
Mutiara melirik twins yang tidur dengan pulas, dia tersenyum ketika melihat tingkah lucu mereka yang sangat mengemaskan meskipun dalam kondisi mata terpejam.
"Bibi, aku akan keluar berbelanja kebutuhan anak-anak yang sudah menipis."
"Iya, baru saja bibi ingin memberitahukan jika susu formula twins sudah mau habis juga."
"Iya, aku berangkat dulu bi."
"Meskipun kita sudah di negara kita sendiri, tapi kamu tetap hati-hati ya nak." ucap bibi Erika yang merasa memiliki firasat buruk, namun dia segera menepis pikiran nya tersebut.
"Aku pergi hanya sebentar kok bi."
Mutiara turun kebawah, dia mengeluarkan motor matic kesayangannya menuju supermarket terdekat. melalui kaca spion motor dia bisa melihat jika dia tengah diikuti oleh sebuah mobil yang tidak dikenal.
"Siapa mereka? perasaan aku tidak mempunyai musuh. selain Dian dan Angela. tidak mungkin mereka apalagi Devan?" Mutiara mulai bertanya-tanya, tiba-tiba mobil tersebut menyerempet hingga membuat Mutiara oleng dan jatuh.
Cukup lama Mutiara hilang kesadaran, begitu terbagun, dia melirik tempat asing yang belum dia kenal sama sekali.
"Aku dimana, siapa yang sudah menculikkku?" Mutiara masih bingung dengan apa yang sudah menimpa nya, begitu mendengar pintu dibuka seseorang, Mutiara langsung menoleh.
"Angela, mama Dian. untuk apa kalian membawaku ketempat seperti ini?"
"Tanpa kami beritahupun, kamu pasti sudah bisa menebak tujuan kami." ucap Dian tersenyum sinis.
"Ya, kalian berdua pasti menginginkan hartaku. tapi sayang, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberikan pada wanita ular seperti kalian berdua." balas Mutiara.
"Kamu sangat pintar, tapi kami tidak menginginkan harta saja. melainkan kehancuran mu." ucap Angela.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku sudah mengetahui semuanya, termasuk Devan. ayah dari kedua anak-anak mu dan juga tunangannya Natali."
"Apa?"
"Ya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Devan, begitu mengetahui keberadaan anak-anak nya." ucap Dian.
"Jangan, aku mohon jangan pernah beritahu Devan tentang ini." teriak Mutiara.
"Memohon dan menangis lah Mutiara, ha...ha..." Angela tertawa penuh kepuasan.
"Papa pasti akan melemparkan kalian ke jalanan, begitu mengetahui jika kalian sudah menculik ku."
"Kami tidak butuh tua bangka itu lagi, bahkan kami juga sudah bekerjasama dengan Natali. untuk menghancurkan mu. Dia memberikan kami banyak uang." ucap Dian.
" Tidak ada seorangpun yang akan menolong mu, ini tempat tertutup." teriak Angela merasa puas, dengan kasar dia mendorong Mutiara hingga jatuh ketanah.
"Kami membencimu Mutiara, sangat." teriak Dian.
Mutiara mulai waspada, begitu melihat senjata yang disembunyikan Angela di di balik punggungnya. dia yakin jika Angela ingin mencelakakan dirinya.
"Aku harus berhasil selamat, bagaimana dengan anak-anak jika aku tidak ada lagi di dunia, mereka pasti akan sengsara."
Mutiara berusaha lari sekencang-kencangnya, namun semua pintu tertutup.
"Kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini, sebelum kami berhasil menghancurkan wajah mu." teriak Angela mengeluarkan sesuatu yang berbentuk Air.
"Tidak... jangan lakukan ini padaku, aku janji akan pergi jauh bersama dengan anak-anak. asalkan kalian melepaskan aku kali ini." pinta Mutiara panik.
"Tidak akan, kami akan merasa puas dan menang setelah berhasil merusak wajahmu. agar kamu tidak bisa lagi megunakanya untuk merayu para laki-laki."
__ADS_1
"Kalian belum tahu siapa Devan, dia tidak akan pernah memaafkan perbuatan kalian berdua." ancam Mutiara.
"Ha...ha...yang ada dia malah jijik, lalu mengambil anak-anak mu. karena tidak ingin anaknya ketularan penyakitmu nanti.."
Angela maju mengerang, sebisa mungkin Mutiara berusaha melindungi dirinya, bahkan dia berhasil melemparkan balok yang mengenai tubuh Dian. hingga perempuan itu jatuh bagian wajah Dian terluka.
"Berani-beraninya kamu menyerang mama ku?"
"Kalianlah yang memulainya."
Dia melemparkan balok kerah Mutiara, mengenai kaki Mutiara yang membuat nya jatuh di tanah.
"Kali ini tamatlah riwayat mu, Mutiara."
Mutiara mulai ketakutan, dia tidak mampu untuk berdiri lagi. disaat panik dan takut. Mutiara sangat berharap Devan akan muncul menjadi dewa penolong baginya. karena hanya laki-laki itu yang selalu berhasil menemukan dimana pun dia berada.
"Devan!"
"Devan!"
Mutiara menyebut nama Devan pelan, dia mulai kesulitan mengatur pernafasannya.
"Laki-laki itu tidak akan datang, bukankah dia tidak ada di negara ini lagi?" ucap Angela tersenyum mengerikan.
Saat Angela ingin melemparkan air keras ke wajah Mutiara, seseorang mucul secara tiba-tiba berhasil menepis tangan Angela, hingga hard water mengenai wajah Angela sendiri.
"Tidak....ini sakiiit... tolong... tolong." Angela berteriak dan mengapai-gapai minta tolong, sedangkan Dian yang masih syok panik harus berbuat apa.
"Devan, kamu benar-benar datang?" ucap Mutiara seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
__ADS_1