
"Oma kita mau kemana?" tanya Reyhina.
"Kita harus segera pergi, agar bisa bertemu dengan mami." bujuk Erika.
"Mami!"
"Mami!"
Wajah Reyhan dan Reyhina langsung berbinar-binar bahagia, mereka sangat patuh. begitu Erika meminta duduk dengan baik dalam taxi yang akan membawa pergi.
"Apa kita tidak mengajak opa?"
"Tidak, opa sedang sibuk bekerja di kantor." jawab Erika.
"Aku sudah tidak sabaran bertemu mami." ucap Reyhan
"Aku juga." Reyhan
Bibi Erika yang panik, bingung harus pergi kemana. sehingga dia hanya mencari tempat penginapan yang ada dalam kita, sambil menunggu kedatangan Mutiara.
"Mudah-mudahan Mutiara bisa kabur dan kembali lagi kesini." dia bibi.
***
Dimention Mutiara tidak berhenti terus berdoa agar Dev tidak menemukan Anak-anak.
"Ya Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja. ini kesempatan baik untuk kabur, berhubung Devan tidak ada, para pengawal juga sedang lengah. haruskah disaat seperti ini aku kembali meminta bantuan Gavin?"
Mutiara berjalan mondar-mandir panik, mau tidak mau dia harus menghubungi Gavin kembali. karena cuma Gavin yang bisa membantunya disaat tersedak seperti ini.
"Gavin!"
__ADS_1
"Mutiara!"
"Bagaimana dengan kondisi mu sekarang?"
"Aku sudah sehat, apa Dev memperlakukan mu dengan buruk?" tanya Gavin.
"Dia akan mencari tahu tentang anak-anak, aku bingung Gavin. aku ingin pulang dan segera bertemu anak-anak untuk melindungi mereka." ucap Mutiara dengan suara bergetar.
"Mutiara, apa yang bisa aku lakukan untuk mu."
"Bantu aku agar bisa keluar dan segera pulang Gavin! sekarang Devan pasti sudah sampai di negara ku." jawab Mutiara.
"Baiklah, aku akan menyisakan helikopter. yang terpenting berusahalah untuk keluar dari dalam mention." ucap Gavin.
"Terimakasih Gavin, aku tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi karena kebaikan mu." mata Mutiara berkaca-kaca.
"Aku ikhlas membantu, asalkan itu terbaik menurutmu, Mutiara."
Mutiara merasa tubuh sangat sakit, saat jatuh terguling kebawah. namun dia tidak boleh menyerah.
"Syukurlah, aku bisa mengelabui pengawal dengan bantuan beberapa orang suruhan Gavin. sehingga mereka kehilangan jejak."
Mutiara merasa lega setelah berhasil mengganti semua yang berhubungan dengan Devan, cincin berlian yang disisipkan alat pelacak, termasuk ponsel dan Sim cards nya. agar Devan tidak bisa dengan mudah untuk menemukan nya.
"Aku akan membuang benda ini, dengan begini Dev akan berfikir jika aku sudah bunuh diri dibawah arus sungai yang sangat deras." ucap Mutiara tersenyum. lalu segera berlari menuju titik tempat yang disebutkan Gavin.
Setelah berhasil menaiki helikopter, Mutiara menarik nafas lega. paling tidak dia akan segera bertemu dengan Anak-anak yang sangat dirindukannya.
"Terimakasih Gavin, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan mu."
Devan, mencari informasi disetiap rumah sakit. karena Hendra juga tidak bersedia mengakui jika Mutiara pernah melahirkan anak.
__ADS_1
"Jika dia tidak pernah melahirkan di negara nya sendiri, kemungkinan besar dia melahirkan di negara kita. Jims cepat cari informasi nya." perintah Devan.
"Baiklah tuan."
"Tapi ada ada informasi yang lebih penting lagi tuan." ucap Jims.
"Katakan!"
"Pengawal mengatakan, jika nona Mutiara sudah berhasil kabur. meskipun mereka sudah berusaha untuk mengejar tapi nona Mutiara begitu cepat menghilangkannya." terang Jims.
"Oke, aku akan melacak posisi keberdaan nya."
Devan segera mengaktifkan informasi alat pelacak yang dia pasang ditubuh Mutiara, namun kemarahan dan kekhawatiran nampak dari ekspresi wajahnya. ketika alat tersebut menunjukkan posisi yang tidak biasa, dibawah bendungan sungai dengan tingkat kedalaman yang mencapai ribuan meter.
"Cepat kalian kerahkan penyelam dan tim SAR, lalu telusuri sungai Aireans." perintah Dev, ekspresi nya sangat sulit diartikan.
Satu jam menunggu kabar, Dev nampak resah dan gelisah. dia berjalan mondar-mandir menunggu kabar pencarian Mutiara.
"Tuan, kami sudah mengerahkan penyelam terbaik. namun tidak menemukan hasil apa-apa. selain hp dan cincin berlian. sepertinya nona Mutiara tidak melakukan upaya bunuh diri, melainkan kabur dengan meninggalkan barang bukti alat pelacak didasar sungai. agar kita tidak bisa menemukannya dengan mudah." ucap salah seorang kepercayaan Dev.
"Sial, Mutiara sudah mengetahui jika aku sudah memasang pelacak di cicin dan ponselnya. dia membuang alat itu begitu saja. ternyata dia memiliki nyali yang begitu besar untuk melawan ku." umpat Devan geram.
"Blokir semua penerbangan atas nama Mutiara." perintah Dev.
"Tuan, kita baru saja mendapatkan bukti jika nona Mutiara dibantu seseorang yang cukup berpengaruh. dia kabur mengunakan helikopter pribadi." jawab Jims.
"Gavin, kamu tidak pernah kapok ingin melawan ku. awas kalian!" Devan mengarahkan tinju pada dinding kaca hingga hancur, semua dalam ruangan tidak ada yang berani mengangkat kepalanya. takut akan terkena dampak kemarahan Devan berikutnya.
"Aku tidak boleh kehilangan jejak Mutiara, cepat kalian selidiki semua tempat dan orang-orang berhubungan dengan Mutiara."
"Baik, tuan."
__ADS_1