
Tidak lama pintu ruangan Mutiara dibuka, Devano masuk didampingi oleh Dokter yang semula menanganinya. Mutiara segera menundukkan kepala ketika pandangan mata Devan yang dalam seakan menebus relung hatinya yang sunyi.
Dokter kembali memeriksa kondisi Mutiara, seraya tersenyum ramah.
"Nona Mutiara, kondisi anda sudah stabil. hari ini anda sudah diperbolehkan untuk kembali dan melanjutkan istrahat dirumah." ucap dokter.
"Terimakasih dok."
Binar bahagia terpancar dari wajah Mutiara, karena dia sudah bosan berlama-lama di rumah sakit. berkumpul dengan kedua anak-anak jauh lebih menyenangkan baginya.
"Suster, berapakah saya harus membayar biaya pengobatan saya." ucap Mutiara, melihat rumah sakit dan ruangan VVIP yang sangat mewah, Mutiara yakin, jika dia harus mengeluarkan cukup banyak uang.
"Anda tidak perlu kawathir soal biaya pengobatan, karena tuan Devano sudah membayar lunas semua nya." ucap suster.
"Tuan Devan, saya berjanji akan melunasinya. atau anda juga bisa memotong gaji saya setiap bulannya." terang Mutiara merasa tidak enak hati.
"Kamu terlalu banyak bicara, bukankah kamu karyawan diperusahaan ku. jadi sudah sewajarnya saya sebagai atasan bertanggungjawab." ucap Devan dingin.
"Saya sangat berterimakasih sekali, tuan."
"Kenapa masih berbaring, apa perlu kamu saya gendong menuju mobil?" ucap Devano, melihat Mutiara masih ragu untuk meninggalkan ruangan nya.
__ADS_1
"Jangan tuan, saya masih kuat jalan."
Didepan pintu masuk rumah sakit, Jims sudah menunggu kedatangan mereka berdua. bersiap untuk membukakan pintu mobil.
"Silahkan tuan, nona Mutiara." Jims menundukkan kepalanya hormat, sejujurnya Mutiara merasa sungkan dengan perlakuan Jims.
"Tuan, kita mau kemana? apa aku akan tetap melanjutkan pekerjaan hari ini?"
"Aku akan mengantarkan kamu pulang, kamu juga bisa istrahat sampai kamu benar-benar merasa sudah sembuh." ucap Devano dengan suara yang mengintimidasi.
"Syukurlah, anda begitu baik tuan. tapi apakah gaji saya akan dipotong?" tanya Mutiara hati-hati, seketika Devan menatap nya.
"Ii iya, saya lupa tuan. kalau begitu bolehkah saya naik taxi online saja pulang kerumah." tolak Mutiara, bayangan kejadian sewaktu terakhir dia menaiki mobil Devan masih terasa nyata, dia tidak ingin hal itu akan terulang lagi, Mutiara juga tidak mau Devan mengetahui alamat rumahnya.
"Cepat masuk."
Devan yang sudah duduk duluan, menarik sebelah tangan Mutiara hingga ikut duduk disebelahnya.
"Anda memang suka sekali memaksa tuan."
"Ya, maka dari itu. patuh dan ikuti perkataan ku." jawab Devano cuek seraya merapikan jasnya.
__ADS_1
Aura dalam mobil terasa berbeda, dingin dan menakutkan bagi Mutiara.
"Mudah-mudahan saja, tuan mesum ini tidak melakukan hal gila seperti kemaren." bathin Mutiara seraya menggeser duduknya agak ke ujung kursi agar mereka tidak bersentuhan. sedangkan detak jantungnya terus berpacu seperti habis lari Maraton.
"Siapa pria asing yang menghubungi Monalisa? dia yang memberitahukan jika kamu sakit barusan?"
"Ooo itu, tuan Gavin. sahabat anda sendiri tuan."
"Gavin? apa kalian berdua sering bertemu?" tanya Devano dengan suara dingin, pancaran matanya sangat tajam.
"Kenapa tuan Devano terlihat sangat marah, aku harus berkata jujur sebelum mendapatkan masalah. yah dia punya uang dan kuasa, aku bisa apa, huuuffp..." bathin Mutiara menarik nafas dalam-dalam.
"Tidak, kami kebetulan bertemu karena aku hampir tertabrak oleh mobil nya, dia juga yang sudah membawaku ke rumah sakit." terang Mutiara tanpa ada yang dia tutupi.
Mutiara kembali mersakan pusing dikepala, namun sebisa mungkin dia berusaha untuk terlihat tenang dihadapan Devan. namun pria itu lebih jeli dari apa yang dipikir Mutiara.
"Sepertinya kamu belum pulih sempurna, berbaringlah dipangkuan ku. aku akan membantu memijid kepalamu." ucap Devano.
"Apa? maaf tuan, aku baik-baik saja terimakasih atas tawaran Anda." Mutiara ingin mundur tapi tidak bisa, Devan menarik tangannya dan memaksa Mutiara yang masih lemah untuk berbaring diatas kedua pahanya.
"Apa yang aku takutkan, sepertinya akan terjadi?" bathin Mutiara.
__ADS_1