Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Dimana Mutiara


__ADS_3

Siangnya, Jims menghubungi Mutiara. diapun memaklumi alasan Mutiara yang berhenti dari perusahaan.


"Saya akan langsung mentransfer gaji dan pesangon mu selama bekerja." ucap Jims.


"Ya, terimakasih Jims."


"Pesan saya, jangan pernah muncul dihadapan tuan Devan lagi. sekarang dia bisa melepaskan kamu, namun jika kalian bertemu kembali saya tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi padamu selanjutnya." ucap Jims.


"Apa Devan berkata seperti itu?"


"Ya!"


"Aku berjanji Jims, semoga malam itu adalah pertemuan terakhir kami." ucap Mutiara tersenyum senang.


"Akhirnya aku terbebas juga dari Devan dan Gavin, dua laki-laki yang sama-sama egois dan gila." Mutia menarik nafas lega, senyum nya semakin mengembang Ketika notifikasi pesan banking masuk, tertera jumlah yang lumayan besar telah ditransfer Jims.


"Sebenarnya dengan uang ini, aku bisa buka usaha sendiri. untuk sementara aku simpan dulu. sampai menemukan ide usaha apa yang cocok, atau aku akan pulang ke kampung halaman ku, kerumah mama." bathin Mutiara yang merindukan kampung halaman, tapi tidak dengan papa, ibu sambung dan saudara tirinya.


"Bagaimana nasip kalian setelah bangkrut? yah... untuk apa juga aku peduli. toh mereka juga tidak pernah memperdulikan aku juga." bathin Mutiara.


Kehidupan mulai berjalan normal, dia tidak pernah bertemu Gavin maupun Devan lagi, Mutiara sangat bersyukur paling tidak dia kembali menjalani kehidupannya seperti semula.

__ADS_1


***


"Makanan sudah siap."


Mutiara menenteng nampan berisi salad buah kesukaan twins, mereka menerima dengan semangat. bahkan Reyhan makan dengan belepotan sehingga membuat tangan dan mulutnya kotor.


"Buka mulutnya, biar mami suapi."


Twins membuka mulutnya bersamaan, terlihat lucu. Mutiara sangat menyayangi anak-anaknya dan mulai menyuapi secara bergantian.


"Mami, itu!"


"Hallo mbak Rani."


"Mutiara, semenjak kamu tidak bekerja diperusahaan ini lagi. semua karyawan selalu menjadi amukan kemarahan presdir." terang Rani yang masih bertugas sebagai bagian kebersihan ruangan Devan.


"Apa?"


"Bahkan, dia selalu memarahiku karena kopi buatan ku selalu tidak cocok dengan selera nya, bisakah kamu membantu ku, karena hanya kopi buatan mu yang disukai tuan Devan." adu Rani frustasi.


"Perasaan aku buat kopinya biasa saja, mbak Rani lupa jika yang mengajarkan aku buat kopi untuk presdir mbak Rani sendiri?" ucap Mutiara.

__ADS_1


"Uuup iya, tapi kenapa sekarang tuan Dev tidak menyukai nya, dan selalu marah-marah?"


"Mbak Rani yang sabar, mungkin dia sedang dihadapkan pada permasalahan rumit, sehingga gampang marah."


"Iya juga Mutiara, berdasarkan rumor. Presdir menolak keras perjodohan nya dengan model yang bernama Natali, tapi keluarganya tetap memaksa. bahkan pertunangan mereka akan dilangsungkan besok malam disebuah hotel bergengsi."


"Syukurlah, jika mereka bertunangan. dengan begini aku dan anak-anak bisa bebas dan tidak perlu takut lagi. jika Devan sudah memiliki keluarga baru." bathin Mutiara.


Diperusahaan Devan memeriksa beberapa dokumen, dia lebih suka menyibukkan dirinya bekerja, dari pada harus menuruti kemauan Natali dan orang tuanya yang meminta Devan untuk ikut fitting baju untuk pertunangan yang diadakan besok malam.


"Jims, bagaimana Mutiara?"


"Dia sudah mendapatkan pekerjaan baru disebuah toko bunga, dia terlihat menyukai pekerjaan barunya, Mutiara juga tidak pernah bertemu dengan Gavin lagi." ucap Jims.


"Terus bagaimana dengan hubungan mereka?"


"Sepertinya, Gavin yang berusaha untuk mengejar-ngejar dan mendapatkan Mutiara, namun usahanya gagal."


"Bagus, sekarang beli toko bunga tempat Mutiara bekerja."


"Baiklah tuan, saya segera mengurus nya untuk Anda." jawab Jims tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2