Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Pergi demi dia


__ADS_3

"Mutiara, keluar lah dari pekerjaan mu yang sekarang. kamu bisa bergabung diperusahaan ku dengan jabatan yang lebih tinggi." bujuk Gavin yang selalu ingin dekat dengan Mutiara.


"Maaf Gavin, tapi aku sudah nyaman dengan pekerjaan ku yang sekarang." balas Mutiara.


"Banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang Devano, dia sangat kejam. sebelum sesuatu yang buruk menimpa mu sebaiknya tinggalkan the Devan's king, percayalah padaku Mutiara." ulang Gavin.


"Kenapa aku harus mempercayai mu, lagian ini bukanlah urusan mu Gavin." tolak Mutiara tidak suka dengan cara Gavin mendekati nya, namun kata-kata pria tersebut meresap kedalam hatinya, sehingga teror dan ancaman Devano terasa semakin nyata.


"Terserah kamu Mutiara, yang jelas kamu bisa belajar dari rumor yang beredar. bagaimana Devan yang sesungguhnya." ucap Gavin berlalu meninggalkan Mutiara.


"Yah, kamu benar Gavin. mungkin dengan mengundurkan diri dari perusahaan Devan. adalah jalan terbaiknya. aku juga akan kembali ketanah kelahiran mamaku." bathin Mutiara.


Mutiara kembali menghampiri anak-anak, nampak mereka sangat patuh menunggu dirinya.


"Mami kenapa lama sekali."


"Maafkan mami sayang, tadi mami sempat ketemu teman lama jadi ngobrol-ngobrol sebentar." Mutiara mencari alasan.


"Kami juga punya teman baru, namanya Oma Sandra, dia juga baik." ucap Reyhina berbinar-binar.


"Sebaiknya, kalian berdua tetap hati-hati dan waspada terhadap orang baru, kita tidak boleh mempercayai orang sembarangan."


"Iya mami."


"Syukurlah, keberadaan kedua anak-anakku hampir ketahuan Gavin." Mutiara mengusap dadanya, seraya membimbing twins pulang kembali kerumah.


"Cucu-cucu ku, bagaimana jalan-jalannya. pasti seru dong." ucap bibi menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


"Kurang seru, karena ngak ada Oma disana." Reyhina pura-pura cemberut.


"Maafkan Oma, lain kali Oma janji, bakalan ikut kalian jalan-jalan." ucap bibi Erika.


"Mutiara, kamu kenapa terlihat pucat. apa ada sesuatu?"


"Tidak bi, mungkin karena kecapean saja."


"Ya sudah, kalian istrahat dulu. bibi mau lanjutin masak untuk makan malam kita."


***


Besoknya, Mutiara terlebih dahulu menemui Jims. dia ingin memberikan surat pengunduran dirinya.


"Apa-apaan ini Mutiara, kamu yakin mengundurkan diri?" tanya Jims menatap intens gadis dihadapannya.


"Tuan Devan, menginginkan kamu untuk tetap disini. aku takut dia akan mempersulit dirimu jika tetap bersikeras untuk meninggalkan perusahaan ini." ucap Jims.


"Keputusan ku sudah bulat, papaku meminta untuk kembali pulang ke negara asal." ucap Mutiara berusaha memberanikan dirinya.


"Saya pikir kamu tidak akan bisa pergi meninggalkan negara ini, tanpa izin dari tuan Devano." ucap Jims berlalu pergi.


Mutiara kembali keruangan kerja, duduk memikirkan cara agar bisa lepas dari Devan, dan memulai kembali kehidupan yang indah dengan twins dikampung halaman nya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Tidak lama, Jims kembali masuk keruangan Mutiara.

__ADS_1


"Mutiara, tuan Devan meminta kamu untuk datang keruangan nya. sekalian bawa kopi hitam kesuksesannya."


"Baiklah."


Mutiara berjalan menuju pintu, setelah membuat kopi dia berjalan menuju ruangan Devan.


"Mudah-mudahan, apa yang aku takutkan tidak akan terjadi?" doa Mutiara sebelum mengetuk pintu ruangan.


Begitu masuk, Mutiara melihat ekspresi yang berbeda dari Devan. pria itu duduk menyilang kan kakinya dengan pandangan mengintimidasi tertuju kearah Mutiara. yang membuat nya lebih gemetaran, Mutiara juga melihat keberadaan Gavin dalam ruangan yang sama.


"Mutiara, apa benar kamu ingin mengundurkan diri. karena ingin bergabung dengan perusahaan Gavin?" ucap Devan dingin.


"Tidak, itu tidak benar. aku sudah bekerja dan terikat diperusahaan ini. tidak mungkin aku mencari pekerjaan lain begitu saja." ucap Mutiara.


"Mutiara, apa kamu lupa dengan ucapan mu kemaren?" sela Gavin.


"Tuan Gavin, masih banyak diluaran sana orang yang jauh berpotensi dibandingkan aku, untuk bisa anda pekerjakan, tolong jangan ganggu aku lagi."


Mutiara menatap kesal Gavin. ingin rasanya dia menuangkan kopi panas ke wajah pria dengan tampang tidak berdosa tersebut. namun kekesalannya dikalahkan rasa takut terhadap ekspresi Devan, Mutiara tidak berani mengangkat kepalanya. atmosfer di ruangan VVIP tiba-tiba mencekam.


"Gavin, kamu sudah dengar sendiri jawaban dari Mutiara. aku harap kamu tahu diri dan segera tinggalkan ruangan ku."


"Oke, aku akan pergi. tapi ingatlah! aku akan senang hati untuk menerima mu kapan saja, Mutiara." ucap Gavin pergi.


Pintu ruangan kembali tertutup rapat, sekarang hanya tinggal Mutiara dan Devano.


"Kenapa kamu ingin mengundurkan diri dari perusahaan ku, bahkan kamu dan Gavin sudah menjalan hubungan dibelakangku?" tanya Devan berdiri dari duduknya, detak jantung Mutiara mulai tidak menentu. dia begitu ketakutan saat melihat Devan yang semakin mendekat, seolah-olah akan mencabik-cabik dirinya.

__ADS_1


"Itu tidak benar."


__ADS_2