
"Gavin, kamu memiliki nyali yang kuat untuk mendekati wanita ku." ucap Devan dingin.
"Mutiara bukan milikmu, jadi dia bebas ingin dekat dengan pria manapun." jawab Gavin santai.
"Aku pastikan persahabatan kita akan berakhir, jika kamu masih mencoba mendekati Mutiara."
Melihat suasana antara Gavin dan Devan yang semakin memanas, Mutiara berusaha untuk mencari celah untuk kabur meninggalkan pesta.
Mutiara menarik gaunnya, berlari melalui pintu belakang yang terhubung ke jalan raya, Mutiara tidak peduli dengan lalu lalang kendaraan yang hampir menabrak dirinya, yang terpenting bisa berlari sejauh mungkin.
"Aaagggh... aku tidak kuat lagi huuuffp...." Mutiara kewalahan mengatur pernafasannya yang semakin memburu.
Saat melihat mobil hitam Rolls Royke Devan yang mendekat, Mutiara kembali berlari. meskipun kakinya terasa sangat sakit dan tubuh yang terhuyung ingin pingsan. Mutiara jatuh diaspal tubuh nya terguling tak berdaya. bahkan dia tidak mampu melawan lagi saat tangan kekar dan panjang Devan menarik tangannya lalu mendorong tubuhnya masuk kedalam mobil.
"Tolong lepaskan aku!" meskipun sudah sangat lemah, Mutiara masih berharap Devan akan melepaskan dirinya.
Mobil berhenti disebuah tempat yang tidak Mutiara ketahui, tubuhnya diseret memasuki sebuah kamar yang berukuran lumayan luas dan mewah, kemudian dihempas dengan kasar diatas ranjang.
"Sepertinya, ancaman ku selama ini tidak pernah kamu dengar kan, malam ini kamu akan memulai tugas mu menjadi wanita ku."
Mutiara yang ketakutan menagis seraya menggelengkan kepala, suaranya tertahan ditenggorokan. sebisa mungkin dia mundur hingga sisi ranjang.
"Berapa Gavin membayar mu?"
"Tidak, aku bukan wanita seperti itu. tolong ampuni aku tuan." Mutiara mulai menagis.
__ADS_1
"Cepat lepas pakaian mu, atau aku sendiri yang akan melakukan nya?"
"Jangan, aku mohon." Mutiara menyilang kedua tangannya di dada, berusaha untuk melindungi diri. namun tenaganya selalu kalah oleh Devan.
"Cepat berikan aku layanan terbaik mu."
"Jangan, aku tidak mau. aku bukan wanita bayaran."
"Lalu apa? bukankah kamu menikmati belanja pakaian mewah dan makan malam romantis, dengan laki-laki brengsek itu?" teriak Devan seraya melayangkan tinju ke dinding, hingga membuat tangannya sendiri memar.
"Dia memaksaku, aku tidak bisa menolak karena Gavin pernah menolongku. aku janji setelah ini akan menjauhi Gavin jika itu bisa membuat mu tenang." ucap Mutiara tersendat-sendat disela tangisan nya.
"Kenapa kamu membiarkan laki-laki itu merengkuh pinggang mu?" Devan masih belum bisa terima penjelasan Mutiara.
Mendengar ucapan Mutiara, kemarahan Devan kembali tersulut. dia menarik kasar gaun itu hingga robek.
"Kamu terlalu banyak bicara, seperti aku benar-benar harus berbuat lebih. agar kamu sadar tengah berhadapan dengan seekor singa lapar." Devan mengertakan gigi nya. pandangan Mutiara semakin mengecil, meskipun dia berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Ayo katakan lagi, apa hanya segitu kemampuan mu untuk melawan ku?" Devan memegangi dagu Mutiara yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Aku tidak boleh mati ditangan pria aneh ini, aku harus tetap hidup demi Reyhan dan Reyhina." bathin Mutiara, namun dia tidak bisa bergerak lagi, tubuh nya terasa kaku. seakan dihimpit beban ribuan ton.
"Hey ...buka matamu, jangan berpura-pura dihadapan ku, jika kamu kembali membohongi ku. aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat Dunia lagi." ancam Devan diikuti kecemasan karena Mutiara terdiam tanpa pergerakan dan perlawanan seperti semula.
Devan tiba-tiba menjadi panik, segera dia menyambar ponsel dan meminta Jims segera datang dengan membawa serta seorang dokter.
__ADS_1
"Tuan, apa yang sudah anda lakukan pada gadis yang tidak berdaya itu." umpat Jims ikutan panik, dia mempercepat laju kendaraannya bersama dokter Angel. yang juga sahabat kecil Devan, jadi mereka berdua sudah sangat hafal dengan sifat tempramen tuan mudanya tersebut.
"Mudah-mudahan, tidak terjadi sesuatu yang serius." ucap Angel berjalan menuju kamar Devan.
"Devan, siapa yang sakit?"
"Angel, cepat kamu periksa kondisi perempuan itu!"
Angela kaget melihat Mutiara yang terbaring lemah, seumur hidupnya baru kali ini dua melihat Devan membawa seorang wanita ke mention pribadinya, bahkan pria itu terlihat sangat cemas.
Angel langsung memeriksa Mutiara, dia tidak menyangka Devan akan berbuat kasar. bahkan bahu Mutiara terlihat memar dan gaunya yang robek.
"Tuan, gadis ini sangat tertekan dan syok sehingga dia mudah sekali pingsan. sebaiknya jangan terlalu dipaksakan, jika tidak trauma dan rasa takut akan membuatnya depresi dan susah untuk disembuhkan lagi." terang Angela seraya memberikan obat suntik untuk Mutiara agar panas badannya kembali normal.
"Oke, berikan dia obat dan perawatan setelah itu antarkan dia pulang." ada rasa bersalah karena terlalu keras terhadap Mutiara, namun Devan kembali menepis ketika bayangan kebersamaan Gavin dan Mutiara kembali melintas.
"Baik tuan."
***
Gavin panik, saat Mutiara pergi meninggalkan pesta begitu saja. dia berusaha untuk mengejar, bahkan sempat baku hantam dengan Devan beberapa saat. seolah-olah mereka melupakan persahabatan yang sedari dulu sudah terjalin erat.
Para bodygardnya Devan juga menghalangi langkah Gavin, sehingga dia kehilangan jejak Mutiara.
"Maafkan aku Mutiara, aku harap kamu baik-baik saja." ucap Gavin mengusap kasar wajahnya, dia masih berusaha mengelilingi pusat kota berharap bisa menemukan Mutiara secepatnya.
__ADS_1