Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Aku bukan wanita penggoda


__ADS_3

Jims memperhatikan sikap Devan yang terlihat sangat bahagia, ibarat baterai yang terisi penuh. bahkan senyum tidak pernah berhenti menghiasi bibirnya.


"Sepertinya, tuan Devan sudah benar-benar sudah bucin pada istrinya. Mutiara adalah perempuan yang pantas untuk tuan Devan, semoga mereka bisa bahagia dan tidak ada lagi pertengkaran setelah ini." doa Jims tulus.


Devan mulai sibuk dengan pekerjaannya, sambil sesekali tersenyum membayangkan adegan panasnya bersama Mutiara barusan.


Dikamar Mutiara terbagun ketika sudah menjelang siang, dia meraba perut nya yang terasa sangat lapar. segera dia membersihkan diri dan kembali berpakaian kantor.


"Devan kemana ya, ruangan ini terlihat kosong."


Mutiara keluar dari ruangan khusus, dan berjalan menuju ruang kerja Devano. namun dia tidak melihat bos sekaligus suaminya tersebut disana.


Pintu ruangan Devan diketuk dari luar, tidak lama seorang pelayan masuk sambil mendorong troli berisi banyak makanan.


"Selamat siang nona, saya diperintahkan oleh tuan Devan. untuk datang mengantarkan menu makan siang Anda." ucap pelayan.


"Terimakasih."


Mutiara menatap makanan lezat yang menggugah selera makan nya, karena dia benar-benar sudah sangat lapar setiap habis bercinta dengan Devan yang menguras tenaganya, sedangkan Devan tidak pernah merasa capek.


"Oya mana tuan Devan?"

__ADS_1


"Tuan sedang ada keperluan diluar, sepertinya dia sedang menemui klien."


"Baiklah, berarti siang ini saya makan sendiri." balas Mutiara mulai menikmati makan siangnya.


Satu jam berlalu, Devan belum juga kembali keperusahaan. Mutiara mulai bosan jika tidak ada Devan. sedangkan asisten Jims juga tidak terlihat.


Mutiara pergi keruang kerja nya sendiri, melanjutkan perkejaan nya yang sempat tertunda. saat sedang fokus dengan pekerjaannya, seorang laki-laki melangkah dengan penuh percaya diri mendekati meja Mutiara.


"Selamat siang cantik, perkenalkan aku Aldo. kamu pasti sekertaris baru diperusahaan ini." ucap laki-laki tersebut sok akrab.


"Iya tuan, maaf apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ya, aku ingin bertemu dengan Devan. apa dia ada diruangan nya?"


"Oke, sambil menunggu kedatangan Devan. bolehkah kita berdua saling berkenalan dan ngobrol-ngobrol." ucap Aldo sambil menatap penuh kekaguman sekretaris dari kakak sepupu nya Devan.


"Maaf tuan, tapi saya sedang sibuk." tolak Mutiara mengabaikan, Mutiara masih takut jika Devan kembali salah paham, jika dia berani dekat-dekat laki-laki lain.


"Cantik, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan. asalkan temani aku malam ini."


"Maaf tuan, aku bukan wanita seperti itu." balas Mutiara kesal.

__ADS_1


"Jangan jual mahal seperti ini, aku tahu wanita seperti mu sama dengan sekretaris Devan yang dulu. awalnya jual mahal, setelah digoda dan diberikan uang langsung nampak murahannya." tangan Aldo langsung ingin mencolek dagu Mutiara.


"Jangan kurang ajar, aku tidak sama dengan mereka." Ucap Mutiara, sambil mengalihkan pandangannya dari tatapan mesum laki-laki dihadapannya.


"Jangan menolak ku cantik, kamu akan menyesal jika tahu siapa saya." sebelah tangan Aldo ingin menarik tangan Mutiara.


"Jangan, tolong jaga sikap Anda, Devan bisa membunuhmu jika mengetahui hal ini." Ucap Mutiara berlari memasuki lift untuk mengindari dari Aldo yang ingin mengejarnya.


"Devan selama ini tidak pernah melarang ku untuk mendekati wanita dikantor ini, selagi mereka bersedia bersamaku." balas Aldo percaya diri.


"Tapi aku tidak sama dengan mereka, aku adalah wanita Devan."


"Ha...ha ..aku tidak percaya, Devan tidak pernah menyukai sembarangan wanita. apalagi sektretaris seperti mu."


Aldo dengan sigap berhasil masuk kedalam lift, yang hanya ada mereka berdua. Mutiara mundur beberapa langkah kebelakang dengan Wajah pucat ketakutan.


"Jangan mendekat."


Mutiara mencoba melindungi dirinya dengan memeluk tas kerjanya erat, namun gagal.


"Ha...ha... mendekatlah sayang, aku suka wanita malu-malu kucing seperti mu ini. karena aku juga sudah bosan dengan wanita yang selama ini selalu pasrah padaku, apalagi setelah melihat uang." Ucap Aldo sambil tertawa penuh gairah melihat Mutiara yang terus menghindar dari jangkauan tangan nya yang terus berusaha menangkap tubuh mungil Mutiara.

__ADS_1


"Aku bukan wanita yang seperti kamu ucapkan, tolong jangan ganggu aku." air mata Mutiara mulai menetes. bukan nya mersa iba tapi Aldo semakin bergairah melihat Mutiara yang menangis tidak berdaya.


"Dapat kamu cantik ha...ha..."


__ADS_2