
Pagi-pagi sekali, Mutiara sudah menunggu dengan semangat kedatangan Anak-anak nya, tapi orang-orang Devan bekerja secara profesional. menunjukkan betapa pentingnya uang untuk mengatur segalanya.
Pihak sekolah maupun para pengawal semua tunduk atas perintah Devan. karena sekolah juga sudah diambil alih kepemilikan nya oleh Devan. mereka tidak memberikan ruang sedikitpun untuk Mutiara sekedar mengintip Anak-anak.
Mutiara kembali pulang dengan langkah lemas, tidak satupun makanan yang masuk keperut nya. beberapa hari tidak bertemu anak-anak sudah membuat nya tersiksa bathin.
Mutiara kembali menghubungi ponsel Dev, tetap tidak dijawab. refleks tangan Mutiara terangkat ingin membanting ponselnya Kedinding, namun kembali dibatalkan nya. ketika notifikasi pesan masuk dari bibi Erika yang mengirimkan beberapa Vidio tentang keseharian Anak-anak yang tengah bermain di lapangan.
"Mutiara, apa kabarmu mu, nak?"
"Aku baik-baik bibi."
"Bibi sudah seringkali mengingat kan mu untuk tidak melawan Dev, kita tidak akan pernah mampu nak." bujuk bibi Erika.
"Bibi tidak perlu kawathir, semua pasti akan baik-baik saja." bujuk Mutiara.
__ADS_1
"Ya mudah-mudahan saja." ucap bibi.
"Nanti setelah Anak-anak pulang, kamu bisa melakukan panggilan video dengan mereka." ucap bibi menyemangati.
"Baiklah bi, aku sangat senang mendengarnya. tapi bibi hati-hati jangan sampai ketahuan Devan. jika tidak kita akan kehilangan Anak-anak jika bibi dikeluarkan dari mention." ucap Mutiara.
"Bibi akan usahakan, disaat tuan Devan sedang tidak ada dirumah." ucap bibi.
"Aku sudah sering mengunjungi Muntions, pelayan mengatakan Devan tidak pernah pulang kerumah besar lagi dalam beberapa hari terakhir ini."
"Iya, apa dia sedang tugas keluar negeri. bibi juga tidak tahu. tapi penjagaan dirumah ini semakin diperketat." terang bibi.
Mutiara kembali bersemangat, dia mendatangi gedung perusahaan tempat Devan. namun hasilnya nihil karena Devan tidak pernah datang kekantor untuk bekerja, semua karyawan dan asistennya juga bungkam saat Mutiara menanyakan keberadaan Devan.
"Aku tidak boleh menyerah, aku akan mengunjungi tempat-tempat yang sering didatangi Dev. aku harus meminta hak ku untuk bertemu anak-anak. itu sudah lebih dari cukup bagiku."
__ADS_1
Harapan Mutiara seakan pupus, hampir satu bulan Devan menghilang. hal ini membuat Mutiara hampir prustasi antara merindukan Anak-anak nya dan bayangan Devan yang hampir setiap malam muncul di mimpi-mimpi indahnya, seolah-olah malam panas mereka kembali terasa semu.
"Kenapa dengan ku yang mulai memikirkan mu Dev, kamu kemana kenapa tiba-tiba menghilang?" berbagai pertanyaan membuat Mutiara semakin memikirkan Anak-anak dan sebuah keluarga yang indah.
"Kenapa dari awal aku tidak pernah memikirkan hal ini, kenapa.... kenapa? harus sekarang disaat Devan sudah sangat marah dan membenci diriku?" Mutiara mulai dilema dengan keputusan yang terlanjur terlontar dari mulutnya.
"Aku tidak pernah menyangka Devan akan semarah ini, lagian tidak pernah terpikirkan jika obrolan ku dengan Natali sudah direkam." penyesalan tidak berarti mulai membuat Mutiara tanpa sadar menangis seraya memeluk foto-foto kedua anaknya.
Ditengah-tengah keputusasaannya, sebuah mobil Rollis Royke melintas dihadapannya. berbelok dan berhenti disebuah restoran mewah, Mutiara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia yakin itu mobilnya Devan.
Langkah Mutiara terhenti, saat Devan turun dari mobil diikuti oleh seorang model cantik yang tidak kalah dibanding dengan dirinya. bahkan dilihat dari penampilannya gadis itu masih sangat muda dan seksi. mereka memasuki sebuah ruangan khusus.
"Dasar pecundang kamu Dev, kamu asik-asiknya berkencan. meninggalkan anak-anak dirumah lalu melarang ku untuk menemui mereka." Mutiara meremas tangan nya emosi, dia tidak peduli apapun lagi, termasuk para pengawal yang berdiri didepan ruangan khusus.
"Maaf nona, didalam sedang ada acara yang sangat frivasi. Anda tidak diperbolehkan masuk." ucap pengawal.
__ADS_1
Mutiara yang sangat marah, meronta dan mendorong pengawal sekuat tenaganya. dia berhasil lolos karena pengawal tidak sepenuhnya menahan Mutiara.
Ceklek..