
"Mulai sekarang, jangan panggil aku dengan sebutan formal lagi, santai lah terhadapku. ingat aku suamimu, jadi panggil aku dengan sebutan yang pantas." pinta Devan ketika Mutiara kembali memangilnya dengan sebutan, "Tuan Dev."
"Baiklah, Devan."
Mutiara menjawab dengan wajah merah merona, setelah makan malam diruangan besar bersama anak-anak. Devan mengikuti Mutiara dari belakang, mereka berjalan menuju kamar Anak-anak membantu menidurkan mereka dengan membacakan dongeng. meskipun sesekali Reyhan maupun Reyhina masih menanyakan tentang keberadaan Oma Erika.
"Jika kalian merindukan Oma, berdoa lah untuk dia, semoga Oma tenang dan bahagia di surga." bujuk Mutiara.
"Baik mami."
Setelah Anak-anak tertidur, Devan menarik Mutiara untuk pindah ke kamar mereka, yang berukuran lebih besar dan sangat mewah dibandingkan kamar yang lainya.
"Maaf Devan, aku belum bisa untuk melakukan nya dengan mu." Mutiara menahan perasaan gugup nya. dia masih bersedih pasca kepergian bibi yang sangat dicintainya.
"Kita bisa menundanya lain waktu, aku tidak akan memaksamu." bujuk Devan berdiri di belakangnya.
dengan lembut, Dev tiba-tiba memeluk Mutiara dengan erat seakan memberikan kekuatan untuk hatinya yang labil.
Devan memutar tubuh Mutiara, hingga posisi mereka saling berhadapan, dengan satu tangan Dev meraih pinggang Mutiara dan menempelkan birinya ke bibir gadis itu, cukup lembut namun memabukkan, begitu dalam yang sangat berbeda yang membuat Mutiara melupakan sejenak beban pikirannya.
Mutiara memberanikan menatap dua bola mata Devan, terlihat tajam dan benar-benar mempesona. tubuh Devan yang kekar, sangat tampan dengan tahi lalat di daun telinga yang jantan. Devan balas menatap Mutiara, tatapan mata penuh gairah, seakan-akan ingin menelannya utuh-utuh.
namum selangkah, demi selangkah mereka melakukannya sehingga Mutiara melupakan ketidak siapan nya barusan, Devan begitu lembut dan tidak terburu-buru.
Devan menarik tubuh Mutiara hingga jatuh diatas tubuhnya sendiri. terus ******* bibir Mutiara dengan rakus dan tidak sabaran, bibir yang manis dan buah dada yang besar, membuat Devan merasa puas memainkan benda tersebut.
Setelah itu, Devan memutar posisi Mutiara merasakan tubuh tinggi dan bentuk perut yang sixpack menimpanya dari atas. seperti biasanya, Devan tidak pernah memakai pengaman, dan mulai memasukinya, sehingga tidak menutup kemungkinan bagi Mutiara akan kembali hamil anaknya.
"Devan aaaagghhh..!"
__ADS_1
Mutiara merasa tidak bertenaga lagi untuk menolak, tubuh nya lemas. namun dia memejamkan mata rapat saat merasakan bagian intinya dimasuki. sedangkan Devan tersenyum puas, sambil terus memainkan senjata nya.
"It feels good....."
Devan makin menggila, dia terus menggoyang senjata maju mundur, mereka berhasil mencapai pelepasan secara bersamaan.
"Mutiara."
Samar Mutiara, mendengar namanya diteriakkan suaminya, namun dia merasa tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk sekedar membuka matanya lebih lama.
Pagi harinya,
Mutiara membuka matanya yang masih terasa begitu berat, terpaan cahaya matahari langsung tepat mengenai kulit wajahnya yang putih mulus. Mutiara menoleh kesamping tepat disisi sebelah kanan nya seorang pria tampan masih tertidur pulas.
Mutiara perlahan mencoba untuk bangkit, menyingkirkan perlahan tangan Devan yang masih melingkar indah dipinggang nya.
"Dibawah Anak-anak pasti sudah menunggu ku."
"Sudah ada pengasuh, biarkan mereka."
Devan kembali menarik Mutiara kedalam pelukannya, meskipun masih lelah Devan kembali mencumbui nya.
Tidak puas diranjang, Devan mengendong Mutiara kedalam kamar mandi. mereka kembali bergumul dalam bactub hingga berkali-kali.
"Sudah Devan, kamu menghajar ku habis-habisan. aku sudah capek dan sangat lapar." protes Mutiara.
"Tapi kamu menyukainya kan?"
"Entahlah, aku capek. tolong lepaskan aku jika tidak."
__ADS_1
"Jika tidak?"
"Aku akan melaporkan kamu sebagai kasus kdrt." ancam Mutiara.
"Aku tidak takut, tapi demi cintaku padamu baiklah kita hentikan dulu sampai tenagaku benar-benar pulih sempurna."
Devan bangkit, membantu memandikan Mutiara hingga berpakaian kembali.
Dibawah Anak-anak belum memulai sarapan mereka, begitu melihat ke-dua orang tuanya. Reyhina dan Reyhan langsung tersenyum senang.
"Mami!"
"Papi, ayo sarapan bareng."
Mereka memulai pagi yang hangat dengan keceriaan.
"Aku akan berangkat kekantor, setelah sarapan. istrahat lah dengan benar. agar kamu memiliki tenaga cukup, untuk nanti malam." bisik Devan. sambil tersenyum mesum sambil melangkah pergi menuju kantor nya, diiringi ke-dua Anak-anak menuju sekolah mereka.
"Dada mami."
"Dada sayang, jangan nakal ya disekolah."
"Iya mami."
Mutiara mengantar Devan dan anak-anaknya sampai teras depan, dia kembali masuk setelah mobil menghilang dari pandangan matanya.
Mutiara mengedarkan pandangannya keseliking rumah bak istana, tepat di bagian sebelah kiri lantai satu terdapat taman dan kolam ikan, Mutiara duduk disana sambil memperhatikan ikan-ikan hias berenang.
"Rumah ini terasa sangat sepi, apalagi sudah tidak ada bibi Erika, tempat ku berkeluh-kesah selama ini. anak-anak dan Devan akan kembali sore hari." Mutiara mulai merasa kesepian dirumah besar ini.
__ADS_1