Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Kembali ke masa lalu


__ADS_3

"Papa!"


"Mutiara, anakku!"


Hendrawan merengkuh putri nya dengan pelukan kasih sayang dan rasa penyesalan karena pernah menyia-nyiakan, setelah bangkrut Hendrawan semakin sadar jika itu sebuah hukuman untuk nya.


"Mutiara, maafkan papa nak."


"Iya pa, Mutiara juga minta maaf karena tidak bisa menjadi anak seperti yang papa inginkan." ucap Mutiara.


"Kamu tidak bersalah nak, papa sudah mengetahui kebenarannya. maafkan papa yang lebih mempercayai mereka berdua." rasa penyesalan membuat Hendra tersiksa setelah melihat kehidupan putri nya.


"Mutiara, maafkan mama." Dian berusaha memeluk Mutiara yang menghindari nya


"Iya Mutiara, aku juga minta maaf. dan benar-benar menyesal." ucap Angela.


"Semua sudah terjadi, dan tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi. begitu juga dengan ku yang belum bisa memaafkan kalian berdua." balas Mutiara bersikap acuh.


"Mana cucuku?" tanya Hendrawan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan tidak menemukan cucunya.


"Mereka ada dikamarnya." balas bibi Erika.


"Erika adikku, terimakasih sudah mau menampung dan membantu Mutiara melewati masa-masa sulitnya selama ini." ucap Hendra pada adik perempuannya.


"Tentu, Mutiara adalah keponakan ku sendiri. aku sangat menyayangi nya." balas bibi.

__ADS_1


Hendra tidak kuasa menahan haru, begitu melihat kedua cucu-cucunya tumbuh sehat, mereka juga sangat tampan dan cantik.


"Aku tidak bisa membayangkan, tindakan bodohku dulu." Hendra merasa malu ada dirinya yang meminta Mutiara untuk aborsi.


"Aku tidak bisa menyalahkan papa sepenuhnya, sebagai orang tua. tentu papa juga ingin yang terbaik untuk anaknya." balas Mutiara memanggil kedua anaknya.


"Reyhan dan Reyhina. sini nak salim dulu sama opa. papa dari mami." ucap Mutiara.


"Asyik, kami juga punya opa." ucap mereka bergantian. menyalami tangan Hendrawan.


Dian dan Angela tidak bisa berbuat banyak, sekarang Hendrawan tidak bisa mereka kuasai seperti dulu lagi. mengalah dan lebih banyak diam adalah solusi terbaik bagi mereka berdua.


"Ma, aku yakin jika ayah dari anak-anak Mutiara bukan orang sembarangan." bisik Angela.


****


Mutiara menatap rumah mewah dihadapannya, dia tidak menyangka akan kembali lagi kerumah ini.


"Ayo nak kita masuk!"


"Pa, sebelum masuk masuk. bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Katakan!"


"Aku ingin menempati kamar utama, kamar masa kecilku sebelum kedatangan Angela." ucap Mutiara seraya tersenyum sinis menatap Angela.

__ADS_1


"Boleh."


"Tidak bisa begitu dong pa, Angela sudah sangat lama menempati kamar tersebut." sanggah Dian.


"Aku juga sudah nyaman disana, dan tidak akan pernah pindah kamar." Angela melipat tangannya kesal namun Hendra mengabaikan mereka dan segera meminta pelayan untuk memindahkan barang-barang Angela.


"Apa lagi yang kamu inginkan, anggap ini sebagai penebus dosa-dosa papa padamu." Hendra menatap putri nya.


"Sesuai surat wasiat mama, aku ingin semua aset atas namaku."


"Ya, kamu adalah putriku satu-satunya. tanpa kamu minta papa sudah mengurus nya."


"Bagaimana dengan ku, istri mu?" ucap Dian tidak terima.


"Kalian juga sudah dapat bagian tertentu, namun semuanya harus persetujuan dari Mutiara. sebagai pemilik utama."


"Tidak mas, aku tidak mau."


"Keputusan ku sudah bulat, dan tidak bisa diganggu gugat lagi." Ucap Hendra membuat Dian dan putrinya Angela terlonjak kaget, mereka langsung kebakaran jenggot. namun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ingatlah Dian, sudah berapa banyak uangku kamu habiskan untuk berfoya-foya dengan putrimu. hingga aku jatuh bangkrut dan kembali bangkit atas bantuan seseorang yang sangat baik hati."


"Siapa yang sudah membantu papa?" tanya Mutiara penasaran.


"Kamu tidak perlu mengetahui siapa dia, yang terpenting perusahaan kita kembali bangkit setelah bekerjasama dengan perusahaan nya." ucap Hendra tersenyum bangga.

__ADS_1


__ADS_2