
Rasa capek setelah bekerja seharian membuat Devan beberapa kali menguap, dengan mata yang berembun. sebelum masuk kedalam kamarnya, Dev terlebih dahulu melihat anak-anak yang tidur dikamar mereka masing-masing. Devan tersenyum melayangkan kecupan ringan setelah itu pergi menuju kamarnya sendiri.
Devan merijec setiap panggilan masuk dari Ariana, lalu memilih untuk menonaktifkan ponselnya. membuat Ariana diseberang sana mengumpat kesal merasa dicuekin.
"Devan, kenapa kamu selalu mengabaikan ku. coba kamu lihat hatiku yang sedari dulu mendambakan mu." gumam Ariana sedih.
Devan yang semula sangat ngantuk, tiba-tiba kembali melek. dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang masih lengket karena seharian ini dia belum mandi sama sekali. dia ingin menyegarkan kembali pikiran dengan berendam dengan air hangat, aromaterapi yang tercium membuat perasaan Devan menjadi tenang.
Mutiara yang ketiduran membuka matanya, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar yang luas.
"Apakah Devan sudah pulang?"
Mutiara duduk lalu mempertajam pendengarannya, saat gemercik air jatuh membasahi lantai dari arah dalam kamar mandi.
Devan menyudahi mandi, berjalan keluar dengan hanya mengunakan handuk kecil yang melilit bagian bawah, sedang satunya lagi untuk mengeringkan rambut pendek nya.
Mutiara kembali berpura-pura tidur ketika mendengar pintu kamar mandi seperti dibuka seseorang dari dalam, dia menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut tebal, seraya berharap jika tidak ada masalah yang muncul kedepan nya.
"Sepertinya, mood Devan terlihat membaik. aman."
Mutiara ingin mencoba untuk mengintip dengan menyibak sedikit selimut namun kembali dia membatalkan niatnya, sambil menggigit bibir bawah menunggu Dev mendekati nya.
__ADS_1
Pria tampan itu duduk disisi tempat tidur, memperhatikan Mutiara dari balik selimut yang tersingkap di bagian wajah cantik nya. tangan Dev terangkat mengelus pelan rambut Mutiara. turun kebawah dan berhenti di bagian perut berharap benihnya kembali berkembang di sana. bagi Devan banyak anak merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.
Devan yang sudah mengunakan piyama tidur, mengulum senyum. karena dia tahu jika Mutiara tidak tidur, melainkan mencuri-curi pandang kearahnya. dengan bentuk tubuh yang profesional sebagai pria dewasa.
"Kamu tidak perlu berpura-pura tidur lagi, malam ini aku ingin kamu kembali menjalankan tugas mu." tersenyum mesum menatap Mutiara.
"Tapi kamu masih capek, bagaimana jika kita tunda untuk lain kali saja." ucap Mutiara sambil memaksakan senyuman nya.
"Kamu tidak mempunyai kuasa untuk menolak ku cantik, karena tubuhmu sudah menjadi milikku sekarang dan untuk selamanya."
"Bukanya aku menolak, tolong beri aku waktu beberapa menit saja karena masih sangat mengantuk." alasan Mutiara sambil mengedipkan matanya berkali-kali seolah-olah berusaha keras untuk bangun.
"Apa? ingin menerkam ku, Dev sikap mu seperti seekor macan saja." gurau Mutiara yang mengabaikan tatapan tajam tidak suka dari Devan.
***
Pagi yang cerah, Mutiara melangkah menuruni satu persatu anak tangga, dimeja makan sudah menunggu Anak-anak dengan pakaian seragam sekolah, begitu juga dengan Devan dengan pakaian kantor yang rapi, sambil memeriksa surat kabar. dia terlihat serius sehingga mengabaikan begitu saja kedatangan Mutiara.
"Selamat pagi kesayangan ku." Mutiara melayangkan kecupan ringan dikedua pipi Anak-anak.
"Ayo mami kita sarapan."
__ADS_1
Pelayan dengan sigap segera membukakan kursi untuk diduduki Mutiara, yang persis disebelah dengan posisi duduknya Devan.
Mereka mulai makan dalam diam, dalam hatinya Mutiara penasaran dengan sikap Devan, yang terkadang hangat dan bisa mencair kan suasana, namun kadang dingin sedingin kutup Utara.
Selesai sarapan, Devano meminta sopir pribadinya untuk mengantarkan Anak-anak kesekolah mereka, lalu meminta Mutiara untuk mengikuti nya keruangan kerja.
"Untuk apa dia memintaku keruangan kerja, semoga semuanya baik-baik saja." dia Mutiara dengan detak y mulai tidak menentu, apalagi ekspresi Devan yang sulit diartikan.
"Bagaimana rasanya bertemu kembali dengan Gavin?" tanya Devan seraya mengunci rapat pintu ruangan, Devan merasa dikhianati saat setelah mendapatkan laporan dari orang-orang kepercayaan nya yang diperintahkan untuk menjaga Mutiara dari jarak jauh.
Degh!
Mutiara tercekat seiring dengan tubuhnya yang gemetaran. dia kembali teringat pertemuannya dengan Gavin yang tanpa dia sengaja, Gavin sudah menolong dirinya, tapi Mutiara juga bingung bagaimana Devan bisa mengetahui jika dia sudah bertemu dengan Gavin dipusat perbelanjaan tersebut.
"Ternyata Devan tidak pernah percaya seutuhnya padaku, buktinya dia masih meminta para pengawal pribadinya untuk mengikuti setiap langkah ku." Mutiara membatin seraya memikirkan kata-kata yang tepat.
"Aku dan Gavin tidak sengaja bertemu, dia kebetulan datang menolongku disaat kakiku tidak bisa berjalan karena keseleo. cuma itu tidak lebih." ucap Mutiara mulai merasa takut, apalagi ekspresi yang ditunjukkan Devan benar-benar membuat nya panik, bahkan tidak terlihat sedikitpun raut wajah tampan Devan, jika dia sedang marah.
"Sepertinya, kamu sangat menikmati berjalan-jalan sendiri tanpa mengajak pengawal ataupun pelayan yang aku perintahkan untuk terus menemani mu. apa kamu ingin aku kurung dirumah ini untuk selamanya." ucap Devan dengan tatapan serius sehingga membuat nyali Mutiara langsung menciut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Devano, tolonglah percaya padaku. apa masih kurang bukti kesetiaan dan cintaku padamu." nada suara Mutiara melunak, dia menatap ke-dua bola mata Devan menunjukkan kesungguhan nya.
__ADS_1