
"Nona muda, tuan Devan meminta anda. untuk segera datang keruangan pribadinya." ucap pelayan yang bernama Gracia.
"Ruang pribadinya, untuk apa?" tanya Mutiara ragu, dia tidak ingin jika Devan kembali mengulangi malam panas yang pernah mereka lalui berdua, tapi Mutiara bisa apa? hidupnya dalam kendali Devan sepenuhnya.
"Aku tidak tahu nona, tuan muda mengatakan jika dia tidak suka menunggu lama."
"Aku tidak punya pilihan, baiklah aku akan kesana."
Mutiara melangkah pelan, hawa dingin mulai merasuk ketika dia akan memasuki ruangan. bahkan Mutiara bisa mendengar detak jantung dan seru nafasnya sendiri. begitu Mutiara masuk pintu otomatis terkunci tiba-tiba, yang artinya dia tidak akan bisa pergi ataupun kabur begitu saja dari ruangan tersebut.
Devan berdiri seraya memunggunginya, sebelah tangan Dev tengah memegang gelas berisi anggur merah.
"Mendekat lah." Devan memberi kode dengan tangannya.
Mutiara mundur, dia begitu ketakutan dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama bersama Devan.
Langkah kaki Devan semakin dekat, dia mengunci pergerakan Mutiara. tercium bau alkohol yang menyengat. matanya terlihat memerah.
"Tuan, sepertinya anda tengah mabuk berat. istirahatlah di sofa, aku akan membantu memijid mu." Mutiara memberanikan diri, berusaha menuntun langkah Devan menuju sofa, namun tangan Mutiara tiba-tiba ditarik paksa, lalu Dev menindih tubuh ramping itu dari posisi atas.
"Tuan, apa yang ingin anda lakukan?"
"Jawab pertanyaan ku, apa yang kamu sembunyikan dariku?" ucap Devan penuh penekanan.
__ADS_1
"Tidak ada, semua yang kamu dengar tentang ku. semuanya bohong." ucap Mutiara berusaha lepas.
"Lalu ini apa?"
Devan mengangkat beberapa pil kontrasepsi yang sengaja disimpan Mutiara secara diam-diam, dia takut Devan akan menggaulinya lagi, Mutiara tidak ingin kembali hamil tanpa status yang tidak jelas, apalagi dia belum bisa membuka hatinya untuk Devan. dengan sikap kasar dan dan posesif yang dimilikinya, selalu membuat Mutiara berfikir ulang untuk hidup bersama Devan dan anak-anaknya.
"Jawab aku!" suara Devan yang semakin keras.
"Aku takut Hamil, aku benar-benar belum siap untuk ini." jawab Mutiara tersendat-sendat.
"Layani aku malam ini, kamu harus hamil anakku." ancam Devan laku mencengkram keras pipi Mutiara.
"Anda terlalu banyak minum, sebaiknya kita melakukan dalam kondisi sadar sepenuhnya." bujuk Mutiara.
Mutiara memejamkan mata, berharap apa yang ditakutkan tidak akan terjadi malam ini. bibir yang terasa kenyal mulai menyentuh lalu ********** penuh gairah.
Malam ini, Devan telah berhasil kembali menggaulinya dengan berbagai gaya dan posisi. tanpa peduli dengan penolakan Mutiara, tenaganya yang lemah tidak mampu mengimbangi Devan, pria itu tidak pernah capek.
"Aku tidak bisa mengendalikan emosiku, begitu. tahu kamu memakai kontrasepsi." bathin Devan.
yang berhenti ketika sudah puas beberapa kali mencapai puncak. sedangkan Mutiara terkulai lemas tidak berdaya, seraya menagis dalam pelukan Dev yang sudah tertidur karena kelelahan.
Mutiara tidak menyangkal kekuatan dan keperkasaan Devan. yang mampu memberikan sepasang anak kembar dalam satu kali berhubungan saja, namun sekarang mereka melakukannya lagi. tidak menutup kemungkinan jika Mutiara akan kembali hamil.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak ingin hamil lagi. tapi apa yang bisa aku lakukan, Devan sudah membuang pil KB tersebut." Mutiara mulai resah.
"Aku harus bisa mendapatkan alat kontrasepsi yang baru." bergumam dalam hati.
***
Pagi harinya, Mutiara terbangun mendapati dirinya masih di kamar pribadi Dev.
"Tubuhku sudah lebih membalik, setelah tidur cukup lama." Mutiara menyibak selimut, turun dari ranjang. namun kedua kakinya masih lemas dan sulit untuk di bawa melangkah. seorang pelayan meneguk pintu lalu masuk.
"Nona muda, anda sudah bangun. mari aku bantu untuk membersihkan tubuh mu." ucap Gracia.
"Aku bisa sendiri."
Namun pelayan wanita tersebut tetap bersikukuh membantu, dengan alasan takut dimarahi Devan. membantu Mutiara mandi lalu mengenakan pakaian mahal. Mutiara diperlakukan bak seorang putri raja, meskipun begitu dia tidak akan bisa tersenyum sama sekali.
"Nona, minumlah jamu kebugaran ini, maka kondisi tubuh mu akan kembali fit." bujuk pelayan memberikan segelas jamu racikan terbaik. Mutiara meminum jamu tersebut, meskipun tidak menyukainya. tapi dia tetap memaksakan diri, bagaimanapun dia harus sehat dan tetap bugar jika ingin berhadapan dengan orang seperti Devan.
"Bagaimana rasanya?" Devan tiba-tiba muncul.
"Tidak terlalu buruk, mungkin karena aku belum terbiasa saja." jawab Mutiara jengah.
Pelayan segera merapikan bekas makan dan minum Mutiara, lalu segera keluar kamar begitu melihat kedatangan Dev.
__ADS_1