Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Aku sudah Menikahi mu


__ADS_3

Mutiara menggeliat pelan, rasanya begitu enggan untuk membuka mata. ditambah lagi udara pagi yang sangat dingin, Mutiara menarik selimut lalu memeluk tubuh mungil Reyhina didepannya. namun kali ini terasa sangat berbeda, tubuh itu terasa keras dan kekar dengan aroma maskulin pria dewasa.


Mutiara tersadar yang dia peluk bukanlah tubuh kecil dan lembut Reyhina, melainkan Devan. dia segera membuka mata memperhatikan Anak-anak tidur dengan posisi yang sudah berubah dengan gaya tidur masing-masing.


"Ini pasti ulah Devan, yang menggeser posisi Anak-anak. dasar laki-laki mesum yang selalu memanfaatkan kesempatan." umpat Mutiara, ingin segera bangkit duduk, namun Devan menariknya erat kembali kedalam pelukannya. Mutiara terus meronta-ronta sehingga aksinya membangun Anak-anak.


"Mami! ada gempa?"


"Mana mami!" tanya Reyhina ketika dia tidak melihat keberadaan sang mami, karena Mutiara langsung menarik selimut karena tidak ingin anak-anak melihat kejahilan ayahnya.


Devan melepaskan Mutiara, dia berbalik lalu menggoda kedua Anak-anak. mereka sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu dengan ke-dua orang tuanya.


"Mami bersih-bersih dulu ya." Mutiara segera ke kamar mandi membersihkan dirinya dari aroma tubuh Devan yang sesungguhnya sangat disukai Mutiara, namun rasa ego dan kesalnya pada sikap Devan membuat sikap Mutiara berbanding terbalik dengan apa yang dia rasakan.


Di lantai utama para pelayan sudah sibuk membuatkan sarapan, mereka mulai bersiap-siap menunggu tuan muda dan keluarga kecilnya untuk sarapan. semenjak kedatangan Mutiara dan anak-anak, Muntions yang dulunya sepi sekarang terasa ramai dengan gelak tawa sikembar, kadang mereka bermain dan berlarian disetiap ruangan. tidak ada yang berani menegur, semua pelayan siap melayani yang terbaik untuk calon penerus Devan's.


"Selamat pagi tuan muda." pelayan menunduk hormat menyambut kedatangan Devan dan anak-anaknya, kemudian Mutiara ikut menyusul.

__ADS_1


Anak-anak menikmati segelas susu vanilla dan sarapan mereka masing-masing, setelah itu Mutiara ikut mengantarkan Anak-anak kesekolah mereka yang elit. tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika anak-anaknya akan diperlakukan seperti seorang pangeran. dimana Devan juga menyediakan pengawal khusus untuk menjaga mereka.


"Devan, aku bosan disini bahkan aku tidak jauh bedanya dengan seekor burung yang kau kurung dalam sangkar emas, bolehkah hari ini aku pulang kerumah ku sendiri. aku janji tidak akan membuat mu kecewa." ucap Mutiara dengan penuh pengharapan.


"Oke, aku beri kamu kesempatan. tapi ingat jangan buat aku marah lagi." ucap Devan.


"Ya, aku berjanji."


Devan mengantarkan Mutiara kerumah bibi Erika, tempat Mutiara menghabiskan waktu dan hari-hari mereka yang indah. sebelum semuanya berubah setelah bertemu Devan.


"Terimakasih telah mengantarkan dan mengizinkan aku pulang." ucap Mutiara.


"Devan, bisakah kita bicara baik-baik. Ehmm.... maksudmu kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini!. aku juga berhak dengan hidup ku sendiri."


Mutiara memberanikan diri untuk bertanya hal yang sudah sering kali dia tanyakan, dan selalu mendapatkan jawaban yang sama, saat ini suasana hati Devan terlihat membaik. Mutiara berharap bisa mendapatkan jawaban yang berbeda.


Langkah Devan terhenti, dia berbalik menatap Mutiara.

__ADS_1


"Semenjak kita bertemu kembali, aku sudah memilih mu untuk menjadi wanita ku." jawab Dev santai.


"Aku yakin kamu mempunyai alasan lain?" Tanya Mutiara tidak puas.


"Ya, sebelumnya aku sudah pernah bertemu Hendra, papamu sangat setuju kamu menjadi wanita ku dengan memberikan beberapa persyaratan." ucap Dev.


"Persyaratan apa?" detak jantung Mutiara mulai tidak menentu.


"Hendrawan telah menyerahkan dirimu seutuhnya padaku, jika aku bersedia membantu perusahaannya yang bangkrut. serta sejumlah uang sepuluh miliar, setelah aku pikir-pikir aku pantas membeli dirimu dengan harga fantastis, mengingat kamu juga sudah melahirkan anak-anak yang lucu untuk ku!" Devan tersenyum puas.


Mutiara menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja didengar langsung, Devan tidak mungkin berbohong. Mutiara ambruk, tidak pernah terbayangkan jika papa satu-satunya orang tua yang dimilikinya, begitu tega menjual dirinya dengan sejumlah uang. tanpa memedulikan perasaaannya sebagai anak kandung dan harga dirinya sebagai perempuan.


"Sekarang, aku tidak lebih sebagai pelacur mu. kalian melakukan kesepakatan secara diam-diam dibelakang ku, aku tidak akan mampu melunasi hutang-hutang papa agar bisa lepas darimu, dasar licik kamu Dev." teriak Mutiara.


"Kamu bukan pelacur ku, karena kamu sudah sah sebagai istri ku secara agama. aku menikahi mu secara siri. setelah menyerahkan sejumlah uang pada Hendrawan, meskipun dia ikut membohongiku tentang keberadaan Anak-anak. karena Hendra berfikir jika aku bukan ayah biologis mereka." ucap Devan seraya tersenyum penuh kemenangan.


"Itu tidak sah, aku tidak mencintaimu Devan." teriak Mutiara.

__ADS_1


"Suka atau tidak, itu adalah kenyataan yang harus kamu terima. sekarang kamu sudah tahu kebenarannya. jangan pernah coba-coba kabur dariku lagi ataupun mendekati laki-laki lain. jika tidak kamu dan Hendrawan akan menerima konsekuensinya dariku.


__ADS_2