Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Kamu akan menjadi milikku


__ADS_3

"Aku sudah mengingatkan, kamu akan bahaya tanpa aku." bisik Devan menarik tubuh Mutiara yang lemas kedalam gendongannya.


"Kalian urus dua perempuan itu." Devan memberi perintah pada para pengawal nya.


"Siap tuan."


Para pengawal langsung menghubungi ambulance rumah sakit terdekat, mengingat kondisi Angela yang cukup mengenaskan.


"Aku bisa berbuat lebih kejam, jika kalian masih mengganggu Mutiara ku." ancam Devan, Dian hanya bisa menggangguk pasrah, dia tidak berani mengangkat kepala, anaknya Angela telah terkena karma nya sendiri.


"Aku kalah, putriku sudah hancur. bahkan uang uang diberikan Natali tidak akan cukup untuk mengembalikan wajah cantik Angela seperti semula."


Dian hanya bisa menagis melihat Angela yang merintih kesakitan, ada rasa malu dan penyesalan yang membuat Dian semakin tersiksa.


"Mama... tolong aku, ini sangat sakiiit."


"Sabar sayang, kita akan segera kerumah sakit." bujuk Dian.


"Senjata makan tuan."


Salah seorang pengawal, mencemooh musibah yang menimpa Angela dan Dian. karena perbuatan mereka sendiri.


Mutiara mengalungkan kedua tangannya dileher Devan, karena takut jatuh. kemudian Devan membantu mendudukkan Mutia dengan baik dalam mobilnya.


"Bukankah kamu sudah kembali, kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya Mutiara hati-hati, meskipun dia begitu bersyukur karena Devan datang tepat waktu untuk menyelamatkan nyawa nya.

__ADS_1


"Aku datang untuk menjemput mu, begitu ada signal bahaya. aku langsung datang ke gudang tua ini."


"Apa cincin berlian inilah yang memberitahukan keberadaan ku?" tanya Mutiara memastikan.


Ya, maka jangan pernah kamu lepaskan. atau kamu mempunyai sebuah rahasia besar yang telah kamu sembunyikan dariku?" tanya Dev tiba-tiba, wajah Mutiara langsung berubah pucat.


"Aku..aku tidak mempunyai rahasia." Mutiara memaksakan senyuman.


"Awas saja, jika suatu saat aku mencari tahu. aku tidak akan pernah melepaskan dan memaafkan mu." ancam Devano yang ampuh membuat Mutiara bungkam ketakutan.


Mobil Rollies Royke berhenti, Mutiara memperhatikan didepan mereka sudah menanti helikopter pribadi milik Devan. yang artinya mereka akan pergi jauh meninggalkan negara ini.


"Kita mau kemana?"


"Kembali bersama ku."


"Hubungi papa mu, beritahu jika kamu kembali lagi untuk bekerja." ucap Devano.


"Ya...tapi."


"Cepat, aku tidak punya banyak waktu."


Mutiara menulis pesan singkat, memberitahu bibi Erika. jika Devan telah menjemput dan membawanya. titip anak-anak sampai aku kembali. katakan pada papa untuk tidak mencemaskan dirinya, setelah menulis pesan singkat Mutiara segera menghapusnya agar Devan tidak mengetahui isi pesannya.


Devan menatap dalam Mutiara, tangannya terangkat seraya mengelus penuh kelembutan luka lembab di wajah Mutiara.

__ADS_1


"Apa ini masih sakit?"


"Tidak, memarnya akan hilang setelah dikompres dengan air es, jangan terlalu menghawatirkan aku." balas Mutiara, namun Devan mengabaikan perkataan Mutiara, lalu memerintahkan penerbangan secepatnya.


"Lakukan penerbangan segera, kita harus sampai dirumah sakit pusat untuk memeriksa kondisi nya." perintah Devan.


"Kenapa dia berlebihan sekali, padahal ini cuma luka ringan." bathin Mutiara, seraya bergidik ngeri saat teringat kondisi wajah Angela.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancur nya wajahku, seandainya Devano tidak datang tepat waktu, anak-anak akan takut begitu melihatku, aku akan dikucilkan oleh orang-orang yang menganggap ku sebagai monster." bathin Mutiara, meskipun secara tidak langsung dia mengkhawatirkan kondisi Angela.


"Tuan Dev, terimakasih." ucap Mutiara terlontar begitu saja dari mulutnya. Devan menatap nya, pandangan mata mereka bertemu sesaat. Mutiara merasa malu lalu menatap keluar jendela.


Begitu sampai, mobil segera mengantarkan mereka menuju rumah sakit. Mutiara dilayani dengan sangat baik. tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika dia diperlakukan begitu istimewa oleh orang yang sangat berpengaruh di negara ini.


"Ini hanya luka ringan akibat pukulan, bersyukurlah wajah cantik nona, tidak terkena oleh air keras tersebut." ucap Dokter tersenyum lembut, seraya mengolesi wajah Mutiara dengan salaf terbaik mereka.


Mutiara dibawa untuk tinggal di mention, sepanjang perjalanan dia berfikir keras bagaimana untuk membujuk dan melunakkan hati Devan.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Aku sedang memikirkan tawaran mu kemaren!" jawab Mutiara.


"Tawaran, apakah sekarang kamu ingin mengatakan jika kamu sudah benar-benar siap untuk menjadi wanita ku." tanya Devan dengan tatapan dewa nya.


"Aku bersedia, tapi bisakah kamu memberiku waktu."

__ADS_1


"Waktu untuk apa? meskipun kamu menolak. aku akan tetap memaksa mu untuk di sampingku." ancam Devan.


__ADS_2