnya sudah dalam kendali laki-laki tersebut.


"Kenapa kamu mengikuti ku?" tanya Mutiara membalas tatapan Devan begitu mereka sudah berhadapan.


"Kamu membuatku menunggu beberapa hari ini?" ucap Devan dingin.

__ADS_1


"Aku masih merindukan tempat kelahiran ku, tempat permainan anak-anak ini salah satunya." jawab Mutiara.


"Ikut aku, aku ingin melihat rumahmu lalu menginap di sana."


"Jangan tuan."


Mutiara langsung berubah pucat, akan sangat berbahaya jika Devan sampai datang dan menginap dirumah kelahiran mamanya, meskipun dia berhasil menyembunyikan anak-anak, tapi tidak dengan mainan mereka yang masih berserakan dimana-mana, termasuk pakaian dan beberapa susu formula. Devan pasti akan mempertanyakan hal itu begitu mereka sampai dirumah.


"Kenapa, kamu menolak tamu terhormat seperti ku?"


"Di negaraku masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat, sehingga menerima tamu pria untuk menginap masih dipermasalahkan dan bisa terkena sanksi." ucap Mutiara menemukan ide yang tepat.


"Silakan tuan, Nona." pengawal segera membukakan pintu mobil.


"Tuan, untuk apa anda membawa ku ketempat ini?" Mutiara menatap bangunan megah dihadapannya dengan perasaan yang tidak menentu.


"Menurut lah, jika tidak aku akan menarik mu untuk masuk kedalam."


"Baiklah... tuan."

__ADS_1


Tidak pernah terbayangkan jika Mutiara akan dibawa oleh Devan, kembali ketempat dan kamar yang sama. dimana mereka pernah menghabiskan malam panjang untuk pertama kalinya.


Tubuh Mutiara gemetar, bayangan kejadian malam itu kembali melintas. keringat dingin membasahi tubuhnya. dia benar-benar syok begitu Devan meminta nya untuk mengulangi kejadian malam itu.


"Tidak...aku tidak bisa." ucap Mutiara ketika Devano semakin mendekati, Mutiara mersakan sakit yang teramat sangat dikepalanya. apa yang dihadapannya seakan-akan berputar-putar mengelilingi dirinya, Mutiara pingsan seketika dalam pelukan Devan.


Begitu membuka matanya, Mutiara sangat lemah, dia tidak ingin makan apapun sebagai bentuk rasa protes nya terhadap sikap Devan. Mutiara ingin melihat sejauh mana pria itu ingin menahan dirinya.


Devano tidak pernah meninggalkan Mutiara barang sedetik pun, dia terus memperhatikan Mutiara seraya menunggu dokter datang untuk memeriksa kondisi nya.


Mutiara memejamkan mata, dengan begini rasa pusing dikepalanya sedikit berkurang.


"Buka mulutmu?"


Mutiara tidak bergeming, saat benda dingin menyentuh bibirnya. Dia terlalu lemah untuk melawan, Mutiara berfikir jika itu sebuah sendok untuk menyuapi bubur ataupun air.


"Jika kamu masih bertahan dengan pendirian mu dan tidak membuka mulut, maka aku akan memasukkan makanan dengan caraku sendiri." ucap Devan tegas, namun tersirat kecemasan dari ekspresi nya.


Devan menyeduh bubur kedalam mulutnya, laku menempelkan bibirnya ke bibir Mutiara. sesuatu yang lezat dan manis berusaha masuk kedalam mulutnya, ciuman itu begitu dalam dan terjadi secara berulang-ulang. sehingga semangkok bubur habis dan menyerap keperut Mutiara, memberikan gadis itu banyak kekuatan dan tenaga, meskipun melalui cara ekstrim dengan pertukaran nafas dan bibir yang memberikan sensasi yang luar biasa bagi keduanya.

__ADS_1


__ADS_2