
Pagi yang cerah, Mutiara bagun lebih awal, dan segera bersiap-siap untuk pergi kekantor. dia ingin menghindari Devan sampai kemarahan mereka benar-benar sudah bisa diatasi.
“Mumpung Devan masih tidur, sekarang kesempatan untuk ku segera pergi kekantor duluan, aku takut dia akan kembali memarahi ku dan membahas kembali kejadian kemaren." gumam Mutiara.
Saat melihat suaminya yang masih tertidur pulas, tanpa sadar Mutiara mencium kening Devan sekilas, dengan berjalan sambil pelan-pelan takut laki-laki tampan itu akan terbangun. Mutiara lalu menutup pintu sambil melangkah turun dimana anak-anak sudah menunggu kedatangannya untuk sarapan.
"Mami, kenapa papi tidak ikut sarapan?"
"Papi masih tidur, sepertinya dia masih kelelahan pulang kerja lembur." jawab Mutiara memberi alasan.
"Aku benci lembur!"
"Aku juga, lembur telah membuat papi kita kecapean dan tidak bisa sarapan bareng lagi." jawab Reyhan melipat tangannya cemberut.
"Ya udah sekarang habiskan sarapan nya, mami akan mengantarkan kalian berdua kesekolah. setelah itu mami akan pergi bekerja."
Anak-anak menurut, mereka sarapan dengan patuh. setelah itu masuk kedalam mobil yang akan
mengantarkan mereka kesekolah.
****
Devano mengucek matanya yang sikau terkena terpaan cahaya matahari langsung, yang masuk melalui celah-celah ventilasi kamar mereka. tangan panjang dan kekar Devan, meraba-raba sisi kasur disebelahnya yang sudah kosong.
__ADS_1
“Mutiara?”
Devan langsung terbangun, begitu menyadari disebelah nya kosong. sambil memijid pelipis yang masih tersa berat dan sedikit pusing, Devan berusaha membuka matanya kembali.
Dia mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan kamar yang sudah terlihat sepi, sudah tidak ada lagi Mutiara yang tidur disampingnya.
"Apa dia sudah berangkat bekerja duluan." gumam Devan.
***
Setelah membersihkan tubuh dan berpakaian kerja dengan rapi, Devan menikmati sarapan sendiri. diteras utama sudah menunggu asisten Jims yang merangkap sebagai supir dan asisten dikantor.
Devano sangat mempercayai dan menyukai cara kerja Jims, sehingga dia tidak ingin yang lainya untuk membantu urusan pribadinya.
"Selamat pagi Tuan." Jims menundukkan kepalanya hormat.
"Mmmmhh."
Devan terlihat sedang berfikir untuk memberikan hukuman yang tepat untuk Mutiara yang sudah mengulangi kesalahan yang sama. karena menurutnya sudah terlalu banyak kesalahan yang dilakukan oleh gadis tersebut, bahkan sudah mulai berani untuk melawannya.
Sampai dikantor Devan langsung menuju lantai atas mengunakan lift khusus Presdir. namun bukan ruangan kerjanya yang dituju oleh Dev, melainkan ruangan tempat Mutiara, kedatangan Dev membuat gadis cantik itu terlonjak kaget.
"Selamat pagi Presdir, saya sangat merasa terhormat sekali. karena anda telah sudi mengunjungi saya selaku bawahan diruangan ini. apakah ada yang bisa saya bantu tuan?" ucap Mutiara mencoba berbasa-basi untuk menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Ya, saya sangat membutuhkan bantuan dari sektretaris seperti mu."
Devan tersenyum tipis, sebelah tangannya langsung merengkuh pinggang Mutiara lalu membawa gadis itu berjalan menuju ruangannya.
"Maaf tuan, anda tidak bisa seperti ini diperusahaan. lihatlah apa yang akan mereka pikirkan tentang kita." ucap Mutiara.
"Aku tidak peduli pada mereka, sekarang kamu harus mendapatkan hukuman dariku. karena dalam beberapa hari ini kamu sudah terlalu banyak melakukan kesalahan." ucap Devan.
"Maafkan tuan, jika saya sudah melakukan kesalahan. tapi saya harap anda bisa menempatkan permasalahan pribadi dengan pekerjaan kantor." Mutiara berusaha berbicara selembut mungkin agar Devan tidak tersinggung.
"Ini perusahaan milik ku, semua peraturan ada ditangan ku."
Devano tidak ingin mendengarkan penolakan dari Mutiara lagi, dia langsung merebahkan tubuh Mutiara diruangan khusus yang terdapat dalam ruangan kerjanya. dia semakin tertantang saat melihat penolakan dari Mutiara yang berusaha untuk menghindar dari cumbuan nya.
Dengan sigap Devan sudah berhasil membuat Mutiara menjadi polos, begitu juga dengan dirinya. dengan posisi mereka yang seperti ini, Devan semakin terangsang menikmati dua gundukan besar dihadapannya. kecupan dan rabaan tangan Devan tidak pernah berhenti, sehingga ******* lembut yang keluar dari bibir seksi Mutiara semakin membuat dia bersemangat untuk saling berbagi kehangatan. tanpa peduli dengan tumpukan pekerjaan yang tengah menunggu persetujuan dan tanda tangan darinya.
Percintaan panas mereka terus berlanjut, hingga keduanya mencapai pelepasan diwaktu yang bersamaan. Mutiara dibuat tidak mampu bergerak dengan leluasa lagi oleh permainan Devano. sehingga dia langsung tertidur begitu saja dengan rambut yang sudah acak-acakan dan lipstik yang sudah memudar dibibirnya.
"Terimakasih cantik, kamu selalu berhasil memuaskan aku, inilah yang membuat ku tidak bisa lepas darimu, dan aku juga tidak akan pernah mengizinkan pria lain ingin memiliki mu juga." bisik Devan seraya menyelimuti tubuh polos Mutiara.
Setelah membersihkan diri nya, Devan mengganti pakaian kerja yang baru. sebelum meninggalkan kamar, dia tersenyum puas melihat istri nya yang sudah membuatnya hampir melupakan setumpuk pekerjaan yang menanti. bagi Devan sekarang adalah Mutiara yang sudah membuatnya merasa nyaman.
Devan memulai pekerjaan nya kembali dengan semangat, senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. namun tidak dengan asisten Jims, dia harus dibuat sibuk hari ini karena harus melakukan pekerjaan double. sebagai asisten dan sektretaris untuk menggantikan Mutiara juga yang masih tertidur pulas karena kecapean bercinta dengan Devan.
__ADS_1