
Waktu berjalan terasa begitu cepat, ketika Mutiara mulai menyibukkan diri pada pekerjaan dihadapannya. bahkan dia baru tersadar ketika diruangan mulai kosong, sebagian teman-temannya sudah terlebih dahulu menuju kantin yang disediakan khusus untuk para karyawan perusahaan. karena sudah masuk jam istirahat siang.
"Pegal juga ya."
Mutiara berdiri seraya mengangkat kedua tangannya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Dia bergegas merapikan meja kerja, saat hendak keluar. mata Mutiara membulat ketika melihat Devano tengah berdiri tegap dalam ruangan dengan membuka tirai jendela, Devano tengah memandang dirinya, kedua belah tangan Devan dimasukkan kedalam kantong celana, sehingga terlihat sangat kharismatik.
"Permisi tuan."
Mutiara menyapa ramah, berharap Devan tindak menghentikan langkah nya.
"Tunggu!"
"Glekk! apalagi sih maunya tuan arogan ini, dia pikir aku robot yang setiap saat harus menjalankan perintahnya yang sering tidak masuk akal." umpat Mutiara dalam hatinya.
"Cepat masuk."
Devano mengangkat sebelah tangannya, memberikan isyarat agar Mutiara segera memasuki ruangan kerjanya.
"Maaf tuan, ini jam istirahat. ada yang bisa saya bantu? sebelum saya pergi ke kantin mencari makan." ucap Mutiara seraya memaksakan senyuman nya.
"Masuklah, dan kunci pintu nya." perintah Devano berjalan menuju sofa empuk, seraya membuka jasnya.
"Tuan ini kantor, anda mau apa?" Mutiara mulai ketakutan dan tidak berani masuk, dia masih berdiri sambil memegangi gagang pintu.
"Aku butuh bantuan mu, cepat masuk. kamu tahu apa konsekuensi jika berani melawan ku." nada suara Devan semakin mengintimidasi.
__ADS_1
"Iya, aku masuk."
"Kamu terlalu lambat, dan aku tidak suka menunggu."
Devan menarik sebelah tangan Mutiara, hingga gadis itu jatuh tepat dipangkuan nya. Mutiara sempat terpekik dan merasa sangat cangung berduaan dengan posisi yang begitu intim.
"Tubuh ku pegal, dan aku ingin kamu yang memijid ku."
"Ya...tapi."
Devano tidak ingin mendengar penolakan, dengan bahasa isyarat. Sepuluh jemari lentik Mutiara mulai memijat perlahan bahu kekar dengan otot-otot tubuh yang kencang. perempuan manapun pasti tergoda dengan penampilan fisik dan struktur tubuh yang begitu menggoda dapat dikatakan sempurna.
"Jangan terus memandangi ku, nanti kamu tidak akan bisa lepas dariku, kecuali?" ucap Devan percaya diri seraya mengantungkan ucapan nya.
Mutiara salah tingkah, meskipun Devan memejamkan mata. namun dia bisa mengetahui jika Mutiara memperhatikannya diam-diam.
"Kecuali jika kamu bersedia menjadi wanita ku!" ucap Devan tenang.
"Maaf tuan, aku hanya wanita biasa yang menginginkan uangmu saja tidak lebih." ucap Mutiara, dia mulai terpengaruh rumor tentang kekejaman Devan, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. dan Mutiara tidak ingin hal itu menimpa nya.
"Apa artinya kamu menolak ku? kamu terlalu naif. kamu masih beruntung karena bisa memegangi tubuh ku, yang tidak sembarangan wanita yang bisa melakukannya."
Devan yang terlihat kesal, menarik Mutiara dan mendaratkan ciuman dalam, bahkan tangannya tidak pernah berhenti. disaat bersamaan pintu ruangan diketuk dari luar.
"Siapa?"
"Jims."
__ADS_1
"Masuk."
Pintu ruangan terbuka, Jims sempat kaget melihat pemandangan yang begitu intim, meskipun ini bukan kali pertamanya dia menyaksikan hal itu. sedangkan Mutiara seakan tidak memiliki muka, dia benar-benar malu. namun Devan tidak melepaskan sedikitpun pagutanya.
"Ada apa?"
"Ini dokumen penting, yang harus anda tangani sekarang." Jims menyerah dokumen.
Mutiara menatap Jims, seakan meminta bantuan agar Devan melepaskannya. namun Jims bersikap seolah-olah tidak melihat keberadaan nya.
"Betapa memalukan dirimu, Mutiara." batin Mutiara merutuki kesialan nya.
"Jims, minta pelayan untuk menyiapkan makan siang untuk dua orang."
"Baik tuan."
***
Sepulang kerja, Mutiara melewati pusat perbelanjaan khusus menyediakan pakaian anak-anak yang lucu dan imut. senyum mengembang dibibir nya Ketika membayang jika twins kesayangannya memakai baju karakter binatang tersebut.
"Anak-anakku, pasti terlihat cantik dan tampan jika mengenakan pakaian itu."
Mutiara masuk, memilih karakter binatang kesukaan anak-anak. dia sempat tertegun memperhatikan label harga yang tertera, namun demi ke-dua anak kesayangannya. Mutiara juga sangat ingin melihat mereka memakai nya. sehingga mau tidak mau dia akhirnya membeli.
"Apapun akan mami berikan untuk kalian berdua, nak."
Mutiara tersenyum senang meninggalkan pusat perbelanjaan, seraya memeluk belanjaan nya.
__ADS_1
"Besok aku akan mengajak anak-anak bermain di taman, mereka pasti senang."