
"Ini salah bibi, yang sudah lalai mengawasi Reyhan." ucap bibi menyesal.
"Tidak, ini bukanlah kesalahan bibi. Oya apa bibi melihat laki-laki lain saat kejadian. maksudku laki-laki yang mempunyai wajah mirip sekali dengan Reyhan?" untuk memastikan apakah Devano sudah bertemu dengan Reyhan secara langsung.
"Sepertinya tidak, apa mungkin orang itu sudah keluar duluan." balas bibi karena dia hanya bertemu dengan Jims seorang.
"Bisa jadi."
"Mami maafkan Reyhan." ucap bibir mungilnya seraya memeluk Mutiara selama perjalanan mereka kembali pulang.
"Tidak apa-apa sayang, mami tahu jika Reyhan tidak sengaja melakukan kesalahan ini. lain kali Reyhan harus hati-hati dan dengar perkataan Oma Erika dan mami ya."
"Iya mami."
"Pergilah main dengan Reyhina, nanti mami nyusul."
"Iya mami."
"Bibi sebaiknya bibi saja yang menghubungi mereka, aku takut tidak bisa berbicara ataupun mengontrol emosi dengan baik. bukanya selesai takutnya permasalahan ini semakin rumit."
"Ya nak, sini ponselnya."
__ADS_1
Mutiara mengaktifkan speaker agar bisa mendengar suara laki-laki diseberang sana.
"Hallo tuan, perkenalkan namaku Erika. aku orang tua dari anak yang sudah mengotori jaket dan kemeja bos Anda." ucap bibi Erika.
"Ya, apakah kalian sudah menyiapkan uang ganti rugi nya?" terdengar suara Jims dari seberang sana.
"Maaf sebelumnya tuan, aku dan keluargaku hanya masyarakat biasa. kami tidak memiliki uang sebanyak nominal yang anda sebutkan, bisakah kami menyicil atau berilah kami keringanan. mengingat anak saya sama sekali tidak sengaja melakukannya."
"Sengaja atau tidak, ini adalah kelalaian Anda dalam mengawasi. ditambah lagi kejadian ditempat umum." balas Jims.
"Maafkan saya tuan, jadi bagaimana keputusan anda, apakah saya bisa menyicil?"
"Oke baiklah, kami tidak bisa terlalu keras terhadap orang-orang seperti kalian." Jims mengalah seraya menutup telponnya.
***
"Mutiara, tuan Devan kembali memanggil mu keruangannya." ucap Jims mendekati meja kerja Mutiara.
"Memanggil ku, perasaan aku tidak melakukan kesalahan?" bathin Mutiara ragu untuk kembali masuk keruangan kerja Devano, kejadian beberapa waktu silam masih membekas dibenak nya. Mutiara tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
"Tuan Jims, bisa kah aku ketoilet wanita sebentar." ucap Mutiara berharap rasa gugupnya berkurang.
__ADS_1
"Silahkan, tapi jangan lama-lama. karena tuan Devan tidak suka menunggu, apalagi itu seorang bawahannya dikantor ini." ucap Jims.
"Saya mengerti."
Mutiara segera menuju toilet, dia juga heran dengan perutnya yang suka mulas ketika sedang merasa gugup, cemas ataupun ketakutan.
Namun saat akan keluar dari toilet, Mutiara secara tidak sengaja mendengar Monalisa dan teman-temannya sedang menyebut namanya. diapun menempelkan telinganya didepan pintu.
"Kenapa mereka membicarakan aku dibelakang?" gumam Mutiara.
"Hati-hati Mon, sepertinya anak baru yang bernama Mutiara itu memiliki pelet." ucap salah seorang temannya.
"Pelet, masa sih?"
"Ya, kalau tidak. mana mungkin dia yang seorang office girl bisa langsung diangkat menjadi staf."
"Benar juga sih, meski dari awal aku melihat kegigihannya dalam bekerja. tapi aku ngak nyangka dia bisa secepat itu mengambil hati presdir kita yang terkenal dingin terhadap wanita, bahkan yang merekondisinya juga presdir langsung."
"Menurutku itu cuma pemikiran kalian, mana mungkin presdir mengukai gadis seperti dia. kita-kita saja yang jauh lebih cantik dan modern dibandingkan Mutiara tidak diliriknya, apalagi dia. mungkin saja cara kerjanya bagus seperti yang dikatakan Mona, gigih dan rajin."
Mutiara tetap menguping, meskipun sempat membuat telinganya panas dingin. sampai tiga orang cewek cantik itu keluar. barulah Mutiara ikut keluar menuju ruangan presdir.
__ADS_1
"Mati aku, sudah membuat tuan Devan menunggu lama. ini semua gara-gara tiga gadis itu." umpat Mutiara kembali cemas seraya mengelus perutnya.