Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Mungkin ini yang terbaik


__ADS_3

"Devan, sudah berapa kali aku katakan. jika aku dan Gavin tidak pernah melakukan apa-apa, dia sangat menghormati ku sebagai perempuan. dia tidak sama seperti mu." ucap Mutiara.


"Jangan pernah membandingkan kami, aku berbeda darinya. aku hanya berhubungan dengan satu wanita saja, yaitu kamu."


Devan menarik tangan Mutiara masuk kedalam kamar pribadinya, menutup pintu otomatis. Mutiara mundur perlahan hingga tubuhnya jatuh di ranjang.


"Jangan lakukan ini lagi Devan. cukup sudah."


Mutiara menggelengkan kepalanya pelan, ketika Devan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.


Mutiara tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Devan, malam ini mereka berdua kembali bercinta. senyum kepuasan terpancar dari wajah Devan begitu hasil pemeriksaan nya sesuai apa yang dia harapkan.


Paginya Mutiara terbangun, diliriknya sudah tidak ada Devan disampingnya. dan berfikir jika Devan pasti sudah berangkat keperusahaan.


Mutiara menyambar ponsel begitu panggilan masuk dari bibi Erika.


"Mutiara, apa kamu sudah Bagun nak. keluarlah." ucap bibi begitu panggilan mereka terhubung.


"Sudah bibi, tapi aku sekarang ada di mansion milik Devan. dia menahan ku layaknya tawanan." terang Mutiara.


"Bibi tahu nak, bibi dan anak-anak berada di luar kamar mu."


"Apa bibi dan Anak-anak sekarang ada di sini?" ucap Mutiara memastikan seakan tidak percaya dengan pendengarannya.


"Ya, Devan menjemput bibi pagi-pagi sekali. dia mengatakan jika mulai sekarang bibi diberi kesempatan untuk mengurus anak-anak dimantion utama, manfaat kan kesempatan ini, dia memberi mu waktu untuk bermain dan bertemu anak-anak khusus untuk hari ini saja." ucap bibi dengan bersemangat.

__ADS_1


"Baiklah aku akan segera keluar."


Mutiara segera bangkit menuju pintu, namun langkahnya tiba-tiba terhenti begitu menyadari jika dia tidak mengunakan apapun yang melekat ditubuhnya yang polos.


Mutiara segera membersihkan diri lalu berpakaian dengan baik, dia segera melangkah turun.


"Mami!"


"Mami!"


Reyhan dan Reyhina langsung menghambur memeluk Mutiara, mereka sangat bahagia dan saling melepas rindu setelah sempat beberapa dipisahkan.


"Mami kemana saja? beberapa hari ini kami tidak menemukan mami." ucap Reyhina.


"Bagaimana dengan kedua orang tua Devan?"


"Mereka sedang pergi keluar negeri untuk melakukan perjalanan rohani, dan juga berpesan untuk kalian segera menikah." jawab bibi Erika.


"Mami, aku ingin bermain ditanam." tunjuk Reyhina.


"Boleh."


Reyhan dan Reyhina berlari dengan penuh semangat menuju taman, mata bulat Reyhan langsung tertuju pada kolam ikan yang terdapat beraneka macam ikan hias, dengan harga fantastis.


"Mami, ikan-ikan ini sangat indah dan lucu, bolehkah aku menangkap nya." ucap Reyhan antuasias.

__ADS_1


"Mami Ayo temani aku main istana boneka." ajak Reyhina.


"Tentu sayang."


Mutiara dan bibi Erika tersenyum senang, kebahagiaan mereka yang sempat hilang kini telah kembali lagi. mata Mutiara tidak lepas memperhatikan Anak-anak yang tertawa lepas menikmati permainan yang ada, meskipun hanya sesaat namun sangat berarti bagi Mutiara.


Tidak lama pelayan menghampiri mereka ditaman, seraya menundukkan kepalanya hormat.


"Nona Mutiara, makan siang untuk anda dan Anak-anak sudah kami siapkan."


"Baiklah, kami akan segera menuju ruang makan." balas Mutiara.


"Ayo bibi, kita ajak anak-anak untuk menikmati makan siang dulu." ajak Mutiara.


"Bibi aku bisa bernafas lega sekarang, dengan adanya bibi mengurus anak-anak, sehingga tidak ada yang perlu dikawatirkan lagi." jawab Mutiara tersenyum.


"Apa kamu belum bisa menerima Devan?"


"Entahlah bi, dia terlalu kasar, memaksa dan egois. bibi tahu sendiri jika aku tidak menyukai pria seperti itu." ucap Mutiara tertunduk lesu.


"Iya, bibi juga lebih menyukai sikap Gavin yang lembut dan sopan. meskipun begitu bagaimanapun juga Devan adalah ayah dari Anak-anak mu, bibi merasa Devan juga bisa berubah menjadi lebih lembut jika kamu mau membuka hati dan menerima dirinya." ucap bibi Erika.


Dalam hatinya Mutiara tengah memikirkan Gavin, yang sangat baik dan rela berkorban apapun untuk nya.


"Gavin apa kabarmu, aku harap kamu baik-baik saja. mungkin perpisahan kita adalah jalan terbaik agar Devan tidak menyakiti dirimu kembali." bathin Mutiara yang berusaha menahan air mata agar tidak tumpah.

__ADS_1


__ADS_2