
"Selamat datang tuan Dev, suatu kehormatan bagiku untuk melayani anda secara langsung." ucap dokter cantik menyambut ramah kehadiran mereka.
"Vella, lakukan pemeriksaan terbaik mu padanya. karena dia pernah mengunakan kontrasepsi" ucap Dev tanpa basa-basi.
"Silahkan Nona."
Mutiara sangat takut dan cemas, dia menatap manik kedua mata dokter Vella. berharap sang dokter bisa untuk diajak kerjasama.
"Dokter, sebenarnya saya tidak apa-apa. tidak perlu adanya pemeriksaan khusus." ucap Mutiara penuh harap.
"Cepat laksanakan tugasmu." ulang Devan, yang membuat dokter Vella langsung gugup. bagaimana pun Devan bukanlah orang sembarangan, dia sangat berkuasa dan kejam jika berani untuk melawannya. ketika melihat Mutiara, dia merasa jika gadis dihadapannya mengalami tekanan berat, namun tidak bisa berbuat apa-apa dibawah kendali Devan.
"Silakan berbaring" ucap dokter penuh kelembutan, dia berharap hasil pemeriksaannya tidak memberatkan Mutiara nantinya.
"Aku bersedia diperiksa, tapi aku hanya ingin berdua saja dengan dokter." pinta Mutiara, Devan yang paham segera menjaga jarak, namun hanya bebera langkah saja.
"Buka pakaian bagian bawahmu, nona."
Wajah Mutiara langsung berubah pucat, dokter memperhatikan seksama tatto yang sengaja dia buat untuk menutupi bekas cecar, lalu mulai melajukan pemeriksaan.
__ADS_1
"Dokter tolong saya." ucap Mutiara, air matanya sudah siap tumpah. Vella merasa kasihan, namun dia juga tidak berani melawan Devan.
"Bagaimana hasil pemeriksaan mu, aku harap kamu adalah orang yang profesional." ucap Dev. setelah mereka kembali duduk.
Mutiara, memejamkan mata, merasa hidupnya akan segera berakhir. dia pasrah ketika dokter akan mengungkapkan semua hasil pemeriksaannya.
"Kondisi rahim nona Mutiara sangat baik, tidak menutup kemungkinan untuk dia bisa kembali hamil." jawab dokter tanpa memberikan keterangan lain nya, sesama wanita dia sangat memahami ketakutan Mutiara, mengingat Dev yang sangat kejam dan bisa berbuat apa saja.
"Saya angkat panggilan dulu." Dev tiba-tiba berdiri.
Tidak lama Dev kembali, mendekati meja dokter dan Mutiara yang masih ketakutan dan berharap rahasia besarnya tidak terbongkar hari ini, paling tidak sampai dia menemukan tempat persembunyian yang paling aman.
"Aku harus pergi, ada yang lebih penting untuk aku selidiki langsung, aku sama sekali tidak puas dengan hasil pemeriksaan mu. terimalah konsekuensinya nanti, Vella."
"Devan, kenapa kamu selalu melampiaskan kemarahan mu pada orang-orang yang tidak bersalah, Dokter Vella memberikan keterangan sesuai dengan hasil pemeriksaan nya. jadi tidak ada yang salah disini!" ucap Mutiara.
"Diam kamu!" tunjuk Devan.
Hari itu juga Devan melakukan penerbangan darurat menuju tempat kelahiran Mutiara, sedangkan Mutiara tetap tinggal di mention.
__ADS_1
"Tunggu aku kembali, setelah mendapatkan bukti jika ada yang kamu rahasiakan dariku, maka jangan pernah berharap bisa mendapatkan maaf dariku." ucap Devan emosi.
Dari balik jendela kamar, Mutiara memperhatikan jika Devan melakukan penerbangan darurat menuju tanah kelahirannya. tidak menutup kemungkinan dia akan mendatangi rumah kedua orang tuanya. untuk mencari bukti-bukti.
Mutiara berusaha untuk berfikir keras bagaimana cara untuk bisa kembali kabur dari laki-laki itu.
"Aku tidak akan pernah menyerah, sampai benar-benar terbebas darimu Dev."
Mutiara mengambil ponselnya, dia langsung menghubungi bibi Erika.
"Hallo Mutiara."
"Bibi cepat tinggalkan rumah, Devan sudah mencurigai ku. sekarang dia akan kesana untuk menyelidiki apakah aku pernah hamil dan melahirkan." ucap Mutiara gugup.
"Astaga, baiklah bibi akan segera berkemas dan membawa anak-anak pergi." ucap bibi Erika.
"Bagaimana dengan papa?" ucap Mutiara
"Papamu tidak bisa dipercaya Mutiara, perusahaan nya kembali bangkit atas bantuan Devan. jika dia mengetahui jika Anak-anak mu adalah anak biologis Dev, dia akan senang hati menyerahkan cucu-cucu nya. dalam pikirannya hanya lah uang." ucap bibi Erika.
__ADS_1
"Bibi, aku akan berusaha kabur. setelah sampai aku akan menghubungi bibi kembali."
"Hati-hati nak." ucap bibi Erika.