
"Semenjak kita bertemu dan sah sebagai pasangan suami istri, hati dan cintaku sudah menjadi milikmu seutuhnya Mutiara. tidak ada perempuan lain dihatiku selain kamu, sekarang dan untuk selamanya. kamu yang pertama dan terakhir bagiku." ucap Devano menatap wajah polos dan sangat cantik yang sudah tertidur pulas disebelahnya. perlahan Dev mencium kening, pipi dan terakhir bibir Mutiara. dengan penuh kelembutan dan sangat pelan dia takut sang pujaan hatinya akan terbangun.
Mentari bersinar begitu indah, bahkan pantulan cahaya nya menerobos masuk melalui celah-celah jendela. yang membuat sepasang kekasih saling mengeratkan pelukannya.
Tiba-tiba mutuarai mengerjapkan mata nya berkali-kali, ketika matanya yang masih terpejam terkena terpaan cahaya matahari langsung. begitu membuka mata hal pertama yang dia lihat, adalah Dev. laki-laki itu terlihat sudah rapi tersenyum manis menyapanya.
"Good morning, my honey...."
"Morning too... darling."
"Sayang, kita harus segera pulang. karena mami sudah mempersiapkan sebuah Pesta pernikahan mewah untuk kita berdua."
"Benarkah?"
"Ya, segeralah bersiap untuk. kita akan pulang dengan penerbangan khusus pagi ini." ucap Jack.
Minggu pagi yang indah,
__ADS_1
Mutiara melangkah anggun dibimbing Devan memasuki gedung tempat pesta pernikahan mereka dilangsungkan, red karpet terbentang luas hingga menuju pelaminan.
Mutiara terlihat sangat cantik dengan balutan pakaian pengantin mahal dan berkelas, yang membuat semua mata menatap iri dan kagum akan kecantikan dan keberhasilannya mendapatkan suami seorang bangsawan seperti Devan yang sangat tampan.
Reyhan dan Reyhina ikut berjalan dibelakang ke-dua orang tuanya, mereka sangat bahagia.
Pernikahan mewah ini, disiarkan langsung televisi swasta dan luar negeri. papa Mutiara menagis haru meskipun Mutiara sudah memaafkan nya, namun Hendra merasa malu untuk datang ke pesta pernikahan putrinya.
Sorot kilatan cahaya camera disana-sini, semua mata tertuju pada pasangan ini. membuat Mutiara mengeratkan genggaman tangannya. saat melewati red karpet, senyum tidak pernah lepas menghiasi bibirnya.
"Ya, karena malam ini kamu adalah seorang princess dan aku raja nya. kamu sangat cantik sayang, aku bahagia memiliki mu." puji Dev.
Acara berjalan cukup meriah, senyum manis penuh kebahagiaan tidak luput dari bibir pasangan ini. meskipun lelah namun Mutiara tetap tersenyum ramah menerima ucapan selamat dari banyaknya tamu yang hadir dan memberi dia atas pernikahan mereka.
Setelah istrahat yang cukup, pagi ini Mutiara tiba-tiba merasa pusing sekali saat akan membuka ke-dua matanya. dia menutup mulutnya dengan telapak tangan, seraya berlari menuju westafel. dia merasa mual yang teramat sangat. yang menggerogoti leher dan perutnya, seakan-akan diaduk-aduk.
"Wooek...work." sekujur tubuh Mutiara terasa lemas, bahkan dia bisa melihat banyak manik bintang kecil-kecil berputar diatas kepalanya.
__ADS_1
"Mutiara, kamu kenapa?"
Devan tiba-tiba sudah berdiri dibelakang sang istri, dengan tatapan kawathir dan panik. seketika kedua tangan kekarnya membantu mengusap pundak Mutiara yang lemas.
"Aku...aku ngak papa kok, woek." berusaha untuk bersikap tenang, seraya menahan rasa mual dan pusing.
"Woek."
Mutiara kembali muntah, keringat dingin membanjiri wajah cantik nya.
"Ngak papa gimana? ini kamu sudah muntah berkali-kali. pokoknya sekarang periksa ke Dokter." ucap Devan, dia dengan telaten membantu menuntun langkah Mutiara menuju tempat tidur mereka.
Mutiara merasa pandangannya berkunang-kunang, bahkan disekelilingnya seakan ikut berputar-putar. hingga semua terlihat gelap, dia sukses pingsan dipangkuan suami tercinta.
"Mutiara, kamu kenapa ayo bangunlah, sayang."
Devan dan panik dan segera mengangkat dan membaringkan Mutiara. lalu itu dia segera menghubungi Dokter pribadinya. lalu mengambil minyak kayu putih, untuk memijat punggung Mutiara dengan telaten yang kembali berbaring di ranjang.
__ADS_1