Mutiara Yang Ternoda

Mutiara Yang Ternoda
Rasa debaran aneh


__ADS_3

"Maaf Jims, aku menolak tawaran dari bos mu itu. berhubung aku sudah sangat nyaman dengan pekerjaan ku yang baru." tolak Mutiara.


"Terserah anda nona, yang jelas tuan Devano tidak suka dengan penolakan. bahkan jika anda tidak mau kembali. terpaksa tuan Devano mengambil alih kepemilikan restoran mewah tempat anda bekerja saat ini. ataupun menjemput anda secara langsung untuk kembali bekerja dikeperusahaannya." ucap Jims yang bernada sebuah ancaman.


"Apa sebenarnya yang tuan Devano inginkan? apa ini berhubungan dengan permintaan ku yang memintanya untuk menikahi ku? Tuhan.... mudah-mudahan dia tidak benar-benar serius dengan ucapan ku kemaren." Mutiara menjadi panik sendiri, sehingga dia memutuskan untuk menemui Devan ke perusahaan The Devan's King.


Paginya, Mutiara dengan stelan pakaian kantor terlihat elegan melangkah memasuki gedung perusahaan. menyapa ramah beberapa orang yang dikenalnya, namun ada juga diantara mereka yang menatap heran dan penasaran atas kedatangan Mutiara, karena mereka tahu jika dia sudah dipecat dari pekerjaannya.


Begitu sampai dilantai atas, Mutiara terlebih dahulu menemui Jims. yang sudah menunggu kedatangannya.


"Pagi Jims."


"Pagi juga Nona Mutiara." menyapa ramah, setelah tahu kedekatan Mutiara dengan Devano, yang dipikirkannya sudah memiliki hubungan spesial, semenjak saat itu dia juga sangat menghormati Mutiara.


"Apakah saya boleh tahu tentang alasan tuan Devan menarik saya untuk kembali bekerja disini, Jims?" tanya Mutiara yang ingin memastikannya kembali.

__ADS_1


"Maaf nona, saya benar-benar tidak mengetahui nya. yang terpenting anda haruslah bersyukur karena dengan mudah bisa masuk dan mendapatkan posisi pekerjaan yang cukup tinggi diperusahaan ini, dimana tidak sembarangan orang bisa seperti anda, nona." ujar Jims, yang heran melihat Mutiara yang tidak terlihat bahagia.


Tidak lama, Devan datang dikantor dan meminta Mutiara untuk segera menemuinya.


"Tuan, sesuai permintaan anda. saya telah kembali lagi bekerja diperusahaan ini, semoga anda puas dengan kuasa yang anda miliki, sehingga bisa mengatur hidup seseorang." ucap Mutiara pelan namun terdengar tegas.


Tatapan mata Devano fokus pada dua lesung pipi Mutiara yang terlihat sangat cantik, dagu dan bibinya yang terlihat seksi, sehingga menimbulkan debaran aneh yang belum pernah dia rasakan selama ini. rasa gemas dan ingin menyentuh, memiliki seutuhnya, namun Devan masih memikirkan bagaimana caranya, semenjak kedatangan Mutiara hidupnya terasa lebih berwarna.


"Tuan Devan?" ulang Mutiara karena melihat Devano yang hanya terpaku, seraya menatap nya dalam diam.


"Mutiara, tunggu."


"Ya, ada yang bisa saya kerjakan tuan?"


"Ya, mulai sekarang aku hanya ingin kamu yang membuatkan kopi setiap pagi, menyiapkan apapun yang saya butuhkan."

__ADS_1


"Maksud tuan."


"Pekerjaan kamu sekarang adalah asisten pribadi ku."


"Tidak tuan, kasihan Jims. jika pekerjaan nya saya gantikan secara mendadak."


"Jims dan kamu sama-sama akan menjadi asisten ku, dengan pekerjaan yang berbeda." balas Devan tersenyum.


"Baiklah tuan." menjawab pasrah.


"Sekarang aku ingin melihat cara kerjamu secara langsung, ini jadwal ku pagi ini. tolong kamu siapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk rapat nantinya." perintah Devano.


Mutiara mulai bekerja, Devan sengaja berdiri dibelakang Mutiara dengan jarak yang sangat dekat. Mutiara menjadi gugup, melihat tatapan mata Devano yang aneh dan terus mengarah ke wajahnya, bukan pada berkas yang sedang dikerjakan.


Devan dapat merasakan aroma shampoo yang wangi, dia sangat menyukai warna rambut hitam bergelombang yang dimiliki Mutiara. Devan juga bingung dengan perasaan aneh yang mulai muncul tiba-tiba dan mulai mengusik ketenangan nya.

__ADS_1


Setiap memejamkan mata, dia melihat senyuman lepas Mutiara yang indah.


__ADS_2