
Aldo berhasil menangkap tubuh Mutiara dan berusaha untuk memeluk dan menciumnya, namun selalu gagal karena Mutiara terus meronta-ronta dan berhasil menendang dengan keras area reproduksi nya yang selalu dia banggakan. tubuh Aldo ambruk sambil memegangi ************ yang teramat perih.
"Aduuuuh sakiiit, dasar wanita sialan kamu." bentak Aldo berusaha untuk bangkit dan menghadang Mutiara yang meringkuk ketakutan.
"Ting....."
Pintu lift terbuka, membuat Aldo kaget dan mundur perlahan, begitu melihat Devan yang berdiri tegak didepan lift, nampak matanya yang memerah serta tangan yang mengepal kerah Aldo. sementara Mutiara masih meringkuk memeluk tubuhnya menangis ketakutan.
"Devan percayalah aku cuma ingin memberikan sedikit pelajaran pada sektretaris mu yang sok jual mahal ini, maaf kakak jika caraku sedikit membuat mu tidak suka, karena aku melakukan ini dikantor mu, aku janji lain kali tidak melakukan hal ini lagi diperusahaan mu." ucap Aldo saat melihat kemarahan yang terpancar dari wajah Devan.
Dev maju tanpa pikir panjang lagi dan menghajar tubuh Aldo sendiri tanpa ampun, Devan tidak peduli jika adik sepupunya yang baru kembali dari luar negeri akan mati ditangan nya saat ini.
Jims langsung maju melerai melihat Aldo yang sudah sekarat.
"Berani sekali lagi kamu berbuat seperti ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawamu dengan tangan ku sendiri, aku tidak perduli lagi dengan persaudaraan kita. ingat wanita yang berani-beraninya kamu sentuh itu adalah istri ku." Devan kembali melayang kan pukulan keras sehingga Aldo pingsan seketika.
"Ayo sayang kita pulang, jangan takut aku akan selalu menjadi pelindung mu." ucap Devan.
Devan mendekat kearah Mutiara tanpa bicara sepatah katapun lagi. perlahan Mutiara juga mengangkat kepalanya dia melihat Devan, refleks dia menghambur memeluk erat Devan sambil menumpahkan tangisannya.
"Sudahlah, maafkan aku yang sudah meninggal kamu. aku janji untuk seterusnya kita akan tetap bersama. jangan takut lagi ya." bujuk Devan seraya mencium kening Mutiara dengan penuh kelembutan.
Sepanjang perjalanan pulang, Mutiara hanya bisa menagis setelah mendapatkan perlakuan buruk dari sepupu suaminya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah, mulai kedepannya aku akan memastikan jika kamu aman. aku telah berhasil melumpuhkan Aldo. setelah ini dia tidak akan berani macam-macam lagi padamu." bujuk Devan.
"Terimakasih sudah membantu ku." Mutiara menghentikan tangisannya ketika mereka sudah nyaman bersama didekat Devan yang selalu ada disaat dia terdesak dan butuh bantuan.
Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua. Devan fokus pada jalanan yang masih ramai dengan kendaraan yang lalu lalang, sedangkan Mutiara larut dengan pikiran nya sendiri.
Tidak begitu lama mobil yang dikendarai Dev sudah memasuki gerbang utama rumah, nampak mobil kedua orang tuanya juga Devan juga terparkir disana.
"Tenyata mami dan papi mengunjungi kita, Ingat ! dihadapan mereka nantinya bersikap manis lah. aku tidak ingin mereka mengetahui tentang apa yang terjadi hari ini pada Aldo."
"Iya Dev, aku mengerti."
Mutiara merapikan kembali penampilan nya yang sempat acak-acakan.
kedua orang tua Devan menyambut hangat kedatangan anak menantunya dirumah, yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesranya kearahnya.
Reyhina dan Reyhan yang semula sibuk bermain, mengentikan permainan mereka. lalu berlari dengan penuh semangat menghampiri ke-dua orang tua mereka.
"Anak-anakku."
Sarah tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Mutiara dan Devan.
" Mami sangat merindukan kalian." mami memeluk Mutiara dan Devan bergantian.
__ADS_1
"Kami juga merindukan mami dan papi, ya kan sayang." ucap Dev.
"I...iya mi."
Mutiara tergagap mendengar perkataan Devan yang begitu mesra dihadapan kedua orang tuanya. bahkan tatapan lembut Devan telah membuat jantung Mutiara terus berdetak. sehingga tanpa sadar dia semakin mengeratkan dan bergelayut manja di lengan Dev melupakan kejadian yang baru saja dia alami.
"Mami sudah masak menu spesial kesukaan Devan, mari kita semua langsung makan saja, mami tahu jika kalian berdua pasti belum makan malam." ajak mami yang sangat bahagia karena baru bertemu anak dan menantu kesayangannya.
"Mami sangat senang melihat kalian akur dan saling sayang seperti ini." menatap sayang Mutiara.
"Sayang, masakan mami paling enak. kamu cobain deh pasti bakal ketagihan." puji Devan seraya menyuapi ke mulut Mutiara, bahkan dia langsung membersihkan bibir Mutiara dengan ibu jarinya, seraya mengusap lembut saat terkena kuah sup.
"Duh, mesranya...jadi teringat masa muda kita dulu ya Pi." ucap mami seraya melirik suaminya.
"Iya Devan, lihatlah mami dan papi. meskipun sudah tua begini. namun hubungan kami masih sangat harmonis." balas papi memanas-manasi bahkan dia ikut-ikutan menyuapi mami.
"Ah papi buka-buka rahasia kita. mami jadi malu.."
"Biar saja mi, agar Devan bisa mencontoh hubungan kita. Mutiara kamu juga harus pintar-pintar ngambil hatinya Devan, karena sekali dia jatuh cinta. dia bakal setia dan klepek-klepek. mami pastikan jika kamu bakal menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia jika berhasil mendapatkan hati Devan seutuhnya." ucap mami yang yakin jika sebenarnya Devan sangat mencintai Mutiara.
Suasana ruangan makan seketika heboh dan hangat, dengan obrolan antara anak dan orang tua yang sama-sama mempunyai jiwa humoris.
Di rumah sakit, Aldo mendapatkan perawatan intensif dari dokter. namun dia tidak kehabisan akal. bari api dendam mulai dua kibarkan pada Devan yang sudah membuat nya cidera sampai harus mendapatkan perawatan.
__ADS_1
"Devan, aku akan membalas perbuatan mu. aku dan Ariana akan membuat kalian berdua celaka." gumam Aldo. dia berusaha mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ariana, mengatur rencana mereka kedepannya.
Namun terlambat, orang-orang Devan jauh lebih cerdik dalam bertindak. sehingga dia tidak bisa berkutik lagi.