Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Kepergian Bibi


__ADS_3

Setelah makan-makan, Mutiara dan bibi segera memutuskan untuk menjemput Anak-anak kesekolah. baru beberapa langkah mereka akan menyebarang, Mutiara terlihat tidak fokus karena ponselnya berdering, sehingga dia tidak melihat mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan.


"Mutiara, awas nak!"


Brunggghh....


Bibi Erika segera mendorong tubuh Mutiara ketepi, hingga dia sendiri yang kena tabrak mobil. tubuh bibi Erika terpental jauh, darah segar mengalir di sekujur tubuhnya.


"Bibi!"


Mutiara merasa Dunia nya seketika hancur, ketika melihat tubuh bibinya yang terkapar tidak berdaya, kepala bibi retak dan mengeluarkan banyak darah.


"Tolong.... tolonglah bibi ku, dia terluka parah."


Mutiara terus menagis menyeret langkah untuk mendekati bibi yang sudah tidak sadarkan diri lagi.


"Bibi bertahan lah, kita akan segera kerumah sakit."


Sepanjang perjalanan Mutiara tidak henti-hentinya menangis dan berdoa untuk keselamatan sang bibi, tubuh nya tiba-tiba melayang saat wajah putus asa dari tim medis datang menghampiri nya.

__ADS_1


Bibi Erika merasa pandangannya mulai gelap, tubuhnya berputar-putar memasuki lorong waktu yang panjang. dia merasa sangat dingin sehingga untuk membuka ataupun menggerakkan anggota tubuhnya yang lain dia tidak mampu lagi.


Lambat laun, bibi Erika mendengar suara Isak tangis Mutiara, dia berusaha untuk mengangkat tangannya untuk mengelus rambutnya, namun tidak bisa. bahkan tubuh nya kembali melayang terasa sangat ringan bagaikan kapas.


"Mutiara, mungkin sudah waktunya bibi pergi meninggalkan mu. sekarang bibi sudah bisa pergi dengan tenang. anak-anak sudah menemukan ayah kandung mereka yang bertanggungjawab, begitu juga dengan mu. bibi harap kedepannya kamu bisa membuka hati untuk menerima Devano, bagaimanapun diantara kalian sudah ada Anak-anak. doa bibi semoga kamu dan Anak-anak bahagia selalu." ucap bibi Erika dalam hatinya, sebelum menarik nafas yang terakhir, dia pergi dengan senyuman kedamaian.


Mutiara merasa tubuhnya akan ambruk kelantai, namun sepasang tangan kokoh segera menarik tubuh Mutiara kedalam pelukan hangatnya.


"Kamu harus kuat, aku akan selalu bersamamu." bisik Devan.


"Devano, mereka pasti salah. bibi Erika tidak mungkin meninggalkan aku didunia ini sendirian.. hick...hick..." tangis Mutiara pecah dipelukan Devan.


Malamnya Mutiara lebih sering menagis, sedangkan Reyhan dan Reyhina yang belum memahami tentang situasi dan kondisi yang terjadi terlihat kebingungan.


Paginya semua sudah siap untuk berangkat ke pemakaman, semua berpakaian hitam tak terkecuali Mutiara. dia enggan untuk beranjak karena berharap semua yang terjadi secara tiba-tiba adalah mimpi buruk, sehingga Mutiara sangat berharap agar bisa segera terbangun.


Bibi Erika dimakamkan bersebelahan dengan suami tercinta, yang merupakan permintaan terakhir nya.


"Mami, apakah Oma tidak akan kembali lagi?" tanya Reyhina ketika Mutiara memintanya untuk ikhlas melepas kepergian bibi Erika.

__ADS_1


"Tidak sayang, biarkan Oma istrahat dengan tenang di surga." bujuk Mutiara.


"Tidak, Oma tidak menyayangi ku lagi. dia tega meninggalkan aku." ucap Reyhan terlihat sangat marah.


"Sayang, kita harus ikhlas agar Oma tenang di surga. dia menyayangi kita. namun waktu Oma bersama kita sudah habis, sehingga dia kembali ke surga." bujuk Mutiara.


"Tapi kami menyayangi Oma."


Reyhan dan Reyhina serempak menagis, Mutiara memeluk erat kedua anaknya. sedangkan Devan berdiri dibelakang Mutiara. menompang tubuh mungil itu agar tidak ambruk lagi.


Malamnya, Devan menemani Mutiara. berusaha membujuk ataupun menyuapi makanan.


"Ingat Mutiara, hidup terus berjalan dan yang pergi tidak akan pernah kembali, kecuali doa-doa tulus darimu untuk ketenangan mereka." bujuk Devan.


"Ya aku mengerti, tapi sangat sulit menerimanya."


"Kamu harus bisa, Anak-anak butuh sosok ibu yang kuat. di alam sana bibi mu juga akan bersedih, jika kamu belum bisa menerima dengan ikhlas kepergiannya." ucap Devano.


"Kamu benar, aku harus kuat demi anak-anak. agar bibi juga bisa tersenyum." ucap Mutiara menghapus air matanya kembali dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2