
"Ya, kita harus membawa anak-anak pergi secara sembunyi-sembunyi. karena aku tidak bisa menjamin kedepannya, cepat atau lambat dia pasti akan menemukan fakta ini, jika kita masih bertahan dengan tetap tinggal disini."
"Ya, kita harus berkemas secepatnya. bawa seperlunya saja." balas bibi yang merasa berat meninggalkan rumah peninggalan suaminya, namun keselamatan Mutiara dan anak-anak jauh lebih penting dari segalanya.
"Apa kita akan pulang kerumah papamu?"
"Tidak, tapi kerumah nenek di kampung halaman mamaku, kita akan memulai kehidupan yang baru disana, bibi"
"Bibi sangat setuju."
"Tapi jika kita pergi dalam pesawat dan waktu yang bersamaan, aku kawathir kita pasti akan tertangkap dan semua akan terbongkar." ucap Mutiara panik menatap anak-anak yang balik menatap nya dengan tatapan polos.
"Mami kita mau kemana?" tanya Reyhina.
"Kita akan pulang kenegara asal, kalian pasti senang naik pesawat terbang." bujuk Mutiara.
"Hore....hore... Reyhan ingin terbang dan naik awan." lari berputar-putar seraya memainkan pesawat terbang mainan nya.
"Reyhina juga pengen naik pesawat, pasti sangat menyenangkan." Reyhina mengatupkan kedua tangannya, dengan mata berbinar-binar.
"Kita tidak punya banyak waktu, seperti kita akan pergi dengan pesawat dan penebangan yang berbeda-beda. demi keamanan." ucap Mutiara.
"Jika itu yang terbaik, pergilah duluan. setelah itu bibi dan twins akan segera menyusul mu." balas bibi.
__ADS_1
"Jika aku tidak menghubungi bibi dalam waktu dekat, berarti rencanaku kabur sudah ketahuan dan gagal. bibi tetap awasi dan jaga anak-anak sampai aku kembali." bisik Mutiara tidak ingin anak-anak mendengar percakapan nya.
"Jangan bicara seperti itu, bibi jadi mengkhawatirkan mu nak."
"Bibi tidak perlu cemas, selama pria itu tidak mengetahui keberadaan twins. semua akan berjalan baik-baik saja." bujuk Mutiara.
"Apa dia menyakitimu?"
"Tidak, namun dia egois dan sedikit memaksa." balas Mutiara lalu memeluk anak-anak bergantian.
"Twins, karena ada beberapa hal yang harus mami selesaikan. terpaksa mami berangkat duluan. nanti kalian nyusul mami dengan Oma ya." mencium twins bergantian.
"Oke mami."
Mutiara tetap waspada ketika dia harus melewati proses antrian yang memakan waktu sedikit lama, Mutiara berdiri dengan resah dan tidak sabaran, tiba-tiba detak jantungnya semakin berpacu setiap melihat beberapa orang memakai kaca mata dan stelan jas hitam, yang merupakan ciri-ciri khas para bodyguard Devan. Mutiara menarik nafas lega ketika dia sudah berhasil melewati proses keamanan dibandrara.
"Sepertinya mereka hanya orang-orang biasa, aku tidak perlu terlalu cemas." Mutiara menguatkan hatinya, kaku mengeluarkan ponselnya untuk mengabari bibi Erika.
"Hallo bibi."
"Mutiara, apa kamu baik-baik saja, nak?"
"Iya bibi, aku sudah berhasil melewati semua nya. sebentar lagi pesawat ku akan terbang menuju tanah air. kita akan memulai kehidupan yang tenang." ucap Mutiara tersenyum lega.
__ADS_1
"Syukurlah nak, setelah kamu sampai. bibi dan anak-anak akan segera menyusul. tetap waspada." ucap bibi mengingatkan.
"Oke, bibi terimakasih sudah hadir dalam hidupku. jika bibi tidak ada, mungkin aku tidak akan sekuat ini."
"Jangan berbicara seperti ini nak, bibi sangat menyayangi mu."
"Begitu sampai aku akan menelpon bibi, pesawat ku akan segera lepas landas." setelah menutup panggilan, Mutiara mengganti mode pesawat di ponsel nya.
"Aku tidak akan pernah kembali lagi ke negara ini, selamat tinggal Devan, bertemu dengan mu membuat hidupku terasa semakin berat." bathin Mutiara menyandarkan tubuhnya disandararan kursi, seraya tersenyum dan menarik nafas lega. namun itu hanya beberapa saat saja, tiba-tiba terdengar kegaduhan.
"Kenapa pesawat ini belum berangkat?"
"Ya seharusnya sudah landas, bahkan ini sudah berselang setengah jam."
"Tidak biasanya hal ini terjadi? mereka membuat kita menunggu lama."
"Apakah ada tamu terhormat, sehingga kita harus menunggu seperti ini." penumpang mulai protes.
Mutiara melihat jam tangannya, dan mencoba untuk berfikir positif. namun dia mulai resah setelah menunggu agak lama.
"Penumpang yang terhormat, karena ada suatu insiden maka penerbangan kita terpaksa ditunda beberapa saat. mohon maaf atas ketidak nyamanan anda semua, terimakasih atas pengertiannya." terdengar suara dari TalkWalking.
"Mengapa mereka tidak memberitahukan apa permasalahan nya?"
__ADS_1
"Ya seharusnya kita diberitahu! ini kejadian langka, membiarkan orang-orang menunggu dalam pesawat." Orang-orang mulai kesal.