Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Wanita yang ceroboh


__ADS_3

"Tuan Dev, tidak bisakah kamu mengerti perasaan ku, meskipun itu sedikit saja." ucap Mutiara penuh pengharapan.


"Tidak, karena aku menginginkan mu setiap saat. jika aku memikirkan perasaan mu, sudah dari awal aku melepaskan mu. tapi tidak aku lakukan, aku membutuhkan mu disisiku." ucap Devano menyeringai lalu melangkah pergi.


Mutiara menarik nafas lega, setelah mobil Devan meninggalkan halaman rumah yang sederhana.


"Apapun caranya, tidak mudah bagiku untuk lepas dari Devan, apalagi mengumpulkan uang sepuluh miliar." kepala Mutiara kembali berdenyut-denyut.


"Aku tidak bisa seperti ini, memikirkan jika aku sudah menjadi istri Dev bisa membuatku gila, pria kasar yang selalu memperlakukan aku semena-mena."


Malam ini Mutiara mendatangi klub, meskipun ini bukan tempat yang biasa dia kunjungi. Mutiara ingin minum-minum mungkin cara inilah yang bisa membuatnya melupakan sedikit permasalahan dan statusnya dengan Devan.


Mutiara memasuki ruangan VVIP, dia sendirian dalam ruangan tersebut. lalu mulai meneguk minuman, hal ini cukup membuatnya merasa tenang, namun hanya beberapa saat. tiga orang pemuda tiba-tiba memasuki ruangan privasi nya.


"Hay cantik bolehkah kami temani?"


"Sepertinya kamu pengunjung baru ya disini?"


"Benar-benar seksi, kami akan menemanimu menikmati malam yang indah, agar kamu tidak sendirian lagi." ucap salah satu Pria yang memberanikan dirinya duduk dengan jarak yang begitu dekat dengan Mutiara.


"Siapa kalian, keluar dari ruangan ku!" bentak Mutiara seraya mundur.


"Jangan galak-galak, nanti kecantikan mu luntur sayang." menarik dan mengelus dagu Mutiara.


"Tolong...!"


Mutiara berteriak untuk memanggil pihak keamanan klub, namun mereka terlihat tidak merespon sama sekali teriakan Mutiara.


"Di tempat ini kami yang berkuasa, jadi percuma kamu berteriak dan meminta pertolongan." tiga pemuda itu mulai semakin berani.

__ADS_1


Mutiara hanya bisa meronta-ronta agar tubuh nya tidak dijamah, disaat tersedak pikirannya hanya Devan, karena dia yang selalu muncul dan menolong disaat Mutiara kesulitan.


"Aku merasa hidup ku, akan berakhir ditempat ini." gumam Mutiara.


Brackk!!


Pintu didobrak kasar dari luar, Devan langsung melayangkan hantaman keras, diikuti oleh pengawal nya.


Kreekk!!


Tampa ampun Devan langsung mematahkan tulang lengan pria yang menjamah Mutiara barusan.


"Aduuuh sakiiit, ampun tuan." teriakan kesakitan bergema di sudut ruangan, dua orang temannya ikut bersujud meminta maaf dan pengampunan.


Mutiara kesusahan mengatur pernafasannya, dia melihat kekejaman Devan yang tanpa ampun. tiga pria tersebut diseret pengawal keluar ruangan, klub seketika heboh.


Devan terlihat sangat marah, sebelum melangkah keluar dia menghubungi seseorang.


"Baiklah tuan." jawab seseorang diseberang sana.


Mutiara mengikuti langkah Devan, duduk disebelah Dev dengan ekspresi dingin. bahkan Dev terlihat mengabaikan nya.


Sampai di Muntions, Mutiara langsung menunju kamarnya sendiri, membersihkan tubuh ku mengganti dengan piyama tidur. kejadian barusan membekas jelas di ingatan nya.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku, jika Dev tidak datang tepat waktu." pikiran Mutiara kembali menerawang, hingga dia tertidur dan terbawa ke alam mimpi begitu saja.


Pagi harinya, terdengar suara ribut dari luar kamar nya. dua bocah mengemaskan itu sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Mami!"

__ADS_1


"Mami!"


Mutiara segera menyingkap selimut, berjalan secara tidak sabaran menuju pintu.


Ceklek


Begitu pintu terbuka, wajah Reyhan dan Reyhina langsung berbinar-binar bahagia, begitu melihat keberadaan Mutiara. anak-anak langsung menghambur ke dalam pelukannya.


"Kami sangat merindukan mami!"


"Mami juga merindukan kalian." mencium hangat twins yang sudah wangi dengan pakaian seragam sekolah mereka.


"Hari ini, kami mau mami yang mengantarkan kami sekolah." ucap Reyhan


"Baiklah, mami bersiap-siap dulu." ucap Mutiara.


"Oke mami."


Setelah membersihkan diri, Mutiara ikut bergabung sarapan bersama anak-anak, saat melihat kursi yang biasa diduduki Devan masih kosong. Mutiara berfikir jika dia sudah berangkat kekantor duluan. setelah kejadian semalam Mutiara ingin menghindari Devan, dia merasa malu dan ceroboh sebagai seorang perempuan.


Baru beberapa suap dia memakan sarapannya, Dev tiba-tiba muncul dan duduk diantara Mutiara dan anak-anak. Perasaan Mutiara menjadi tidak menentu, beda dengan Anak-anak yang tertawa lepas, mereka sangat senang jika kedua orang tuanya lengkap.


"Kami ingin seperti ini seterusnya."


"Apalagi tidur bareng mami dan papi tiap malam." jawab Reyhina.


Mutiara langsung mengalihkan perhatian dan topik pembicaraan Anak-anak.


"Sebaik habiskan sarapan dulu, nanti telat datang ke sekolah."

__ADS_1


"Iya mami."


__ADS_2