Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Ditolak untuk pertama kalinya


__ADS_3

"Papi bisa membacakan dongeng, kalian mau dengar?" bujuk Devan berbaring diantara keduanya.


"Boleh, tapi kalau tidak bagus. papi harus mendatangkan mami kerumah ini." tunjuk Reyhan.


Devan tidak menjawab, dia berusaha mencari cerita dongeng yang menurutnya paling bagus, sehingga perhatian anak-anak terhadap Mutiara bisa dialihkan untuk sementara.


Devan mulai membaca dengan ekspresi yang lucu, sehingga Anak-anak terlihat antusias mendengarkan. tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika memiliki sepasang bocah lucu dan menggemaskan, Devan merasa beruntung karena mampu memenuhi keinginan kedua orang tuanya. tanpa dia ditekan lagi untuk segera menikah.


Anak-anak mulai tidur, Devan memindahkan Reyhan kekamar sendiri, menyelimuti hingga batas dada.


"Selamat tidur, semoga kalian mimpi indah." ucap Dev kemudian berjalan menuju kamarnya sendiri. Dev memeriksa ponselnya, terdapat banyak panggilan masuk dari Mutiara, namun dia lebih memilih mengabaikannya.


****


Gavin datang dengan segala pesona, membujuk dan membantu Mutiara, bahkan dia selalu datang untuk menghibur agar Mutiara bisa tersenyum meskipun itu terkesan dipaksakan.


"Mutiara, aku akan mengajakmu suatu tempat yang paling indah, orang-orang mengatakan jika itu merupakan surga dunia." ucap Gavin.


"Aku merasa tidak mempunyai keinginan lain, selain kehadiran twins disisiku kembali." balas Mutiara tidak bersemangat. bahkan untuk tersenyum pun dia tidak bisa.

__ADS_1


"Percayalah, Anak-anak mu sudah berada di tempat yang tepat. kamu harus bersikap tenang dan bisa mengendalikan amarahmu, Aku rasa dengan pergi liburan kamu akan bisa menemukan ketenangan." bujuk Gavin.


"Oke, setelah aku pikir-pikir. ide mu menarik juga." jawab Mutiara.


Pagi-pagi sekali Gavin sudah datang menjemputnya, bibi Erika sangat senang melihat kedekatan Mutiara dan Gavin. sehingga dia memberikan izin untuk mereka berdua pergi liburan. dia berharap Mutiara bisa melupakan sejenak beban berat yang dirasakan nya.


Mereka menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil, Mutiara sempat ketiduran selama perjalanan. Gavin menghentikan mobil diatas jembatan penghubung menuju villa pribadinya. tangan Gavin menguncang lembut bahu Mutiara. seketika membuyarkan mimpi indah nya, perlahan dia memaksakan untuk membuka mata yang masih terasa berat. terdengar Deru ombak yang saling kejar-kejaran, mengadakan jika mereka tengah berada didekat pantai.


"Mutiara, bagunlah dan lihat apa yang ada dihadapan mu." bisik Gavin dengan posisi yang sangat dekat.


"Pantai, matahari terbenam dan ini sangat indah." gumam Mutiara merasa takjub melihat fenomena alam, dia turun dari mobil menikmati keindahan ciptaan tuhan.


"Aku tidak menyangka kamu akan membawaku ketempat seperti ini." tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya, udara sejuk yang menyentuh kulit putih bersih nya.


Mutiara melihat kebawah, bebatuan karang yang sangat tajam sesekali diterpa ombak besar. pikirannya yang masih labil membuatnya menagis sejadi-jadinya. Mutiara memejamkan mata, dia pasrah jika tubuh nya jatuh kebawah.


"Untuk apa aku hidup, jika tanpa ada Anak-anak disisiku." seketika Mutiara mulai mencondongkan tubuh nya kebawah, sebuah tangan kekar segera menariknya hingga Mutiara terhempas ke dada bidang milik Gavin.


"Apa kamu sudah gila! bagaimana dengan Anak-anak, jika kamu sudah tiada. mereka masih kecil-kecil dan sangat membutuhkan dirimu, aku berjanji akan membantu mu sebisa ku." teriak Gavin.

__ADS_1


"Tidak, Devan bukan lawan yang sepadan dengan kita." jawab Mutiara putus asa.


"Yang penting kita berusaha dan tidak mudah menyerah pada keadaan, aku akan membantu mu mencari pengacara terbaik." bujuk Gavin yang kembali menyadarkan Mutiara dari kekilafan nya.


"Kamu benar Gavin, biar bagaimanapun aku harus hidup demi anak-anak ku, meskipun aku tidak yakin akan memenangkan hak asuh, tapi aku tidak akan pernah menyerah. dan berusaha melakukan yang terbaik bagi Reyhan dan Reyhina." ucap Mutiara.


"Baguslah, jika tidak. mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama." balas Gavin.


"Apa maksudmu?" Mutiara menatap manik bola mata Gavin.


"Jujur, jika kamu lompat kebawah. aku juga akan melakukan nya juga untuk mu. aku tidak bisa hidup tanpamu Mutiara." ucap Gavin sungguh-sungguh.


"Maaf Gavin, aku tidak bisa memberikan mu harapan, selain persahabatan. banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang ku, yang akhirnya akan membuat mu kecewa." Mutiara tidak berani membalas tatapan mata Gavin yang penuh pengharapan.


"Aku mengerti Mutiara, dekat dengan mu seperti ini sudah cukup membuat ku bahagia. percayalah aku tidak akan menuntut mu untuk membalas perasaan ku." ucap Gavin berusaha menahan perih, selama ini banyak gadis cantik yang berusaha mendekati nya. namun berbeda ketika dia berhadapan dengan Mutiara, sekarang Gavin merasa kalah ditolak seorang wanita untuk pertama kalinya.


"Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan menuju villa ku, disana kamu bisa menikmati udara bersih pegunungan. besoknya saat matahari terbit kita akan menunggangi kuda bersama-sama." tawar Gavin.


Mutiara terdiam beberapa saat, memikirkan kata-kata Gavin. lalu mengganggukkan kepalanya. sedikit banyak sikap Gavin sudah mampu membuat Mutiara merasa nyaman, dan tersenyum senang kembali.

__ADS_1


__ADS_2