Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Kehangatan keluarga kecil


__ADS_3

Devan menekan tombol interkom yang terhubung langsung ke dalam ruangan Jims.


"Ada apa tuan?"


"Didepan ruangan ku, ada Anak-anak. tidak bisakah kamu menghandel mereka untuk beberapa saat. bujuk mereka sebisa mungkin, jika perlu bawa Anak-anak kepusat permainan." perintah Dev.


"Baiklah tuan." jawab Jims, tidak begitu lama gedoran di pintu masuk ruangan Devan sudah tidak terdengar lagi.


"Kemana Anak-anak?" tanya Mutiara, seketika suasana didepan pintu sudah terdengar hening.


"Jims pasti mampu menghandel mereka untuk beberapa saat."


"Tapi ini sudah waktunya jam makan siang, apa tuan tidak merasa kelaparan." bujuk Mutiara.


"Ya, tapi saat ini prioritas utama ku memakan mu terlebih dahulu." menarik Mutiara, mendengar ancaman Devan, Mutiara jadi takut sehingga akhirnya dia memilih untuk diam dan tidak bersuara lagi, bahkan hanya bisa pasrah saat Devan mulai menyatukan tubuh mereka berdua.


"Bagaimana sayang, apa kamu menyukai permainan ku?"


"I...iya Devan." balas Mutiara berusaha memaksakan senyuman, pikiran nya tertuju pada anak-anak yang gagal menghentikan aksi Devano.


Bagaimana pun cara Mutiara melakukan penolakan, namun dia tetap kalah oleh Devan. bahkan dia mampu mencapai puncak percintaan yang indah berkali-kali saat Devan terus memacu tubuh mungilnya.


Devano ambruk ditubuh Mutiara yang bermandikan keringat, Mutiara masih berusaha mengatur pernafasannya begitu juga dengan Devan.

__ADS_1


"Menyingkir lah dari tubuhku, karena tubuh mu sangat lah berat."


"Oke sayang."


Mereka membersihkan tubuh, dan kembali berpakaian rapi. diluar ruangan, asisten Jims berjalan mondar-mandir kebingungan. dia kewalahan membujuk Anak-anak, karena mereka sangat cepat bosan ditempat permainan dan meminta kembali keruangan sang papi dimana ada mami mereka disana.


"Ayo cepat paman, buka pintunya."


"Aku mau ketemu mami."


"Aku juga." kedua anak-anak mulai merajuk, membuat Jims benar-benar dilema.


"Aku harus bagaimana ini, jika aku memaksakan untuk masuk lalu membiarkan anak-anak memenui orang tuanya. tuan Devan pasti akan marah besar, karena sudah mengganggu nya dalam masa reproduksi anak kembali, tapi jika tidak diberitahu. anak-anak ini bisa membuatku gila dengan rengekan dan tuntutan nya, bahkan punggungku terasa sangat pegal karena sempat mereka jadikan sebagai mainan kuda-kudaan." Jims mulai gusar.


Semenjak bertemu dengan Mutiara dan ke-dua anak-anaknya, Devan terlihat banyak menunjukkan perubahan. sikap nya terkadang seperti seorang anak ABG yang dimabuk cinta. bahkan pekerjaan bukankah prioritas pertama lagi bagi Devan, kekuarga kecilnya adalah no satu baginya, yang terkadang membuat Jims merasa iri karena diumur segini, dia belum memiliki kebahagiaan sejati seperti yang dirasakan sang bos.


Pintu ruangan Devan terbuka tiba-tiba, nampak Mutiara berdiri dibelakang Dev. mereka terlihat sudah rapi kembali.


"Mami!"


"Mami!"


Reyhan dan Reyhina berlari kedalam pelukan Mutiara, yang menyambut hangat kedatangan Anak-anak.

__ADS_1


"Mami dan papi ngapain aja, kenapa lama sekali didalam. dan kami juga tidak diperbolehkan untuk masuk." protes Reyhan.


"Mami sedang ada pekerjaan dengan papi, maklum kita lagi dikantor. jadi tidak bisa leluasa untuk bertemu kalian." bujuk Mutiara.


"Apa mami dan papi habis mandi?" tanya Reyhina memperhatikan rambut mami yang masih terlihat basah, belum kering sempurna. sedangkan Jims berusaha menyembunyikan senyum ketika melihat Mutiara dan Devan kelagapan.


"I...ini, Oya apa kalian berdua sudah makan siang?" Mutiara langsung mengalihkan perhatian anak-anak.


"Belum mami."


"Jims, suruh OG untuk menyiapkan makan siang untuk kami." perintah Devan.


"Baiklah tuan."


Anak-anak masuk keruangan Devan dengan bersemangat, sehingga ruangan yang biasanya sepi menjadi heboh dengan suara gelak tawa Anak-anak yang berlarian.


Mereka duduk dalam sebuah ruangan, Anak-anak ditengah-tengah sementara Mutiara berhadapan dengan posisi duduk Devan.


"Makanlah yang banyak, karena sewaktu-waktu aku menginginkan mu lagi. dan kamu harus siap dengan dengan tenaga yang cukup agar bisa mengimbangi permainan ku." bisik Devan, sambil tersenyum melihat wajah terkejut Mutiara yang merasa malu dan tidak ingin anak-anak mendengar bisikan mesum dari ayahnya.


Mutiara yang lapar tidak menyia-nyiakan makanan dihadapan nya, begitu juga dengan anak-anak makan dengan lahap. tanpa peduli dengan Devan yang kembali menatap kearah Mutiara dengan senyuman yang sulit diartikan.


"Papi, cobalah steak ini rasanya sangat lezat." Reyhina menyuapi Devan, melihat hal itu Reyhan tidak mau kalah, diapun menyuapi sang mami spaghetti kesukaannya.

__ADS_1


"Mami, cobalah makanan ku. rasanya juga lezat."


"Oke sayang." Mutiara membuka mulutnya, namun belum sempat sendok yang berisi makanan sampai ke mulut Mutiara, Devan terlebih dahulu menggodanya, sehingga makanan itu masuk ke mulut Dev, melihat wajah cemberut mami, Anak-anak tertawa bahagia.


__ADS_2