Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Suasana hati yang buruk


__ADS_3

Mutiara tidak tahan lagi melihat apa yang terjadi dihadapannya, pandangan mulai berputar-putar. semua terlihat samar hingga dia hilang kesadaran, refleks Devan menangkap tubuh Mutiara. hingga gadis itu sukses pingsan dalam pelukannya.


"Kirim dia kerumah sakit!"


Devan memberi perintah para pengawal, meskipun dia sangat marah pada Gavin. namun dia masih mempunyai hati nurani terhadap mantan sahabat nya, Gavin.


"Apa yang sudah kamu perbuat terhadap Mutiara, hingga dia pingsan?" ucap Gavin berusaha mengeluarkan suara, meskipun tubuhnya terasa sakit semua.


"Aku peringatkan, ini terakhir kali kamu mencoba mendekati wanita ku. jika tidak aku tidak akan segan-segan mengirim kamu ke neraka! termasuk mengagalkan semua kerjasama perusahaan kita." ancam Devan sebelum pergi.


"Kamu tidak bisa mengatur hidup seseorang sesukamu, dia berhak bebas menikmati kehidupannya sendiri." ucap Gavin, namun Devan mengabaikan ucapan nya, berjalan menuju mobil lalu menidurkan Mutiara perlahan diatas pangkuannya, kembali menuju mention.


Begitu tersadar, Mutiara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. seketika dia menagis teringat apa yang sudah terjadi barusan.


"Gavin, semoga kamu baik-baik saja. gara-gara melindungi ku, kamu sampai terluka dan terlibat masalah seperti ini." bathin Mutiara dihantui dengan perasaan bersalah.


Devan berjalan mendekatinya, duduk berhadapan seraya merapikan anak rambut Mutiara yang berantakan.


"Inilah akibatnya, jika kamu mencoba berani melawanku." ucap Devan.


"Aku punya kehidupan sendiri, aku punya papa dan bibi. mereka jauh lebih berhak atas diriku." ucap Mutiara.


"Kamu tidak mempunyai pilihan." ucap Devano seraya pergi keluar kamar, Mutiara yang masih kesal membanting pintu kamar lebih keras, namun Devan hanya tersenyum tipis menanggapi amukan Mutiara.

__ADS_1


"Setelah dia tenang, antarkan makanan ke kamar, pastikan juga Mutiara menghabiskan makanannya." ucap Dev pada para pelayan


"Baik, kami mengerti tuan." ucap pelayan, dimana mereka harus ikut bekerja ekstra agar makanan yang tersaji nantinya harus sesuai dengan selera, lalu dimakan oleh Mutiara, jika tidak nasib pekerjaan mereka ikut menjadi taruhannya.


Mutiara membenamkan wajahnya dalam selimut, begitu mendengar pintu diketuk dari luar. meski dia tahu jika yang datang adalah para pelayan.


"Nona, bagunlah. kami sudah menyiapkan menu makan malam terbaik khusus untuk mu." bujuk Gracia.


"Aku tidak butuh, kalian bawa pergi saja makanan ini."


"Nona, kami akan mendapatkan masalah jika anda tidak makan." ucap pelayan mulai ketakutan.


"Kalian habiskan sendiri makanan nya, lagian singa jahat itu tidak akan mengetahuinya, bukan!" balas Mutiara.


Mutiara sejujurnya sangat lapar, aroma wangi dan lezat dari makanan tersebut sudah membuat perutnya keroncongan. tapi rasa marah dan kesalnya pada Devan masih di ubun-ubun, sehingga Mutiara tetap bersikukuh pada pendiriannya.


"Keluarlah, aku ingin sendiri." ucap Mutiara pada para pelayan yang masih berdiri menunggu nya untuk makan.


"Maaf nona, kami diperintahkan untuk tetap disini sampai anda benar-benar makan."


Dengan wajah cemberut dan rambut acak-acakan, Mutiara duduk. mengambil sendok dan garpu lalu mulai menyuap dengan malas, rasa gurih dan lezat dari makanan tidak bisa untuk dibohongi, hingga tanpa sadar Mutiara menghabiskan banyak makanannya.


Pelayan saling pandang lalu tersenyum, mengingat usaha keras mereka menyajikan makanan terbaik. membuahkan hasil yang memuaskan. setelah pelayan keluar dari kamar, Mutiara berjalan menuju balkon. duduk seraya merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. menikmati keindahan bulan dan bintang yang bersinar begitu terang dan indah, fenomena alam yang tidak sesuai dengan gambaran suasana hatinya.

__ADS_1


***


Pagi yang cerah, bibi Erika berusaha untuk membujuk Reyhan dan Reyhina. kedua bocah itu masih berharap dan menunggu-nunggu kepulangan mami.


"Oma, kapan mami pulang?" Reyhan


"Aku rindu mami!" ucap Reyhina


"Mami masih banyak pekerjaan, dia pasti akan kembali untuk kalian." bujuk Hendra dari nada suaranya dia sama sekali tidak mencemaskan keberdaan Mutiara.


"Cucu-cucu ku harus makan, agar tumbuh sehat dan juga pintar, ingat pesan mami yang tidak ingin Anak-anaknya sakit." bujuk Erika.


"Bagaimana jika hari ini kita jalan-jalan, pusat permainan, kebun binatang. terserah kalian berdua. opa akan turuti yang penting kalian berdua bahagia dan tersenyum lagi." tawar Hendra.


"Aku ingin lihat harimau!" teriak Reyhan seraya memperagakan seekor harimau mengaum.


"Aku ingin ikan hias."


"Boleh, tapi habiskan dulu makanannya."


"Baiklah Oma."


Setelah dibujuk, Reyhan dan Reyhina kembali ceria, meskipun dihati masih merindukan kehadiran sang mami.

__ADS_1


__ADS_2