
Sarah dan suaminya sengaja mengunjungi Devan keperusahaan, mereka sangat bangga atas kesuksesan anak semata wayangnya dalam berbisnis. meskipun usia Dev masih sangat muda namun Devan sudah menunjukkan kemampuannya.
"Mana Devan?"
"Tuan Devano, sedang meeting dengan klien dari perusahaan Jepang. sebentar lagi dia selesai, tuan dan nyonya silahkan menunggu." ucap sektretaris.
"Oke."
Sandra dan suaminya duduk di sofa ruangan Devan, seraya menikmati minuman segar yang baru saja di antar oleh Rani selaku OG.
Tidak lama menunggu, seorang laki-laki tampan melangkah elegan memasuki ruangan.
"Hallo mami, Pi." Devano menyalami kedua orang tuanya.
"Anakku yang tampan." Sandra memeluk hangat putra kesayangannya.
"Tumben papi ikut berkunjung kesini, apa ada yang penting." balas Devan duduk berhadapan dengan orang tua nya.
"Kedatangan kami hanya untuk memperjelas kelanjutan hubungan mu dengan Natali, sudah waktunya kalian melangkah pada hubungan yang lebih serius, Natali cantik dan karier nya juga sangat bagus, sedangkan kamu sudah sukses dan sangat mapan juga, tunggu apa lagi?" ucap Nick mengingatkan anaknya dimana wajah Devan langsung berubah pias.
DEG!
"Please, saat ini aku belum memikirkan pernikahan. tolong jangan paksa aku." Devan terlihat gusar, saat ini yang terlintas hanya wajah cantik Mutiara.
"Kenapa? mau sampai kapan kamu akan seperti ini Devan? tolong bahagiakan kami dihari tua ini dengan adanya penerus keluarga kita." Sandra meninggikan nada suaranya.
"Aku tidak mencintai Natali, beri aku kesempatan untuk menentukan pilihan ku sendiri."
__ADS_1
"Jangan konyol Dev, mami sangat menyukai Natali. dia adalah perempuan yang tepat untuk mendampingi mu." Sandra mulai melunak.
"Bukankah mami menginginkan keturunan, dan Natali tidak akan pernah bisa untuk itu. dia itu model, mi. Natali tidak akan ingin tubuhnya rusak dengan Hamil anakku." Devan merasa menemukan ide yang tepat untuk meyakinkan maminya.
"Lalu siapa yang menurutmu cocok?"
"Mami tunggu saja, aku akan memberikan mami cucu dari wanita yang tepat. dan aku juga sangat menyukainya."
"Baiklah, kami memberikan kamu kesempatan kali ini. tapi ingat jika kamu belum juga menemukannya, maka mau tidak mau kamu harus setuju dengan pilihan kami berdua." ancam Sandra.
"Iya, Devan akan terima tantangan mami."
Setelah kedua orang tuanya pergi, Devan mulai berfikir bagaimana caranya. dia harus mendapatkan Mutiara dan membuat perempuan itu bersedia hamil anak darinya. malam ini Devan sudah mengatur rencana.
***
"Mutiara, bibi harus kerumah sakit?"
"Siapa yang sakit bibi?"
"Madam Carla, salah satu kerabat dekat mantan suami bibi dulu."
"Hati-hati dijalan ya, bibi."
"Iya, kamu jaga anak-anak dengan baik. jangan lupa pintu depan dikunci. sepertinya malam ini bibi akan menginap dirumah sakit sampai anak madam Carla datang." ucap bibi Erika.
Mutiara lalu menutup pintu rumah, kembali masuk kekamar dimana ke-dua anak-anak sudah tertidur pulas.
__ADS_1
"Kesayangan ku." mencium mereka dengan aroma susu vanilla, secara bergantian.
Ponsel Mutiara tiba-tiba bergetar panggilan masuk dari Devan, dia sengaja mengabaikan, namun ponsel itu kembali berdering untuk kesekian kalinya.
"Untuk apa Devan masih menghubungi ku, apa yang dia inginkan. cukup sudah aku mendapatkan masalah." gumam Mutiara kesal dan masih bersikukuh mengabaikan panggilan tersebut. selang beberapa menit, notifikasi pesan masuk dari Devano muncul.
"Cepat temui aku, jika tidak aku akan datang sendiri untuk menjemput mu."
"Untuk apa? aku tidak bisa!" balas Mutiara.
"Jika tidak, aku akan menjemputmu langsung. sangat mudah bagi Jims untuk melacak keberadaan mu saat ini, sayang." balas Devano.
"Ya Tuhan, mereka tidak boleh mengetahui keberadaan ku. bagaimana dengan twins. pasti Devan akan mengetahui lalu mengambil mereka dariku, Devan akan selalu menang di pengadilan karena kuasa dan uang." bathin Mutiara dilanda kecemasan.
"Baiklah aku akan menemuimu sekarang, tapi aku tidak bisa lama-lama. aku sedang tidak enak badan." balas Mutiara melirik twins.
"Oke, aku mengerti."
Mutiara mengenakan jaket, berhubung cuaca yang sangat dingin. sebelum melangkah dia menatap sedih anak-anak nya.
"Mudah-mudahan Reyhan dan Reyhina tidak terbangun selama aku pergi, sayang maafkan mami yang harus meninggalkan kalian sebentar. mami janji akan pulang secepatnya."
Mutiara mengunci semua pintu, berjalan cepat menuju jalan raya. tidak begitu lama sebuah mobil Rolls-Royce berhenti dihadapannya.
"Cepat masuk!"
"Maaf aku tidak bisa lama-lama, apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Mutiara langsung.
__ADS_1