
Wajah tampan Devan ada diatas, bibirnya yang tipis, bahkan Mutiara pernah beberapa kali merasakan ciuman hangat bibir tersebut. pandangan Mutiara seakan tidak bisa lepas, rahang yang tajam dan terlihat jantan. Kedua alis tebalnya membuat Mutiara terpesona, hingga mampu membuatnya terbang melayang beberapa saat, setelah tersadar kembali, Mutia segera mengendalikan dirinya.
"Bodoh, apa yang sedang aku pikirkan. aku tidak boleh tergoda." membantin seraya mencoba untuk bangkit, namun tidak bisa. rasa pusing dan tenaga yang masih lemah membuat Mutiara hanya bisa terbaring pasrah, membiarkan Devan memijid lembut kepala nya, meskipun dia merasa cangung dengan posisi yang sangat intim dengan bos-nya.
Perlahan mata Mutiara terpejam, deru nafasnya terlihat teratur. gadis itu tertidur dalam pangkuan Devan, dorongan yang begitu kuat membuat Devan semakin mendekati wajah dan bibir yang selalu membuat nya sering berfantasi liar. perlahan namun pasti Devan mengecup dalam bibir Mutiara. hingga membuat gadis itu mengeliat pelan, ketika merasakan rabaan lembut dan ciuman hangat bibirnya.
“Ini pasti Cuma mimpi ku, tapi rasanya begitu indah dan nikmat." Mutiara ikut merespon secara perlahan. meskipun dia masih merasakan pusing dikepalanya, Mutia tidak ingin membuka matanya yang begitu berat. seakan dihimpit benda ribuan ton.
"Ini bukan mimpi, tapi nyata."
Mutiara tersadar, jika dia tidak sedang bermimpi melainkan kenyataan. diapun berusaha membuka kedua matanya.
"Aaaagghhh..., tuan! apa yang Anda lakukan. jangan mengambil keuntungan diatas ketidak berdayaanya ku." ucap Mutiara segera duduk ketempat semula.
"Aku hanya meladeni mu, barusan kamu bermimpi dan menarik tubuhku. bahkan dengan beraninya kamu mencium ku, jika kamu masih meragukan apa yang aku ucapkan, kamu bisa bertanya langsung pada Jims."
Mendengar namanya disebut, Jims langsung kelagapan. karena dia mengetahui kebenaran nya, tapi dia tidak akan mungkin berterus-terang jika semua adalah akal-akalan Devan.
"Nona Mutiara, kita sudah sampai didepan rumah mu." Jims mengentikan mobil tepat didepan sebuah kos-kosan, tempat dimana dia pernah mengantarkan Mutiara malam itu.
"Terimakasih, tuan." Mutiara segera turun.
"Apakah kamu, tidak menawarkan aku untuk masuk?"
__ADS_1
"Maaf tuan Devan, ini kos-kosan khusus perempuan. kami tidak diberikan izin untuk menerima tamu pria."
"Baiklah, aku pergi dulu."
Mutiara memperhatikan mobil Devan hingga hilang dari pandangan, setelah itu dia langsung memesan objek online untuk segera pulang kerumahnya.
Mutiara melangkah masuk, setelah menyapa anak-anak dan bibi Erika, dia segera menuju kamar, melihat gelagat aneh Mutiara, bibi segera menghampirinya yang masih terlihat pucat.
"Mutiara, kamu kenapa nak, bahkan jidat mu terlihat memar?" Memeriksa kondisi tubuh Mutiara dengan punggung telapak tangannya.
"Ngak kok bibi, tadi sewaktu berjalan jidatku kejedod karena kurang hati-hati." ucap Mutiara yang tidak ingin bibi Erika kawathir, jika sesungguhnya dia yang hampir tertabrak mobil.
"Kamu sudah minum obat?" bibi Erika masih terlihat khawatir
"Istrahat lah!"
"Iya bibi."
Setelah membersihkan tubuhnya, Mutiara memperhatikan bibirnya yang terasa ikut membengkak.
"Dasar serigala buas, kamu selalu memanfaatkan aku, Devan. kita lihat saja nanti, aku pasti memiliki kesempatan untuk membalas mu." ucap Mutiara geram. namun dia kembali bersikap ceria kala twins berlari kearah nya.
"Mami!"
__ADS_1
"Mami!"
"Anak-anakku sayang, muaaach." memeluk Reyhan disisi kanan dan Reyhina disisi kiri. setelah itu mereka tidur bertiga, menuju mimpi indah yang sebentar lagi akan mereka dapatkan.
***
Sepulang dari kantor, Gavin mempercepat langkah menulusuri koridor rumah sakit. seraya membawa sebuah buket bunga mawar merah ditangan nya.
"Mudah-mudahan, Mutiara menyukai hadiah kecil dariku." gumam Gavin tersenyum.
Sesaat sebelum memegangi gagang pintu ruangan tempat Mutiara semula dirawat, Gavin memperbaiki sedikit penampilannya.
Ceklek!
"Kosong? mana Mutiara, apa dia sudah pulang. tapi kenapa gadis itu tidak memberitahu ku?" berbagai pertanyaan membuat Gavin mempercepat langkahnya menuju ruangan suster jaga.
"Suster, apa pasien atas nama Mutiara sudah diperbolehkan pulang?" tanya Gavin ramah.
"Sudah tuan, tadi siang dia dijemput oleh atasannya, tuan Devano."
"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Gavin berlalu pergi dengan perasaan hampa.
"Devan, aku selalu kalah satu langkah darimu." gumam Gavin mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1