Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Hatiku yang memilih mu


__ADS_3

"Tuan Dev, aku ingin kembali pulang. aku tidak nyaman tinggal disini."


"Kenapa, bukankah semua sudah tersedia untuk mu? lalu apa yang membuat mu ingin kembali pulang, disana sangat berbahaya untuk gadis lemah seperti dirimu." ucap Devano.


"Iya, tapi aku harus pulang karena aku punya keluarga dan kehidupan ku sendiri. anda tidak bisa memperlakukan aku seperti tawanan dan wanita murahan." ucap Mutiara menumpahkan isi hatinya.


"Tawanan, menarik juga. jika kamu merasa aku membayar mu sangat murah, katakan seberapa mahal aku harus membayar mu untuk menjadi wanita ku satu-satunya?" tanya Dev menatap intens dua bola berbentuk hazel dihadapannya.


"Aku hanya ingin kebebasan dan kembali pulang." jawab Mutiara.


Devan tersenyum lalu melangkah menuju teras utama, dimana Jims sudah menunggu kedatangannya.


"Tuan Dev, tunggu. please izinkan aku kembali pulang. kondisi ku sudah sangat baik, Angela dan mama Dian juga sudah mendapatkan ganjaran. mereka tidak akan mengganggu aku lagi, jadi tuan tidak perlu kawathir." bujuk Mutiara, namun Devan tetap cuek, tiba-tiba langkahnya yang hendak masuk mobil Rolls Royke kembali dicegat Mutiara, bahkan dia dengan berani memeluk sebelah lengan Devan agar memberikannya izin meninggalkan mentions.


"Jims tolong aku." Mutiara melirik kearah Jims dengan wajah memelas.


"Tuan, saya rasa nona Mutiara benar. keluarganya pasti merindukan dan mengkhawatirkan nona Mutiara saat ini." Jims berusaha untuk membantu.


"Sekali lagi kamu berbicara untuk membantu nya, maka kamu akan saya pecat." ancam Devano ampuh membuat Jims menundukkan kepala takut.


"Mutiara, hatiku sudah memilih mu. maka aku tidak akan pernah melepaskan dirimu lagi, mengerti!!"

__ADS_1


Devan menatap Mutiara yang masih memeluk lengan nya, ciuman mendarat hingga Mutiara kewalahan untuk mendapatkan oksigen. sedangkan Jims bersikap seolah-olah semua tidak terjadi dihadapannya.


Tubuh Mutiara melemah, ke-dua tangan panjang kekar Dev menariknya dalam gendongan menuju kamar pribadi. perlahan Devan membaringkan Mutiara disita empuk seraya berbisik.


"Dirumah ini akulah peraturan nya, jadi menurut dan patuhlah. jika tidak ingin mendapatkan hukuman dariku. jadi mustahil jika kamu memiliki pikiran untuk bisa bebas dariku."


Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Devan pergi. Mutiara terlonjak kaget begitu mendengar pintu kamar dikunci dari luar dan langkah kaki yang mulai menjauh pergi.


Mutiara segera bangkit dan berlari menuju balkon, dari lantai dua dua memperhatikan Devan yang sudah memasuki mobil. sebelum melaju pergi Dev sempat melambaikan tangan seraya mengerucutkan bibirnya. tanda ciuman jarak jauh yang dilayangkan pada Mutiara.


"Aku sangat merindukan Reyhan dan Reyhina, anak-anakku kalian berdua pasti merindukan mami juga."


Mutiara segera meraih ponselnya, namun tiba-tiba dia kembali meletakkan ketempat semula.


"Kamar mandi, ya itu merupakan tempat paling aman." Mutiara berlari menuju kamar mandi menutup rapat pintu.


"Hallo bibi, apa kabar?"


"Mutiara, apa kamu baik-baik saja, nak!"


"Iya bibi, dimana anak-anak?"

__ADS_1


"Mereka uring-uringan karena merindukan mu." bibi lalu mendekati twins.


"Ini telpon dari mami."


"Mami!"


"Mami!"


Keduanya langsung tersenyum, mereka sangat bahagia mengetahui jika mami sudah bisa untuk dihubungi.


"Mami, kami merindukan mu!"Reyhina


"Aku juga, mami cepat pulang!"


"Iya sayang, setelah pekerjaan mami tidak sibuk lagi, mami akan segera pulang. kalian jangan nakal ya." bujuk Mutiara.


"Aku tidak akan nakal lagi, dan akan menunggu mami pulang." balas Reyhan berusaha menahan air matanya.


"Hiks...Love you mami." bisik Reyhina seraya terisak.


"Love you too my baby."

__ADS_1


Mutiara menutup telpon, menghapus daftar panggilan keluar dan kembali naik keranjang. inilah yang bisa dia kerjakan sepanjang waktu.


Ceklek


__ADS_2