
"Mutiara, dari mana saja kamu nak. apa yang telah pria itu perbuat padamu, kamu baik-baik saja?" todong bibi Erika dengan berbagai pertanyaan.
"Aku tidak apa-apa bi, dia telah l kembali ke negaranya." balas Mutiara melangkah masuk.
"Apa dia mengetahui tentang anak-anak?"
"Sepertinya belum, dia juga tidak mencari tahu. proritas Devan saat ini hanya ingin mendapatkan aku, atau bisa jadi merupakan salah satu obsesi nya karena bersaing dengan sahabatnya sendiri, Gavin." jelas Mutiara.
"Meskipun begitu, bibi merasa posisi kita tidak aman."
"Dia hanya bisa melacak keberadaan ku karena cincin ini, jika aku melepasnya. semua akan baik-baik saja."
"Tidak mungkin kamu akan membuang benda tersebut."
"Aku tidak akan membuangnya, tapi akan melepas cips yang melekat, dia memasang begitu sempurna bahkan hampir tidak terlihat." balas Mutiara.
"Jika kamu melepaskan cips itu sekarang, Devan akan semakin marah. sebaik tunggu waktu yang tepat." ucap bibi.
"Mami!"
"Mami!"
Reyhina dan Reyhan berlari menghampiri maminya.
"Lihatlah, apa yang mami bawakan untuk kalian!"
__ADS_1
"Makanan lezat!" teriak mereka kesenangan.
"Kenapa kamu terima lagi pemberian pria itu?"
"Reyhan dan Reyhina tidak pernah makan makanan ini, biarlah kali ini mereka menikmati makanan dari ayah kandungnya." balas Mutiara menatap sayang kedua anak-anak nya.
"Semoga kita bisa menghindar darinya."
"Dia, pria yang kuat dan cerdik, sehingga kita perlu langkah dan perencanaan yang benar-benar matang dulu sebelum berfikir untuk melawannya."
****
Di rumahnya, Hendrawan tengah menatap foto putri kesayangannya, Mutiara. rasa bersalah membuatnya ingin bertemu. dia begitu bahagia saat mendapatkan kabar jika Mutiara telah kembali ke tanah air.
"Mutiara seperti itu karena kalian berdua, sadarlah atas kesalahan yang sudah kalian perbuat pada putriku." Ucap Hendra.
"Pa, Mutiara pasti akan datang dengan sendirinya. begitu mengetahui jika kamu sudah bangkit dari keterpurukan." ucap Dian.
"Anakku Mutiara tidak seperti itu, dia berbeda dari kalian yang lebih mencintai hartaku."
"Tidak pa, aku dan anakku tidak seperti itu. kami sangat menyayangi mu. buktinya aku masih setia mendampingi mu dalam suka dan duka." dia tidak terima jika dia dikatakan seperti itu.
"Besok aku ingin menemui Mutiara, kalian harus datang dan meminta maaf pada putriku. jika tidak, kalian berdua harus pergi dari rumah ini, karena aku akan membawa Mutiara untuk kembali tinggal bersama ku." ancam Hendrawan.
Wajah Dian dan putri nya Angela langsung berubah pucat, mereka tidak menyangka jika Hendrawan sudah berubah setelah kembali sukses dan lebih memilih putrinya.
__ADS_1
"I...iya pa, kami akan ikut dan meminta maaf pada Mutiara nantinya." balas Dian gugup, karena merasa jika posisinya sudah terancam.
Mutiara yang tengah menikmati pagi yang cerah, kaget begitu melihat sebuah mobil mewah berhenti didepan rumahnya.
"Mutiara, itu mobil siapa?"
"Entahlah bi, mudah-mudahan saja itu bukan Devan. yang kembali datang untuk menjemput ku. bibi cepat amankan anak-anak." bibi Erika dan Mutiara lebih memilih mengintip melalui jendela kaca, lalu menyuruh kedua anak-anak bermain didalam dikamar.
Hendrawan turun, diikuti Dian dan Angela, mereka melangkah menuju pintu masuk. lalu mengetuknya perlahan.
"Mutiara, buka pintunya nak. ini papa yang datang untuk menjemput mu pulang kita." ucap Hendrawan dari balik pintu.
"Papa!"
Rasa sayang dan rindu pada papanya, mengalahkan rasa benci dan kemarahan Mutiara, terutama pada mama tiri Dian dan putri nya Angela.
"Mutiara, bukalah pintu nya nak. bagaimanapun dia adalah papa kandung mu." bujuk bibi Erika.
"Tapi aku masih belum banyak dari menerima dan memaafkan perbuatan Angela dan mama Dian, aku membenci mereka berdua." ucap Mutiara.
"Ini kesempatan kita untuk membalas, paling tidak kamu bisa memperlihatkan keburukan mereka dihadapkan papamu, sehingga dia sadar wanita seperti apa yang sudah dia nikahi selama ini. meskipun menyimpan dendam itu tidak baik, tapi sebagai manusia biasa bibi juga tidak pernah menyukai mereka berdua." ucap bibi Erika.
"Baiklah bibi, aku ingin membuat mereka keluar dari rumah ku sendiri. mereka tidak pantas tinggal dan menikmati harta peninggalan mamaku." Mutiara mengusap air matanya, berjalan menuju pintu.
"Ya nak, jangan takut. bibi akan selalu bersamamu." ucap bibi memberikan semangat.
__ADS_1