
Hari mulai beranjak malam, setelah melewati makan malam. Mutiara mengajak anak-anak membersihkan kaki dan tangannya, serta menggosok gigi, karena sudah waktunya jam tidur mereka.
"Mami cepat bacakan kami dongeng."
"Iya, selama mami pergi. hanya Oma yang membacakan dongeng. kami maunya mami!" Reyhina merajuk.
"Oke, mami akan membacakan dongeng terbaik untuk kalian. berbaringlah dulu."
Anak-anak melompat menaiki kasur dengan wajah berseri-seri, lalu tidur berdampingan. Mutiara menyelimuti hingga batas dada, mulai membacakan dongeng. tidak lama sudah terdengar deru nafas mereka yang teratur tidur dengan damai.
Mutiara mencium mereka bergantian, matanya tidak lepas menatap wajah tampan Reyhan. yang memiliki paras hampir serupa dengan Devan.
"Dia ayah biologis mu, sehingga wajah kalian begitu mirip." bathin Mutiara, untuk menghilangkan rasa resah dan gelisah, Mutiara berjalan menuju balkon menatap langit yang begitu kelam, seperti suasana hatinya. dia terus berfikir bagaimana dia dan Anak-anak kedepanya, sehingga Mutiara tidak bisa terlelap sedikitpun. lamunan Mutiara buyar ketika Reyhina terus mengigau.
"Jangan pergi lagi mami....mami!"
Gadis kecil itu terlihat gelisah, keringat membasahi wajah mungilnya.
"Reyhina kamu kenapa nak? mami tidak akan pergi lagi, sayang."
Mutiara mendekati, meraba tubuh Reyhina yang membuat Mutiara syok dan panik. lalu berlari membangunkan bibi.
"Ada apa Mutiara."
"Bibi, badan Reyhina sangat panas. bahkan dia terus mengigau." ucap Mutiara cemas. bibi Erika langsung memasuki kamar Mutiara, memastikan kondisi Reyhina.
"Astaga, panas sekali." lalu pergi mengambil Kompress, satu jam berlalu panas tubuh Reyhina belum juga turun.
__ADS_1
"Bibi, apa yang harus kita lakukan?"
"Sepertinya penyakit lama Reyhina kembali kambuh, jalan satu-satunya. Reyhina harus dibawa kerumah sakit besar." ucap bibi.
"Reyhina... Reyhina, bertahan lah nak, mami akan membawamu kerumah sakit." bujuk Mutiara.
Reyhina tidak menjawab, hanya air mata yang membasahi pipinya yang memerah. semenjak bayi Reyhina memang memiliki kondisi fisik sangat lemah dibandingkan kakaknya Reyhan.
Mutiara segera memesan taxi online menuju rumah sakit, rasa cemas dan kawathir membuatnya lupa akan bahaya dari Devan yang terus mengintai pergerakannya.
"Pak, apa rumah sakit masih jauh?"
"Sabar Mbak, kita akan segera sampai jika tidak ada macet nantinya." ucap sopir.
Mutiara memeluk erat Reyhina, mencium keningnya seakan menumpahkan betapa dia sangat menyayangi anak-anaknya.
Reyhina memangilnya dengan kondisi yang sangat lemah, bahkan dia tidak mau membuka matanya.
"Iya sayang, Reyhina harus kuat ya nak "
"Aku kuat selama ada mami."
"Tentu sayang, kita akan terus bersama-sama." ucap Mutiara mencium kembali pipi Reyhina yang kemerahan.
Begitu sampai Reyhina dibawa keruang perawatan, tangan mungilnya sudah terpasang selang infus.
"Bagaimana kondisi anak saya, dok?"
__ADS_1
"Demamnya cukup tinggi, sepertinya putri nyonya mempunyai penyakit bawaan lahir. dan ini butuh penanganan khusus, saya akan merekomendasikan rumah sakit terbaik berserta rincian biaya-biaya pengobatan nya." terang dokter seraya memberikan selembar kertas pada Mutiara.
"Tidak mungkin, darimana saya bisa mendapatkan uang sebanyak ini dok?" Mutiara syok, tubuh nya langsung lemas.
"Jika anda tidak sanggup, kita hanya bisa melakukan perawatan seadanya. tapi memiki resikonya dan tidak menjamin penyakitnya bisa disembuhkan dalam waktu cepat."
Mutiara berjalan lunglai, menatap sayang Reyhina yang tertidur pulas efek obat yang disuntikkan dokter.
"Disaat genting seperti ini, penyakit Reyhina justru kambuh kembali. padahal dia sudah lama dinyatakan sehat." tidak banyak yang bisa dilakukan Mutiara, selain menagis dan berdoa yang terbaik untuk anaknya, dia tidak mampu menyembunyikan kelemahan dan ketidak berdayaanya lagi.
"Mami!"
"Ya sayang."
Mutiara segera menyeka air mata, berpura-pura tersenyum agar Reyhina tidak melihat beban kesedihannya.
"Mami, aku ingin dekat mami!"
Mutiara segera berbaring disebelah Reyhina, memeluk hangat sang putri kecilnya.
Bibi Erika datang, dia membawakan makanan.
"Mutiara, makanlah."
"Aku tidak lapar bi."
"Kamu tidak boleh seperti ini, kita harus kuat. agar bisa menjaga Reyhina dan Reyhan." bujuk bibi Erika, sehingga Mutiara membuka bungkusan makanan lalu memaksa untuk menghabiskan.
__ADS_1
"Mami harus kuat dan sehat, agar bisa menjaga kalian." bathin Mutiara.